Kabar Gembira dan solusi di Tengah Keterpurukan Umat

Kabar Gembira dan solusi di Tengah Keterpurukan Umat

Al-Ustadz Abdul Qodir Abu Fa’izah –hafizhahullah
Roh GentayanganDimana-mana kita telah menyaksikan, mendengar dan mendapatkan berita tertekan atau tertindasnya Islam dan kaum muslimin.

Sebaliknya kaum kafir semakin menunjukkan taring kebuasannya di hadapan kaum muslimin bagaikan singa yang siap menerkam mangsanya.

Islam dan pengikutnya selalu disempitkan geraknyaoleh orang-orang kafir sehingga kebenaran yang akan disuarakan oleh penegak dan pembawa panji kebenaran terpinggirkan, bahkan hampir tenggelam oleh kekuatan kaum kafir dan segala makarnya dalam memadamkan cahaya kebenaran Islam.

Allah –ta’ala– berfirman,

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ (32) هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ (33) [التوبة/32، 33]

“Mereka (kaum kafir) berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan- ucapan) mereka, dan Allah tidak menghendaki, selainmenyempurnakancahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai”. (QS. At-Taubah : 32-33)

Ahli Tafsir Jazirah Arab, Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’diyrahimahullah– berkata,

ونور اللّه: دينه الذي أرسل به الرسل، وأنزل به الكتب، وسماه اللّه نورا، لأنه يستنار به في ظلمات الجهل والأديان الباطلة، فإنه علم بالحق، وعمل بالحق، وما عداه فإنه بضده، فهؤلاء اليهود والنصارى ومن ضاهوه من المشركين، يريدون أن يطفئوا نور اللّه بمجرد أقوالهم، التي ليس عليها دليل أصلا. (انظر : تيسير الكريم الرحمن – ص 335)

“Cahaya Allah adalah agama-Nya yang Dia mengutus para rasul untuk membawanya dan menurunkan kitab-kitab dengannya. Allah menamainya sebagai “cahaya”, karena ia (agama Islam) dijadikan pelita di dalam gelapnya kejahilan dan agama-agama batil. Sebab Islam itu adalah ilmu tentang kebenaran dan pengamalan terhadap kebenaran. Adapun selainnya, maka justru sebaliknya!! Orang-orang Yahudi dan Nasrani (Kristen) serta orang-orang serupa dengan mereka dari kalangan kaum musyrikin, menginginkan untuk memadamkan cahaya (agama) Allah dengan sekedar ucapan-ucapan mereka yang pada asalnya tidak didasari oleh suatu dalil”. [Lihat Taisir Al-Karim Ar-Rahman (hal. 335)]

Orang-orang kafir dengan berbagai macam tipe dan jenisnya, semuanya bersepakat ingin memadamkan cahaya Islam yang dibawa oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– kepada umat manusia.

Upaya memadamkan cahaya Islam, mereka lakukan dengan berbagai macam propaganda busuk yang mengkambinghitamkan Islam, menyudutkan, merendahkan dan menekannya.

Namun semua upaya itu tidaklah berarti di sisi Allah, sebab Dia ingin menyempurnakan cahaya Islam dan memenangkannya di atas segala agama batil!!!

Di dalam ayat ini terdapat busyro (berita gembira) bagi kaum beriman bahwa Islam akan dimenangkan atas semua agama batil. Inilah yang diisyaratkan oleh Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– dalam beberapa hadits yang shohih dari beliau.

Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِىَ الأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا وَإِنَّ أُمَّتِى سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِىَ لِى مِنْهَا

“Sesungguhnya Allah telah menghimpun bumi bagiku. Karenanya, aku melihat bagian-bagian timur dan baratnya. Sesungguhnya umatku, kerajaannya (kekuasaannya) akan mencapai sesuatu yang telah dihimpunkan bagiku dari bumi itu”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Fitan wa Asyrooh As-Sa’ah (no. 2889)]

Mungkin ada diantara kita yang bertanya dalam hati, “Siapa tahu kejayaan itu telah berlalu?”

Jawabnya, “Tidaklah demikian, kejayaan Islam tidaklah berakhir, bahkan akan ada saatnya kejayaan itu kembali di akhir zaman sebagaimana yang akan anda lihat dalam hadits-hadits lainnya di bawah ini”.

Dari A’isyahradhiyallahu anha– berkata, “Aku pernah mendengarkan Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لاَ يَذْهَبُ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ حَتَّى تُعْبَدَ اللاَّتُ وَالْعُزَّى . فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُ لأَظُنُّ حِينَ أَنْزَلَ اللَّهُ (هُوَ الَّذِى أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ) أَنَّ ذَلِكَ تَامًّا قَالَ: إِنَّهُ سَيَكُونُ مِنْ ذَلِكَ مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ رِيحًا طَيِّبَةً فَتَوَفَّى كُلَّ مَنْ فِى قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيَبْقَى مَنْ لاَ خَيْرَ فِيهِ فَيَرْجِعُونَ إِلَى دِينِ آبَائِهِمْ

“Siang dan malam tak akan hilang sampai Laata dan Uzza disembah lagi”. Aku (A’isyah) katakan, “Wahai Rasulullah, sunguh aku kira -saat Allah turunkan ayat (lalu beliau bacakan ayat 32 dari Surah At-Taubah di atas)- bahwa hal itu (yakni, kemenangan Islam) telah sempurna”.

Beliau bersabda, “Sesungguhnya kemenangan itu kelak akan terjadi sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah akan mengutus angin yang harum. Allah pun mewafatkan semua orang yang di dalam hatinya ada keimanan seberat biji sawi. Akhirnya, tersisalah orang-orang yang tak ada kebaikan sama sekali pada dirinya. Lalu mereka kembali kepada kepada agama nenek moyang mereka”. [HR. Muslim dalam Shohih-nya (2907)]

Ulama Negeri Syam, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albaniy rahimahullah– usai membawakan ayat di atas dan sebelum membawakan hadits ini berkata,

تبشرنا هذه الآية الكريمة بأن المستقبل للإسلام بسيطرته و ظهوره و حكمه على الأديان كلها , و قد يظن بعض الناس أن ذلك قد تحقق في عهده صلى الله عليه وسلم و عهد الخلفاء الراشدين و الملوك الصالحين , و ليس كذلك , فالذي تحقق إنما هو جزء من هذا الوعد الصادق (انظر : سلسلة الأحاديث الصحيحة، 1/ 31)

“Ayat yang mulia ini memberikan kabar gembira kepada kita bahwa masa depan Islam dengan berkuasanya Islam, menang dan berhukumnya Islam atas seluruh agama. Terkadang sebagian orang menyangka bahwa hal itu telah terealisasi di zaman beliau -Shallallahu alaihi wa sallam-, zaman Khulafa’ Rosyidin dan raja-raja sholih. Padahal bukanlah demikian halnya!! Kemenangan yang terealisasi hanyalah sebagian dari janji ini”. [Lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (1/31)]

Kejayaan Islam tidaklah terbatas pada zaman Nabi –Shallallahu alaihi wa sallam-, bahkan akan meluas dan merata sampai tak ada tempat dan negeri, kecuali akan dikuasai oleh Islam.

Dari Tamim Ad-Dariyradhiyallahu anhu– berkata,

“Aku telah mendengar Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ ، وَلاَ يَتْرُكُ اللَّهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللَّهُ هَذَا الدِّينَ ، بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ ، عِزًّا يُعِزُّ اللَّهُ بِهِ الإِِسْلاَمَ ، وَذُلاًّ يُذِلُّ اللَّهُ بِهِ الْكُفْرَ.

“Urusan (agama) ini akan mencapai sesuatu yang dicapai oleh malam dan siang. Allah tak akan menyisakan rumah kota dan pedalaman, kecuali Allah akan memasukkan agama ini ke dalamnya dengan kemuliaan orang yang mulia dan dengan kehinaan orang yang hina; kemuliaan yang Allah akan memuliakan dengan Islam dan kehinaan yang akan menghinakan dengannya kekafiran”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/103). Dinilai shohih oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 3)]

Hanya saja kejayaan dan kemenangan tentunya akan diraih oleh kaum muslimin dengan kesabaran, dan usaha keras dari mereka, bukan berpangku tangan dan sekedar berangan-angan. Kaum muslimin harus menguatkan fisik, materi dan iman mereka. Ini yang harus diusahakankan, jangan tergesa-gesa!! Kemenangan bukan hanya sekedar emosi dan semangat belaka!!!

Khobbab bin Al-Arottradhiyallahu anhu– berkata,

أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً (بُرْدَهُ) وَهُوَ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ وَقَدْ لَقِينَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ شِدَّةً فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللهِ أَلَا تَدْعُو اللهَ فَقَعَدَ وَهُوَ مُحْمَرٌّ وَجْهُهُ فَقَالَ لَقَدْ كَانَ مَنْ قَبْلَكُمْ لَيُمْشَطُ بِمِشَاطِ (بِأَمْشَاطِ) الْحَدِيدِ مَا دُونَ عِظَامِهِ مِنْ لَحْمٍ أَوْ عَصَبٍ مَا يَصْرِفُهُ (يَصْرِفُ) ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَيُوضَعُ الْمِنْشَارُ عَلَى مَفْرِقِ رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَيْنِ مَا يَصْرِفُهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ وَلَيُتِمَّنَّ اللهُ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ مَا يَخَافُ إِلَّا اللهَ * زَادَ بَيَانٌ: وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ

“Aku mendatangi Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam-, sedangkan beliau berbantalkan kain selimut, di bawah bayangan Ka’bah. Sungguh kami telah mendapati sikap keras dari kaum musyrikin. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, kenapa anda tak berdoa kepada Allah?” Tiba-tiba beliau duduk, sedang wajahnya memerah seraya bersabda, “Sungguh orang-orang sebelum kalian, dengan sisir besi, disisirilah sesuatu sebelum tulangnya berupa daging atau urat. Hal itu tidaklah memalingkan mereka dari agamanya. Gergaji diletakkan di atas sigaran (belahan) kepalanya, lalu dibelah menjadi dua. Hal itu tidaklah memalingkan mereka dari agamanya. Sungguh Allah akan menyempurnakan urusan (agama) inisampai seorang pengendara akan berjalan dari kotaShon’a menuju Hadhromaut, ia tak takut, kecuali kepada Allah dan serigala atas kambingnya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (3852)]

“Masa depan adalah untuk Islam!! Allah akan menolong agama-Nya dengan kemuliaan orang yang mulia dan kehinaan orang yang hina; suatu kemuliaan yang Allah muliakan dengannya Islam dan kaum muslimin dan suatu kehinaan yang Allah hinakan dengannya kekafiran dan pengikutnya…Hadits-hadits dalam perkara ini adalah mutawatir”. [Lihat Bahjah An-Nazhirin (1/101)]

Para pembaca yang budiman, sambutlah datangnya kemenangan dan kejayaan Islam di akhir zaman dengan kesabaran dan usaha, baik materiil, maupun yang lainnya berupa usaha nyata yang baik menurut syariat.

Dengan kata lain, umat harus kembali kepada prinsip agama dan syariatnya yang suci.

Rasulullah –Shallallahu alaihi wa sallam– bersabda,

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

“Apabila kalian melakukan transaksi “al-inah”(riba) dan kalian sibuk beternak sapi, serta kalian rela (puas) dengan bercocok tanam dan kalian meninggalkan jihad, pastilah Allah menimpakan kehinaan kepada kalian, dan Allah tidak akan melepaskan kehinaan itu dari kalian sebelum kalian kembali ke agama kalian”. [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4825), Ath-Thobraniy dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (3/208/1), dan lainnya. Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Ash-Shohihah (no. 11)]

Di dalam hadits ini terdapat peringatan kaum muslimin bahwa apabila mereka meninggalkan jihad dan ajaran agama, lalu menyibukkan diri dengan dunia, maka kehinaan akan menimpa mereka.

Al-Imam Izzuddin Abu Ibrahim Al-Amir Ash-Shon’aniyrahimahullah– berkata,

وَفِي هَذِهِ الْعِبَارَةُ زَجْرٌ بَالِغٌ وَتَقْرِيعٌ شَدِيدٌ حَتَّى جَعَلَ ذَلِكَ بِمَنْزِلَةِ الرِّدَّةِ وَفِيهِ الْحَثُّ عَلَى الْجِهَادِ. (انظر : سبل السلام – (2 / 58)

“Di dalam ungkapan ini terdapat celaan mendalam dan teguran keras sampai mendudukkan hal seperti kemurtadan. Di dalam hadits ini terdapat dorongan kepada jihad.” [Lihat Subul As-Salam (2/58)]

Jika teguran keras yang terdapat di dalam hadits ini, kita tidak indahkan dan perhatikan dengan baik, maka yakin dan pasti kehinaan, keterpurukan, kemunduran dan kelemahan akan mendera umat ini. Kita sibuk masing-masing memperhatikan kehidupan dunia kita, dan pada gilirannya kesenangan dunia yang indah membuat kita takut mati di jalan Allah demi mempertahankan dan mendakwahkan agama ini.

Al-Imam Syamsul Haqq Al-Azhim Abadiyrahimahullah– berkata,

وسبب هذا الذل والله أعلم أنهم لما تركوا الجهاد في سبيل الله الذي فيه عز الإسلام وإظهاره على كل دين عاملهم الله بنقيضه وهو إنزال الذلة بهم فصاروا يمشون خلف أذناب البقر بعد أن كانوا يركبون على ظهور الخيل التي هي أعز مكان.” (انظر : عون المعبود – (9 / 242)

“Sebab kehinaan ini –Wallahu A’lam- bahwa mereka (kaum muslimin) tatkala meninggalkan jihad di Jalan Allah yang di dalam terdapat kewibawaan Islam dan kejayaannya di atas seluruh agama, maka Allah membalas mereka dengan sebaliknya yakni, dengan diturunkannya kehinaan pada mereka (kaum muslimin). Akhirnya, mereka pun berjalan di belakang ekor-ekor sapi, dimana sebelumnya menunggangi pungggung-punggung kuda yang merupakan tempat termulia.” [Lihat Aun Al-Ma’bud(9/242)]

Ketika kaum muslimin menyelesihi tuntunan agama yang terdapat di dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, maka mereka akan mendapatkan kehinaan. Sebaliknya, siapapun dari kalangan umat ini yang berusaha dengan sungguh-sungguh dan bersabar serta ikhlash dalam berpegang teguh dengan ajaran-ajaran agama, maka pertolongan itu akan turun dari langit.

Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Rojab As-Salamiy Al-Dimasyqiyrahimahullah– berkata,

“ومن أعظم ما حصل به الذل من مخالفة أمر الرسول صلى الله عليه وسلم ترك ما كان عليه من جهاد أعداء الله، فمن سلك سبيل الرسول صلى الله عليه وسلم عز، ومن ترك الجهاد مع قدرته عليه ذل…فمن ترك ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم من الجهاد مع قدرته واشتغل عنه بتحصيل الدنيا من وجوهها المباحة حصل له من الذل فكيف إذا اشتغل عن الجهاد بجمع الدنيا من وجوهها المحرمة؟!” (الحكم الجديرة بالإذاعة – (ص / 40_41)

“Diantara sebab terbesar terjadi dengannya kehinaan, penyelisihan urusan (agama) Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam-, yakni meninggalkan sesuatu yang dahulu dipijaki oleh beliau berupa berjihad melawan musuh-musuh Allah.

Jadi, barangsiapa yang menempuh jalan Rasul -Shallallahu alaihi wa sallam-, maka ia mendapatkan kewibawaan dan kejayaan. Siapapun yang meninggalkan jihad –padahal mampu berjihad-, maka ia akan menjadi hina.

Siapa saja yang meninggalkan sesuatu yang dahulu dipijaki oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- berupa jihad –padahal ia mampu berjihad- dan malah menyibukkan diri (lalai) dari jihad gara-gara mengejar dunia dari arah-arah yang mubah, maka akan terjadi baginya kehinaan. Nah, bagaimana lagi bila seseorang menyibukkan diri (lalai) dari jihad gara-gara mengumpulkan dunia dari arah-arah yang diharamkan.”[Lihat Al-Hikam Al-Jadiroh bi Al-Idza’ah (hal. 40_41) karya Ibnu Rojab Al-Hambaliy, dengan tahqiq Syaikh Abdul Qodir Al-Arna’uth, cet. Dar Al-Ma’mun, 1990]

Sumber: https://abufaizah75.blogspot.co.id/

Iklan

SIKAP SEORANG MUSLIM DALAM MENGHADAPI FITNAH AKHIR ZAMAN

SIKAP SEORANG MUSLIM DALAM MENGHADAPI FITNAH AKHIR ZAMAN

Oleh Al-Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan

menjaga diri dari fitnahKita hidup di zaman fitnah yang begitu dahsyat melanda kaum muslimin. Bagaikan gelombang yang silih berganti datang menerpa pantai, begitu juga fitnah akhir zaman yang telah disebutkan Rasulullah-shallallahu ‘aliahi wa sallam- .
Betapa tidak, fitnah syubuhat yang meluluh-lantahkan agama seorang muslim, dan fitnah syahawat yang menjerumuskannya ke dalam kubangan maksiat…begitu dahsyatnya menyambar-nyambar dan akan menjungkir balikkannya …seandainya Allah tidak menjaga dan memeliharanya.

Zubair bin Adi, dia berkata:”kami datang menemui Anas bin malik mengadukan penderitaan yang kami dapati dari perlakuan Alhajjaj, maka beliau berkata:
اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُمْ سَمِعْتُهُ مِنْ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.رواه البخاري
Sabarlah, sesungguhnya tidak akan datang pada kalian suatu zaman kecuali yang berikutnya lebih buruk dari yang sebelumnya hingga kalian bertemu dengan Rabb kalian, begitu yang kudengar dari Nabi Kalian-shallallahu ‘alaihi wa sallam.HR. Bukhari.

Makna fitnah
Fitnah secara bahasa artinya adalah ujian, di dalam Alquran, kata finah mengandung beberapa maknya, antara lain:
1. Syirik, Allah berfirman:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ
Dan perangilah mereka hingga tidak ada lagi fitnah(kesyirikan) dan agama seluruhnya menjadi milik Allah. QS. Al-anfal: 39

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ
Mereka bertanya padamu tentang bulan haram, apa hukum berperang padanya, katakan: berperang padanya adalah perkara besar, sementara menghalangi(manusia) dari jalan Allah dan kufur padanya dan menghalangi (manusia) dari masjidil haram dan mengusir penduduknya darinya lebih besar di sisi Allah, dan fitnah(kekafiran) itu lebih besar dari memerangi mereka.QS: Albaqarah: 217.
2. Bermakna: siksaan, Allah berfirman:
ذُوقُوا فِتْنَتَكُمْ هَذَا الَّذِي كُنْتُمْ بِهِ تَسْتَعْجِلُونَ
maka rasakanlah siksaan kalian, inilah yang dahulu kalian minta menyegerakannya. QS.az-Zariyat: 14.
إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ
Sesungguhnya orang-orang yang menyiksa kaum mukminin dan mukminat kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab neraka jahannam dan bagi mereka azab yang membakar. QS: al-buruj: 10.
3. Bermakna ujian, Allah berfirman:
وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً
Dan kami akan menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai bentuk fitnah(ujian). QS: Al- Anbiya: 35.Allah juga berfirman:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ
Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian adalah fitnah(ujian) QS: at Taghabun:15.
4. bermakna bencana dan hukuman, Allah berfirman:”
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً
Dan takutlah fitnah(bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim diantara kalian saja secara khusus.QS.Al-Anfal:25.
5. Menghalangi manusia dari jalan Allah. Allah berfirman:

Hadis-hadis Nabi tentang munculnya fitnah akhir zaman
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ بَيْنَ يَدَيْ السَّاعَةِ لَأَيَّامًا يَنْزِلُ فِيهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ فِيهَا الْعِلْمُ وَيَكْثُرُ فِيهَا الْهَرْجُ وَالْهَرْجُ الْقَتْل.رواه البخاري
Sesungguhnya sebelum kedatangan hari kiamat akan ada hari-hari yang turun padanya kejahilan, dan ilmu diangkat, dan akan terjadi banyak alharaj yaitu pembunuhan.HR Bukhari.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” يتقارب الزمان ويقبض العلم وتظهر الفتن ويلقى الشح ويكثر الهرج، وقالوا: ومالهرج يا رسول الله ؟ قال: القتل ” .رواه البخاري
Dari Abu Hurairah-radhiallahu ‘anhu dia berkata: bersabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:” zaman menjadi dekat, ilmu dicabut, dan muncul berbagai fitnah, kekikiran meraja rela dan banyak terjadi alharaj (pembunuhan), mereka bertanya:” apa itu Haraj ya Rasulullah:?beliau menjawab:”yaitu pembunuhan. HR. Bukhari.

Berkata Hudzaifah Ibnul Yaman: Suatu hari Umar bertanya:”
أَيُّكُمْ يَحْفَظُ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْفِتْنَةِ قُلْتُ أَنَا كَمَا قَالَهُ قَالَ إِنَّكَ عَلَيْهِ أَوْ عَلَيْهَا لَجَرِيءٌ قُلْتُ فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَوَلَدِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّوْمُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ وَالنَّهْيُ قَالَ لَيْسَ هَذَا أُرِيدُ وَلَكِنْ الْفِتْنَةُ الَّتِي تَمُوجُ كَمَا يَمُوجُ الْبَحْرُ قَالَ لَيْسَ عَلَيْكَ مِنْهَا بَأْسٌ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ إِنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا قَالَ أَيُكْسَرُ أَمْ يُفْتَحُ قَالَ يُكْسَرُ قَالَ إِذًا لَا يُغْلَقَ أَبَدًا قُلْنَا أَكَانَ عُمَرُ يَعْلَمُ الْبَابَ قَالَ نَعَمْ كَمَا أَنَّ دُونَ الْغَدِ اللَّيْلَةَ إِنِّي حَدَّثْتُهُ بِحَدِيثٍ لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ فَهِبْنَا أَنْ نَسْأَلَ حُذَيْفَةَ فَأَمَرْنَا مَسْرُوقًا فَسَأَلَهُ فَقَالَ الْبَابُ عُمَر.رواه البخاري
adakah diantara kalian yang menghafalkan Hadis Rasulullah tentag fitnah? Hudzaifah berkata: Saya hafal seperti apa yang disebutkan Nabi, Umar menjawab: sungguh kamu berani menjawabnya, bagaimana Beliau bersabda tentang hal itu?Aku menjawab: fitnah seseorang pada keluarga, anak-anak dan tetangganya, akan dapat dihapus dengan sholat, shadaqah dan amar ma’ruf( nahi mungkar) Umar berkata: bukan hal ini yang ku ingginkan, tetapi yang kumaksudkan adalah fitnah yang datang bagaikan gelombang lautan. Berkata hudzaifah: tidak ada masalah bagimu dengan fitnah tersebut- wahai amirul mukminin-, antaramu dan fitnah itu ada pintu yang terkunci. Umar bertanya: apakah kelak pintu itu dirusak atau dibuka, Hudzaifah berkata: tidak, tetapi pintu itu akan dirusak. Umar bertanya:’ sekiranya pintu itu dirusak maka tiadak akan dapat ditutup kembali? Hudzaifah berkata: ya benar.Berkata salah seorang perawi: kami segan bertanya pada Hudzaifah siapa yang dimaksud dengan “pintu “tersebut, maka kami meminta agar Masruq bertanya padanya siapakah yang dimaksudkan dengan pintu itu, maka Masruq bertanya pada Hudzaifah dan ia menjawab bahwa pintu fitnah itu adalah Umar. Kembali Masruq bertanya:apakah Umar mengetahui bahwa dialah pintu fitnah tersebut?dia menjawab: ya, sebagaimana dia mengetahui bahwa sebelum esok akan datang malam terlebih dahulu, karena aku telah memberitakannya dengan hadis yang tidak ada padanya kekeliruan”. HR. Bukhari.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ رَبِّ الْكَعْبَةِ قَالَ دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ جَالِسٌ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ وَالنَّاسُ مُجْتَمِعُونَ عَلَيْهِ فَأَتَيْتُهُمْ فَجَلَسْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَنَزَلْنَا مَنْزِلًا فَمِنَّا مَنْ يُصْلِحُ خِبَاءَهُ وَمِنَّا مَنْ يَنْتَضِلُ وَمِنَّا مَنْ هُوَ فِي جَشَرِهِ إِذْ نَادَى مُنَادِي رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ جَامِعَةً فَاجْتَمَعْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِي أَوَّلِهَا وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلَاءٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ مُهْلِكَتِي ثُمَّ تَنْكَشِفُ وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ هَذِهِ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنْ النَّارِ وَيُدْخَلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّتُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِي يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْهِ وَمَنْ بَايَعَ إِمَامًا فَأَعْطَاهُ صَفْقَةَ يَدِهِ وَثَمَرَةَ قَلْبِهِ فَلْيُطِعْهُ إِنْ اسْتَطَاعَ فَإِنْ جَاءَ آخَرُ يُنَازِعُهُ فَاضْرِبُوا عُنُقَ الْآخَرفَدَنَوْتُ مِنْهُ فَقُلْتُ لَهُ أَنْشُدُكَ اللَّهَ آنْتَ سَمِعْتَ هَذَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَهْوَى إِلَى أُذُنَيْهِ وَقَلْبِهِ بِيَدَيْهِ وَقَالَ سَمِعَتْهُ أُذُنَايَ وَوَعَاهُ قَلْبِي فَقُلْتُ لَهُ هَذَا ابْنُ عَمِّكَ مُعَاوِيَةُ يَأْمُرُنَا أَنْ نَأْكُلَ أَمْوَالَنَا بَيْنَنَا بِالْبَاطِلِ وَنَقْتُلَ أَنْفُسَنَا وَاللَّهُ يَقُولُ{ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا }قَالَ فَسَكَتَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ أَطِعْهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَاعْصِهِ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ .رواه مسلم
Dari Abdurrahman bin Abd Rabbil ka bah, dia berkata: aku masuk ke dalam sebuah masjid, tiba-tiba kudapati Abdullah bi Amr bin al-Ash sedang duduk di bawah naungan Ka’bah ditengah tengah kerumunan manusia yang mengintarinya, maka aku pergi mendatangi mereka dan aku duduk mendekatinya, maka dia berkata: Dahulu kami pernah bersama Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam suatu perjalanan, kamipun singgah di suatu tempat. Diantara kami ada yang memperbaiki tendanya dan ada juga yang berlatih memanah dan ada juga yang mengembalakan hewan tunggangannya, tiba-tiba dikumandangakan seruan oleh muazzin Rasulillah agar berkumpul untuk shalat, maka kami segera berkumpul bersama Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-selepas itu beliau bersabda: sesungguhnya tidak pernah ada Nabi sebelumku kecuali wajib atasnya untuk memberitahukan umatnya atas segala kebaikan yang dia ketahui untuk mereka, dan memperingatkan mereka dengan segala keburukan yang dia ketahui untuk mereka, dan sesungguhya umat kalian ini dijadikan keselamatannya pada generasi awalnya dan akan datang menimpa generasi akhir uamt ini bencana dan perkara-perkara yang kalian ingkari.Akan datang fitnah yang saling melemahkan satu dengan yang lainnya..akan datang fitnah sehingga berkata seorang mukmin:” inilah fitnah yang membinasakanku, kemudian fitnah tersebut hilang…kemudian dia datang kembali sehingga berkata seorang mukmin: mungkin inilah..inilah (yang membinasakanku. Maka barang siapa yang ingin dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga…maka hendaklah dia mati tatkala ajal menjemputnya dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan hendaklah dia mendatangi (mempergauli)manusia dengan baik sebagaimana yang dia ingginkan agar manusia berbuat yang serupa padanya, maka barang siapa yang telah membaiat seorang pemimpin dan memberikan padanya uluran tangan dan buah hatinya, maka hendaklah dia mematuhinya semampunya, jika ada yang lain inggin merebut kekuasaan darinya maka hendaklah kalian memenggal leher (memerangi) orang yang memberontak tersebut.Kemudia aku mendekatinya dan bertanya: aku bersumpah demi Allah,benarkah anda mendengarnya langsung dari Rasulullah? Maka dia menunjuk ke telinga dan dadanya sembari berkata: kedua telingku ini benar-benar mendengarnya dan hatiku memahaminya. Kemudian aku berkata padanya: lihatlah ini anak pamanmu Muawiyah dia memerintahkan kami untuk memakan harta antara kami dengan batil dan saling membunuh diri kami, padahal Allah berfirman:”Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian memakan har-harta kalian diantara kalian dengan jalan yang bati kecuali dengan jual dengan keridhoan antara kalian dan janganlah kalian bunuh diri-diri kalian sesungguhnya Allah begitu sayangnya terhadap kalian. Maka Abdullah diam beberapa saat dan kemudian berkata: taatilah dia dalam ketaatan kepada Allah dan jangan patuhi dia dalam maksiat kepada Allah. HR. Muslim.

Sikap seorang muslim dalam menghadapai fitnah

Pertama: menimba ilmu
Fitnah akhir zaman begitu dahsyatnya, maka seorang mukmin tidak akan mampu menghadapinya kecuali dengan kekuatan ilmu dan persiapan matang menghadapinya. Kisah pemuda yang selamat dari fitnah Dajjal tatkala inggin membinasakannya adalah contoh suri tauladan bagi kita bahwa ilmu tentang sunnah lah yang menyelamatkannya.
Ibnu Majah meriwayatkan dengan jalannya dari Abu Umamah Albahili, dia berkata:Suatu hari Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam- berpidato kepada kami dan beliau banyak menceritakan perihal Dajjal dan mengingatkan kami darinya, dan diantara perkataanya:
إِنَّهُ لَمْ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الْأَرْضِ مُنْذُ ذَرَأَ اللَّهُ ذُرِّيَّةَ آدَمَ أَعْظَمَ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ وَإِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا إِلَّا حَذَّرَ أُمَّتَهُ الدَّجَّالَ وَأَنَا آخِرُ الْأَنْبِيَاءِ وَأَنْتُمْ آخِرُ الْأُمَمِ وَهُوَ خَارِجٌ فِيكُمْ لَا مَحَالَةَ وَإِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا بَيْنَ ظَهْرَانَيْكُمْ فَأَنَا حَجِيجٌ لِكُلِّ مُسْلِمٍ وَإِنْ يَخْرُجْ مِنْ بَعْدِي فَكُلُّ امْرِئٍ حَجِيجُ نَفْسِهِ وَاللَّهُ خَلِيفَتِي عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَإِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ خَلَّةٍ بَيْنَ الشَّامِ وَالْعِرَاقِ فَيَعِيثُ يَمِينًا وَيَعِيثُ شِمَالًا يَا عِبَادَ اللَّهِ فَاثْبُتُوا فَإِنِّي سَأَصِفُهُ لَكُمْ صِفَةً لَمْ يَصِفْهَا إِيَّاهُ نَبِيٌّ قَبْلِي إِنَّهُ يَبْدَأُ فَيَقُولُ أَنَا نَبِيٌّ وَلَا نَبِيَّ بَعْدِي ثُمَّ يُثَنِّي فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ وَلَا تَرَوْنَ رَبَّكُمْ حَتَّى تَمُوتُوا وَإِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَإِنَّهُ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ أَوْ غَيْرِ كَاتِبٍ وَإِنَّ مِنْ فِتْنَتِهِ أَنَّ مَعَهُ جَنَّةً وَنَارًا فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ فَمَنْ ابْتُلِيَ بِنَارِهِ فَلْيَسْتَغِثْ بِاللَّهِ وَلْيَقْرَأْ فَوَاتِحَ الْكَهْفِ فَتَكُونَ عَلَيْهِ بَرْدًا وَسَلَامًا كَمَا كَانَتْ النَّارُ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِنَّ مِنْ فِتْنَتِهِ أَنْ يَقُولَ لِأَعْرَابِيٍّ أَرَأَيْتَ إِنْ بَعَثْتُ لَكَ أَبَاكَ وَأُمَّكَ أَتَشْهَدُ أَنِّي رَبُّكَ فَيَقُولُ نَعَمْ فَيَتَمَثَّلُ لَهُ شَيْطَانَانِ فِي صُورَةِ أَبِيهِ وَأُمِّهِ فَيَقُولَانِ يَا بُنَيَّ اتَّبِعْهُ فَإِنَّهُ رَبُّكَ وَإِنَّ مِنْ فِتْنَتِهِ أَنْ يُسَلَّطَ عَلَى نَفْسٍ وَاحِدَةٍ فَيَقْتُلَهَا وَيَنْشُرَهَا بِالْمِنْشَارِ حَتَّى يُلْقَى شِقَّتَيْنِ ثُمَّ يَقُولَ انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا فَإِنِّي أَبْعَثُهُ الْآنَ ثُمَّ يَزْعُمُ أَنَّ لَهُ رَبًّا غَيْرِي فَيَبْعَثُهُ اللَّهُ وَيَقُولُ لَهُ الْخَبِيثُ مَنْ رَبُّكَ فَيَقُولُ رَبِّيَ اللَّهُ وَأَنْتَ عَدُوُّ اللَّهِ أَنْتَ الدَّجَّالُ وَاللَّهِ مَا كُنْتُ بَعْدُ أَشَدَّ بَصِيرَةً بِكَ مِنِّي الْيَوْم.رواه ابن ماجه

Sesungguhnya tidak ada fitnah di bumi sejak Allah sebarkan keturunan Adam yang lebih dahsyat dari fitnah Dajjal, dan sesungguhnya Allah tidaklah mengutus seorang Nabipn kecuali memperingatkan ummatnya tentang Dajjal, dan aku adalah Nabi terakhir dan kalianlah umat terakhir, dan dia(Dajjal) akan keluar di masa kalian secara pasti, seandainya dia keluar diantara kalian sekarang maka aku aku akan menjadi pembela setiap muslim, tetapi jika dia keluar setelahku maka tiap muslim hendaklah membentengi dirinya masing-masing dan Allahlah penggantiku atas tiap muslim, dan sesungguhnya dia akan keluar dari sebuah tempat antara Syam dan Irak dan dia akan berjalan ke kiri dan kekanan, wahai hamba Allah hendaklah kalian tegar, sesungguhnya aku akan menceritakan pada kalian cirri-cirinya yang tidak pernah disebutkan oleh Nabi sebelumku. Dia akan mulai dengan mengklaim bahwa dirinya adalah Nabi-padahal tiada nabi setelahku-kemudian dakwaannya meningkat dengan mengatakan: akulah Tuhan kalian-padahal kalian tidak akan pernah melihat Tuhan kalian hingga kalian wafat- dan sesungguhnya ia(Dajjal) bermata picak-sementara Tuhan kalian tidak bermata picak dan sesungguhnya tertulis diantara kedua matanya “kafir” yang dapat dibaca oleh setiap orang mukmin baik yang dapat menulis ataupun tidak dapat menulis. Dan sesungguhnya diantara fitnahnya bahwa bersamanya ada surga dan neraka, sebenarnya nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka, maka barang siapa yang diuji untuk masuk ke nerakanya hendaklah beristighatsah memohon bantuan Allah dan membaca awal dari surat Al-Kahfi, maka api tersebut akan menjadi dingin dan penuh keselamatan sebagaimana yang terjadi pada Ibrahim. Dan diatara fitnahnya bahwa dia akan berkata pada seorang Arab badui: bagaimana jika kuhidupkan kembali ayah dan ibumu, apakah engkau yakin bahwa aku adalah tuhanmu? Dia menjawab; ya, maka dua syetan merubah wujudnya meniru bentuk kedua orang tuanya, ayah dan ibunya dan keduanya berkata padanya: wahai anakku ikutilah dia sesungguhnya dia adalah Rabmu. Dan diantara fitnahnya adalah dia diberikan kekuasaan untuk menaklukkan seseorang, maka dajjal membunuhnya dan memisahkan tubuhnya menjadi dua potongan kemudian berkata:”lihatlah pada hambaku ini sesungguhnya aku sekarang akan kembali membangkitkannya, sementara dia menganggap ada tuhan selainku, maka Allah membangkitkannya dan berkata Dajjal- yang keji- siapa tuhanmu dia menjawab : Rabku adalah Allah dan kamu adalah musuh Allah, engkaulah Dajjal, dan demi Allah aku semangkin jelas hari ini bahwa engkaulah dia. HR. Ibnu Majah.

Dalam Al-Mustadrak, imam Al-Hakim meriwayatkan:
فقال له الدجال : ما شأنك ؟ فقال العبد المؤمن : أنت الدجال الكذاب الذي أنذرناك رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قال له الدجال : أنت تقول هذا ؟ قال : نعم ، قال له الدجال : لتطيعني فيما أمرتك وإلا شققتك شقتين ، فنادى العبد المؤمن فقال : أيها الناس ، هذا المسيح الكذاب فمن عصاه فهو في الجنة ، ومن أطاعه فهو في النار ، فقال له الدجال : والذي أحلف به لتطيعني أو لأشقنك شقتين ، فنادى العبد المؤمن فقال : أيها الناس هذا المسيح الكذاب فمن عصاه فهو في الجنة ، ومن أطاعه فهو في النار ، قال : فمد برجله فوضع حديدته على عجب (5) ذنبه (6) فشقه شقتين ، فلما فعل به ذلك ، قال الدجال لأوليائه : أرأيتم إن أحييت هذا لكم ألستم تعلمون أني ربكم ؟ قالوا : بلى » – قال عطية : فحدثني أبو سعيد الخدري أن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال : – « فضرب إحدى شقيه (7) أو الصعيد عنده ، فاستوى قائما ، فلما رآه أولياؤه صدقوه وأيقنوا أنه ربهم وأجابوه واتبعوه ، قال الدجال للعبد المؤمن : ألا تؤمن بي ؟ قال له المؤمن : لأنا الآن أشد فيك بصيرة من قبل ، ثم نادى في الناس ألا إن هذا المسيح الكذاب فمن أطاعه فهو في النار ، ومن عصاه فهو في الجنة ، فقال الدجال : والذي أحلف به لتطيعني أو لأذبحنك أو لألقينك في النار ، فقال له المؤمن : والله لا أطيعك أبدا ، فأمر به فاضطجع » – قال : فقال لي أبو سعيد : إن نبي الله صلى الله عليه وسلم قال : – « ثم جعل صفيحتين من نحاس بين تراقيه (8) ورقبته » – قال : وقال أبو سعيد : ما كنت أدري ما النحاس قبل يومئذ – « فذهب ليذبحه ، فلم يستطع ولم يسلط عليه بعد قتله إياه ».رواه الحاكم.

Maka Dajjal berkata padanya: ada apa denganmu?Hamba mukmin tersebut berkata: engkaulah Dajjal sang pendusta yang telah diberitakan Nabi-shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada kami. Dajjal berkata padanya: apakah engkau mengatakan ini? Dia menjawab: ya, Dajjal berkata,-demi Dia yang aku bersumpah dengannya- hendaklah engkau patuhi aku, atau jika tidak aku akan membelahmu jadi dua potongan, maka hamba tersebut berkata: wahai manusia inilah almasih sang pendusta, barang siapa yang menentangnya maka dia di surga, adapun yang mematuhinya maka dia di neraka. Dajjal mengulurkan kakinya dan meletakkan pisaunya di bagian belakang bokong pemuda itu dan membelahnya menjadi dua potongan, setelah melakukan hal itu dia bertanya pada para pengikutnya: bagaimana pendapat kalian seandainya aku hidupkan kembali pemuda ini,apakah kalian meyakini aku adalah Tuhan kalian?mereka menjawab: ya.
BerkataAthiyyah: Abu Said alkhudri menceritakan bahwa Nabi bersabda: maka dia memukulkan satu bagian dari potongan tubuh pemuda tersebut, atau memukulkan tanah, seketika dia bangun. Melihat hal itu maka pata pengikutnya semangkin yakin dia adalah Tuhan mereka, maka mereka memenuhi seruannya dan mematuhinya

Kedua: memperbanyak doa
Doa adalah senjata yang manjur dalam menghadapi fitnah maupun ketika fitnah. Betapa butuhnya seorang hamba untuk senantiasa bermohon kepada Rabnya agar dijaga dari fitnah. Jangankan kita sebagai orang biasa, Rasulullah sendiri –yang senantiasa diperkuat dengan wahyu-tetap berdoa agar dijauhkan diri dari fitnah.

Berkata Anas bin Malik:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ آمَنَّا بِكَ وَبِمَا جِئْتَ بِهِ فَهَلْ تَخَافُ عَلَيْنَا قَالَ نَعَمْ إِنَّ الْقُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ.رواه الترمذي

Adalah Rasulullah-shallalhu ‘alaihi wa sallam –senantiasa berdoa:”Wahai Zat yang membolak-balikkan hati tetapkan hati kami di atas agamamu. Aku bertanya:wahai Rasulullah apakah anda khawatir dengan kami? Dia menjawab: ya, sesungguhnya hati-hati ini diantara jari-jemamari Allah dan dia berkuasa membolak-balikkannya sebagaimana yang dia kehendaki. HR. Tirmizi.

Doa agar diwafatkan sebelum kedatangan fitnah
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَإِذَا أَرَدْتَ بِعِبَادِكَ فِتْنَةً فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ.رواه الترمذي وأحمد
Ya Allah..sesungguhnya Aku bermohon padamu agar dapat melakukan kebaikan-kebaikan dan meninggalkan keungkaran-kemungkaran, agar aku mencintai orang-orang miskim,dansenadianya Engkau inggin menurunkan pada hamba-hambamu Mu fitnah, maka cabutlah nyawaku dalam keadaan tidak terfitnah. HR. Tirmizi dan Ahmad.

Ketiga:membentengi diri dengan iman dan tauhid
Ketika Rasulullah menjelaskan tentang fitnah Dajjal, beliau menyebutkan:
مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَفَرَ يُهَجَّاهُ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ أُمِّيٍّ

Tertulis diantara dua matanya” ka-fa-ra (kafir) “ akan dapat dibaca oleh setiap orang beriman dari umatku .HR. Ahmad.

Jikalah iman begitu besar perannya dalam menghadapi fitnah Dajjal yang merupakan fitnah terbesar yang pernah Allah ciptakan, maka tentu segala fitnah lain yang masih di bawah fitnah Dajjal akan dapat diketahui seorang mukmin dengan iman yang menghujam dalam dadanya.

Dalam hadis Amr bin Ash yang telah disebutkan di atas:
وَتَجِيءُ فِتْنَةٌ فَيُرَقِّقُ بَعْضُهَا بَعْضًا وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ مُهْلِكَتِي ثُمَّ تَنْكَشِفُ وَتَجِيءُ الْفِتْنَةُ فَيَقُولُ الْمُؤْمِنُ هَذِهِ هَذِهِ.رواه مسلم
“Akan datang fitnah sehingga berkata seorang mukmin:” inilah fitnah yang membinasakanku, kemudian fitnah tersebut hilang…kemudian dia datang kembali sehingga berkata seorang mukmin: mungkin inilah..inilah” (yang membinasakanku).HR.Muslim.

Jadi yang dapat menyelamatkan seseorang dari fitnah adalah imamnya yang benar..sebagaimana dalam hadis di atas, seorang mukmin senantiasa bersiap-siap menghadapi ftnah dan khawatir binasa karenanya. Tentunya iman yang dapat menjadi perisai serang mukmin adalah iman yang benar, akidah tauhid yang diajarkan Rasulullah.

Keempat: melaksanakan misi dakwah para Nabi
Sebagaimana dalam hadis Abdullah bin Amr bin Ash :
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ.رواه مسلم

“Sesungguhnya tidak pernah ada Nabi sebelumku kecuali wajib atasnya untuk memberitahukan umatnya atas segala kebaikan yang dia ketahui untuk mereka, dan memperingatkan mereka dengan segala keburukan yang dia ketahui untuk mereka,”HR. Muslim.

Hadis ini menujukkan bahwa para Nabi diperintahkan untuk menunjuki umatnya segala kebaikan untuk mereka lakukan dan mengajarkan mereka segala bentuk kejelekan untuk dihindari,dan diantara sejumlah keburukan yang disampaikan para Nabi adalah datangnya fitnah akhir zaman bagaikan gelombang lautan yang harus diketahui umat dan faham cara mengantisipasinya.

Adapun misi dakwah Rasulullah yang harus di teruskan oleh para dai adalah apa yang telah dijelaskan oleh Allah-subhanahu wa ta ala- sebelum diciptakannya Nabi Muhammad dan kedua orang tua beliau, dalam doa Nabi Ibrahim tatkala membangun Ka’bah dalam FirmanNya:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Wahai Rabb kami utuslah ditengah-tengah mereka seorang Rasul dari mereka yang membacakan atas mereka ayat-ayatmu dan mengajarkan mereka alkitab dan hikmah serta mensucikan mereka, sesungguhnya Engkau adalah Zat yang Maha perkasa dan Bijaksana.QS: Albaqarah:129.

Adalah Nabi-shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Aku adalah doa Bapakku Ibrahim. Beliaulah yang dimaksudkan Allah dalam firmanNya:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dan Dialah yang telah mengutus pada kaum ummiyyin(yang tidak dapat membaca) salah seorang Rasul dari mereka yang membacakan atas mereka ayat-ayatNya dan mensucikan mereka dan mengajarkan mereka alkitab dan hikmah walaupn sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. QS:Al-Jumu’ah: 2

Dari keterangan di atas maka misi Nabi Muhammad diutus adalah sebagai sosok guru yang mengajari dan mensucikan umat dari segala kesesatan. Maka ilmu yang benar dan amal sholeh adalah penyebab hidayah dan keistiqomahan bagi manusia.

Kelima: menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar
Fitnah dan segala bentuk kejelekan tidak akan dapat diatasi kecuali dengan menjalankan misi para Nabi menjalankan amar ma’ruf dan nahi mungkar melalui proses ta’lim yang melahirkan tazkiyah..kemudian mengamalkan ilmu yang benar dalam proses tarbiyah. Hanya dengan tazkiyah dan tarbiah inilah umat akan selamat dari berbagai gelombang fitnah.
Allah berfirman:
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً

“Dan takutlah fitnah(bencana) yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim diantara kalian saja secara khusus”.QS.Al-Anfal:25.

Dalam sahih Bukahri:
عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ حَدَّثَتْهُ عَنْ أُمِّ حَبِيبَةَ بِنْتِ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُنَّ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا فَزِعًا يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَيْلٌ لِلْعَرَبِ مِنْ شَرٍّ قَدْ اقْتَرَبَ فُتِحَ الْيَوْمَ مِنْ رَدْمِ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مِثْلُ هَذِهِ وَحَلَّقَ بِإِصْبَعِهِ الْإِبْهَامِ وَالَّتِي تَلِيهَا قَالَتْ زَيْنَبُ بِنْتُ جَحْشٍ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَهْلِكُ وَفِينَا الصَّالِحُونَ قَالَ نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ.رواه البخاري

Urwah meriwayatkan dari Zainab binti Abi Salamah, bahwa Ummu Habibah binti Abu Sufyan meriwaytkan dari Zainab binti Jahsy bahwa Rasulullah-shalllallahu ‘alaihi wa salam masuk kedalam rumahnya dalam keadaan ketakutan sambil berkata:Celakah bangsa Arab dengan kejelekan yang mendekat, telah terbuka dari benteng ya’juj dan ma’juj seperti ini-beliau mengisyratkan dengan jari ibu dan telunjuk yang dibulatkan- maka aku(Zainab) bertanya:”apakah kami akan dibinasakan sementara masih ada orang-orang yang sholeh? Beliau menjawab: ya jika kejahatan merajalela.HR.Bukhari.
Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Syu’abul Iman meriwayatkan bahwa ada seseorang yang berkata dihadapan Abu Hurairah:”sesungguhnya seorang yang zalim hanyalah membahayakan dirinya”. Maka Abu Hurairah menjawab: Demi Allah sesungguhnya orang yang zalim akan membahayakan segalanya hingga burung yang terbang diangkasa”.

Allah berfirman:
فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ (116) وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهْلِكَ الْقُرَى بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ (117)

“Seandainya tidak ada dari umat-umat yang sebelum kalian orang-orang yang memiliki keutamaan(para ulama) yang melarang (umat)dari perbuatan kerusakan di bumi, kecuali sebagian kecil saja yang kami selamatkan dari mereka, adapun orang-orang yang zalim maka mereka mengikuti segala kemewahan dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan sesungguhnya Rabmu tidak akan membinasakan suatu negeri selama penduduknya senantiasa memperbaiki.”QS. Huud: 116-117/.
Kata-kata” muslihun”yang maknanya adalah orang-orang yang memperbaiki, menunjukkan bahwa bumi ini hanya akan selamat selama adanya para dai yang memperbaiki masyarakat dengan menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Imam muslim meriwayatkan dari jalur Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda:
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ اللَّهَ اللَّهَ.رواه مسلم والترمذي وأحمد
Tidak akan terjadi kimat hingga kelak tidak ada lagi yang mengatakan: (takutlah pada) Allah(takutlah pada)Allah.HR.Muslim, Tirmizi dan Ahmad.

Maksudnya kiamat tidak akan pernah terjadi hingga kelak di bumi tidak ada lagi orang-orang yang menasehati manusia dan menganjurkan mereka untuk bertakwa pada Allah. Allah berfirman:

Keenam: istiqomah di atas sunnah
Datang seseorang kepada Imam Malik bertanya bahwa dia ingin berihram dari rumahnya yang dekat dengan miqat, maka Imam Malik melarangnya. Dia bertanya: wahai Imam bukankah hanyalah beberap meter saja jaraknya dari Miqat? Imam Malik menjawab: Aku Khawatir kamu terkena fitnah. Dia bertanya fitnah apa wahai Imam? Imam Malik membacakan padanya firman Allah:
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Hendaklah khawatir orang-orang yang menyelisihi perintahnya(Nabi) kelak mereka akan ditimpa fitnah ataupun azab yang pedih. QS: An-Nur: 63
Berkata Imam Az-Zuhri:
السنة سفينة نوح من ركبها نجا

“Sunnah itu bagaikan bahtera Nuh, barang siapa yang menaikinya dia akan selamat”

Allah berfirman:
وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْ وَمَا كَانَ اللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah tidak akan mengazab mereka selama engkau ada pada mereka, dan Allah tidak akan mengazab mereka sementara mereka senantiasa bersistigfar. QS: Al-Anfal:33
Maksud kata-kata “selama engkau ada pada mereka” yaitu selama sunnah beliau ada ditengah kaum muslimin dan diamalkan oleh umatnya. Maka selama sunnah ditegakkan dan ummat ini senantiasa beristighfar, niscaya akan terhindar daripada fitnah yang membinasakan.

Ketujuh: beramal sholeh
Diantara sikap yang dapat menyelamtkan seorang muslim dari fitnah adalah memperbanyak amal sholeh. Sebagaimana yang telah diajarkan Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa sallam-:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا.رواه مسلم

“Bersegeralah beramal sebelum munculnya fitnah yang datang bagaikan potongan-potongan malam yang gelap, seseorang dipagi harinya beriman dan disorenya telah menjadi kafir, atau sorenya masih beriman dan pagi harinya telah menjadi kafir, menjual agamanya dengan gemerlap dunia.HR.Muslim.
عن أم سلمة رضي الله عنها قالت: استيقظ رسول الله ليلة فزعاً يقول:سبحان الله ماذا أنزل الله من الخزائن وماذا أنزل من الفتن ؟ من يوقظ صواحب الحجرات لكي يصلين فرب كاسية في الدنيا عارية في الآخرة “. رواه البخاري

Dari Ummu Salamah-radhiallahu ‘anha, dia berkata:”terjaga Rasulullah saw pada suatu malam dalam keadaan terkejut sembari berkata:”apa yang telah diturunkan Allah dari perbendaharaan dunia, dan apa pula dia yang telah turunkan berupa fitnah-fitnah? Siapa yang akan membangunkan para penghuni rumah(istri-istri Rasulullah) agar mereka sholat malam, berapa banyak orang yang berpakaian di dunia tetapi telanjang pada hari kiamat.HR.Bukhari.

Kedelapan: uzlah menjauhi diri dari fitnah
Dalam kondisi fitnah akhir zaman yang memakan korban dan menumpahkan darah , maka hendaklah seseorang menjauhi fitnah, sebabagaimana yang dilakukan oleh sebagian sahabat seperti ibnu Umar dan lain-lainnya.
Tatkala Dajjal keluar, Nabi-shallallahu alaihi wa sallam-mengajarkan umatnya agar beruzlah menjauh dari fitnah, beliau bersabda:
مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ عَنْهُ فَوَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَأْتِيهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَيَتَّبِعُهُ مِمَّا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ أَوْ لِمَا يَبْعَثُ بِهِ مِنْ الشُّبُهَاتِ.رواه أبو داود

Barang siapa mendengar kedatangan Dajjal maka hendaklah dia menjauh darinya, demi Allah sesungguhnya seseorang akan mendatanginya-sementara dia menganggap dirinya mukmin- akhirnya dia mengikutinya disebabkan berbagai syubuhat yang didatangkannya.HR. Abu Daud.

Dalam hadis lainnya Rasulullah bersabda:
سَتَكُونُ فِتَنٌ الْقَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْقَائِمِ وَالْقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنْ الْمَاشِي وَالْمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنْ السَّاعِي وَمَنْ يُشْرِفْ لَهَا تَسْتَشْرِفْهُ وَمَنْ وَجَدَ مَلْجَأً أَوْ مَعَاذًا فَلْيَعُذْ بِهِ.رواه البخاري

Akan terjadi berbagai fitnah, maka seorang yang duduk dalam perkara itu(tidak ikut) lebih baik dari orang yang berdiri, dan yang berdiri lebih baik dari yang berjalan menyongsongnya, dan yang berjalan masih lebih baik dari yang berlari padanya, barang siapa yang larut padanya akan terjebak, maka barang siapa yang dapat menghindar melarikan diri darinya hendaklah dia lakukan.HR.Bukhari.

Dalam riwayat muslim dengan tambahan:
أَلَا فَإِذَا نَزَلَتْ أَوْ وَقَعَتْ فَمَنْ كَانَ لَهُ إِبِلٌ فَلْيَلْحَقْ بِإِبِلِهِ وَمَنْ كَانَتْ لَهُ غَنَمٌ فَلْيَلْحَقْ بِغَنَمِهِ وَمَنْ كَانَتْ لَهُ أَرْضٌ فَلْيَلْحَقْ بِأَرْضِهِ قَالَ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ إِبِلٌ وَلَا غَنَمٌ وَلَا أَرْضٌ قَالَ يَعْمِدُ إِلَى سَيْفِهِ فَيَدُقُّ عَلَى حَدِّهِ بِحَجَرٍ ثُمَّ لِيَنْجُ إِنْ اسْتَطَاعَ.رواه مسلم
Ketahuilah jika fitnah telah datang maka yang memiliki unta hendaklah membawa untanya menjauh, dan barang siapa yang memiliki kambing-kambing hendaklah menjauh dengan kambing-kambingnya, yang memiliki tanah hendakah mendatanginya. Maka bertanya seorang laki-laki: Wahai Rasulullah, bagaimana sekiranya dia tidak memiliki,kambing ataupun tanah? Rasulullah menjawab: hendaklah dia mendatangi pedangnya dan memukulkan matanya kebatu hingga tumpul kemudian berusaha menyelamatkan diri. HR. Muslim.

Bersabda Rasulullah-shalllahu ‘alaihi wa sallam-:
إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ يَعْنِي بِنَفْسِكَ(زاد ابن ماجة: فعليك خويصة نفسك) وَدَعْ عَنْكَ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ.رواه أبو داود

Jika engkau melihat kekikiran yang diperturutkan dan hawa nafsu yang dijadikan panduan dan dunia yang didahulukan dan tatkala tiap orang bangga dengan pendapatnya, maka hendaklah engkau dengan dirimu (Ibnu Majah menambahkan: hendaklah engkau dengan orang-orang khususmu) dan tinggalkan manusia, sesungguhnya dibelakang kalian akan datang hari-hari sabar, dan kesabaran padanya seperti memegang bara api, bagi orang yang beramal diwaktu itu seperti ganjaran lima puluh orang yang beramal seperti amalannya. HR.Abu Daud.dalam tambahan lainnya Abu Daud meriwayatkan:
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ قَالَ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُم

Wahai Rasulullah sama dengan ganjaran lima puluh orang dari mereka? Beliau bersabada: seperti ganjaran lima puluh orang dari kalian.

Kesembilan: menjauh dari da’i su’u
Da’i su’u adalah para penjaja kesesatan, yang menggiring manusia kepada neraka dengan kendaraan hawa nafsu dan syahawat. Bagaikan para penjaja barang dagangan, mereka tidak pernah jemu menawarkan bid’ah dan khurafat yang dikemas dengan berbagai bungkusan-bungkusan menarik yang menipu.
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ:قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَكُونُ فِتَنٌ عَلَى أَبْوَابِهَا دُعَاةٌ إِلَى النَّارِ فَأَنْ تَمُوتَ وَأَنْتَ عَاضٌّ عَلَى جِذْلِ شَجَرَةٍ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تَتْبَعَ أَحَدًا مِنْهُم.رواه ابن ماجه.

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman dia berkata: bersabda Rasulullah:akan muncul fitnah dan di atas pintu-pintunya ada para penyeru yang mengajak manusia ke neraka, jika engkau mati dalam keadaan menggigit batang pohon , akan lebih baik bagimu daripada mengikuti salah seorang dari mereka.HR. Ibnu Majah

Kesepuluh: kembali pada ulama
Ulama adalah lentera-lentera tatkala manusia dalam kegelapan kejahilan dan syubuhat. Barang siapa yang mengambil pelita ini niscaya akan dapat menerangi dirinya dalam menempuh perjalanan menuju negeri akhirat. Sebaliknya yang menjauh dari mereka bagikan si buta yang berjalan terseok-seok dalam kegelapan malam tanpa pemandu, di jalan yang terjal dan berbatu, di kiri dan kanan ada jurang yang dalam siap menunggu, sementara jalan penuh dengan para penyamun dan binatang buas yang siap menerkam dan merobek-robek dirinya.

Dari Bisyr bin Amru, dia berkata:
شيَّعنا ابن مسعود حين خرج، فنزل في طريق القادسية فدخل بستاناً فقضى حاجته ثم تؤضأ ومسح على جوربيه ثم خرج وإن لحيته ليقطر منها الماء فقلنا له: اعهد إلينا فإن الناس قد وقعوا في الفتن ولا ندري هل نلقاك أم لا، قال: اتقوا الله وأصبروا حتى يستريح بر أو يستراح من فاجر وعليكم بالجماعة فإن الله لا يجمع أمة محمد على ضلالة.

Kami mengikuti Ibnu Mas’ud tatkala dia keluar menuju Qadisiyah,lantas dia masuk ke kebun menunaikan hajatnya, dia berwhudu dan mengusap di atas kaos kakinya, kemudian dia keluar sementara tetesan air wudhu membasahi janggutnya. Kami berkata: berikanlah pada kami wasiat, sebab manusia telah terjebak dalam fitnah dan kami tidak tau apakah bisa bertemu kembali denganmu atau tidak. Beliau berkata: bertakwalah pada Allah dan bersabarlah hingga orang-orang yang baik akan beristirahat(wafat) dari orang jahat atau manusia di istirahatkan dari mereka (dengan mematikan orang yang fasiq), dan hendaklah kalian mengkuti jama’ah sebab Allah tidak akan mengumpulkan ummat Muhammad di atas kesesatan.
Ibnu Alqayyim menyebutkan:
وكنا إذا إشتد بنا الخوف وساءت منا الظنون وضاقت بنا الأرض أتيناه فما هو إلا أن نراه ونسمع كلامه فيذهب ذلك كله عنا “.

Jika kami dalam kondisi takut yang sangat mencemaskan, dengan berbagai prasangka buruk dan dunia menjadi sempit, kami segera mendatangi beliau(IbnuTaimiyah) baru saja melihatnya dan mendengarkan perkataannya, seketika hilanglah segala beban dan derita yang kami rasakan.

Kesebelas: tenang dan tidak tergesa-gesa dalam menghadapi fitnah
Fitnah yang datang terkadang bagaikan gelombang Tsunami yang menggulung, memporak-porandakan manusia, membuat mereka lari terbirit-birit dalam kebingungan dan kalang kabut, tidak tau apa yang harus di lakukan. Terkadang disebabkan kekalutan mereka tewas terinjak-injak, ketabrak kendaraan…dst. Niat hati inggin selmat, ternyata malah menjemput ajalnya disebabkan kalap. Bagaikan orang yang terhanyutkan oleh arus akan berupaya menarik segala yang dapat dijadikan pegangan walaupun rerumputan ataupun sampah.

Orang yang bijak akan senantiasa berfikir jenih dan tidak tergesa-gesa dalam mengambil keputusan tatkala fitnah melanda. Pernah suatu ketika Rasulullah-shallalahu ‘alaihi wa salam- memberikan pujian kepada sahabat Al-Asyaj bin Alqais:
” إن فيك خصلتين يحبهما الله، الحلم والأناة “.

Ada dua perkara yangdicintai Allah terdapat dalam, yaitu sifat lembut dan tenang.

Keduabelas: yakin dengan pertolongan Allah
Segala ujian datangya daripada Allah-ta ‘ala-untuk menguji iman dan ketangguhan hati kita. Dengan ujian derajat keimanan akan naik,ketundukan pada Allah semangkin kuat, dan harap akan pertolonganNya semangkin menentramkan hati. Seorang mukmin sejati yakin Allah pasti akan menolongnya, dan Allah tidak akan pernah mengingkari janji. Allah berfirman:
حَتَّى إِذَا اْسَتيئسَ الرسل وظنوا أنهم قد كذبوا جاءهم نصرنا فنجى من نشاء

Tatkala para Rasul merasa berputus asa dan mereka menganggap mereka di dustakan , maka datanglah pertolongan kami maka akan kami selamatkan siapa-siapa yang kami kehendaki.
Imam Bukhari meriwayatkan bahwa tatkala Khabbab mendatangi Nabi yang sedang bersandar di bawah naungan ka’bah, mengadukan perihal penderitaan yang mereka alami dari kaum musyrikin, maka Khabbab berkata:” wahai Rasulullah mengapa anda tidak segera mendoakan kemenangan untuk kami? Maka Rasulullah duduk dan wajahnya memerah, sembari berkata:
لقد كان من قبلكم ليمشط بأمشاط الحديد ما دون عظمه من لحم أو عصب ما يصرفه ذلك عن دينه ويوضع المنشار على مفرق رأسه فيشق باثنين ما يصرفه ذلك عن دينه، وليتمن الله هذا الأمر حتى يسير الراكب من صنعاء إلى حضرموت ما يخاف إلا الله والذئب على غنمه

Sungguh orang sebelum kalian ada yang digaruk dengan sisir yang terbuat dari besi yang memisahkan dia dari kulit dan tulangnya, namun hal demikian tidak memalingkannya dari agama, ada juga yang digergaji dari atas kepala hingga terbelah menjadi dua bagian namun hal itu tidak juga dapat merubah keyakinan mereka, pasti Allah akan sempurnakan agamanya ini hingga kelak para kafilah berjalan dari Shon’a ke Hadramaut tidak takut pada apapun kecuali pada Allah dan tidak perlu takut srigala yang akan memangsa kambing-kambingnya. Tetapi kalian terlalu tergesa-gesa.HR. Bukhari.

Ketigabelas: berfikir jauh ke depan
Segala tindak-tanduk, sikap dan kebijakan harus benar-benar dipikirkan dipertimbangkan agar tidak berdampak memunculkan fitnah yang lebih besar lagi. Terkadang sesorang diharuskan untuk menyimpan informasi sekalipun benar, khawatir dengan memunculkannya muncul kerusakan yang parah.
Dalam konsep Islam kemungkaran tidak boleh di ingkari jika memunculkan dampak mungkar yang lebih besar. Itulah yang ditempuh oleh para ulama dan para sahabat Nabi-shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berkata Abu Hurairah-radhiallahu ‘anhu:
حفظت من رسول الله صلى الله عليه وسلم وعائين ، أما أحدهما: فبثثته ، وأما الآخر: فلو بثثته لقطع هذا الحلقوم ”

Aku menghafalakan dari Rasulullah-shallallahu-‘alaihi wa sallam- dua kantong ilmu, adapun satu kantong kusebarkan(kepada manusia) adapun kantong lainnya, seandainya aku sebarkan niscaya akan terpotonglah urat leher ini”.

Berkata ulama: Abu Hurairah sengaja menyimpan sebagian hadis agar tidak muncul fitnah(karena salah memahaminya) apalagi setelah bersatunya kaum muslimin di bawah pimpinan khaifah Muawiyah-radhiallahu anhu-.

Contoh lain, adalah pengingkaran Alhasan Bashri terhadap sahabat Nabi Anas bin Malik yang menjawab pertanyaan Hajjaj bin Yusuf Ats-saqafi tentang hukuman yan paling berat pernah Nabi terapkan kepada kaum Uranah yang merampok dan membunuh para pengembala unta zakat setelah mereka diselamatkan Nabi dan diberi jamuan di Madinah dan diobati hingga sembuh.

Dalam Kasus ini Nabi menerapkan hukum potong tangan dan kaki secara bersilang pada mereka,setelah itu mata mereka dicongkel dan ditinggalkan di padang pasir kelaparan hingga mati.
Adapun larangan Alhasan Bashri dikhawatirkan kelak Hajjaj menggunakan hadis tersebut untuk menambah kezalimannya terhadap rakyat dengan menerapkan hukuman serupa.

Keempat belas: bermodal sabar
Sabar adalah modal yang wajib ada dimiliki setiap muslim ketika berhadapan dengan segala fitnah.berkata An-Nu’man bin Basyir:”
“إنه لم يبق من الدنيا إلا بلاء وفتن فأعدوا للبلاء صبراً ”

Sesungguhnya tidaklah bersisa di dunia ini kecuali bencana dan fitnah-fitnah, maka siapkanlah untuk menghadapinya dengan bermodalkan sabar”.
Bersabda Rasulullah-shallallahu ‘alaihi wa salam:”
“إن من ورائكم أيام الصبر، الصابر فيهن كالقابض على الجمر، للعامل فيها أجر خمسين، قالوا: يا رسول الله أجر خمسين منهم أو خمسين منّا ؟ قال: خمسين منكم ”

“Sesungguhnya dibelakang kalian akan datang hari-hari yang penuh dengan ujian kesabaran, orang yang dapat bersabar dimasa itu bagaikan seseorang yang memegang bara api, bagi orang yang beramal si saat itu mendapatkan ganjaran lima puluh kali, mereka bertanya: Wahai Rasulullah,apakah ganjaran limapuluh kali dari orang-orang sepeti mereka atau limapuluh kali ganjaran orang-orang seperti kami(para sahabat)? Nabi menjawab: limapuluh kali dari kalian.”

Kelima belas: tabayyun dalam menerima berita
Dalam zaman fitnah, akan berkembang segala bentuk isu maupun provokasi,maka wajib bagi setiap muslim untuk teliti menerima berita, dengan mengecek kebenarannya, melihat dari mana sumbernya,dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya sekalipun benar adanya-jika dikhwatirkan akan menjadi fitnah.

Allah-ta’ala memerintahkan kita untuk mengecek berita jika datang dari orang yang tidak jelas, apalagi fasiq agar tidak muncul penyesalan dibelakang hari, dalam firmannya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.QS: alhujurat: 6

Penutup
Inilah kiat-kita yang wajib jadi pegangan orang-orang beriman dalam menghadapi fitnah, apaun bentuknya, semoga bermanfaat, wallahu ‘alam. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah pada junjungan kita Nabi Muhammad-shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Materi ini adalah kenang-kenangan dari daurah di ma’had Ihya Sunnah, Tasik Malaya
Batam, Ahad, 01 Desember 2013 /28 Muharram 1435 H

Abu Fairuz Ahmad Ridwan

Sumber : http://www.abufairuz.com/2013/manhaj/sikap-seorang-muslim-dalam-menghadapi-fitnah-akhir-zaman/?wpmp_tp=1

Beginilah Kondisi Umat Islam Saat Ini 2017, Beruntunglah Orang-Orang yang Asing

SRIPOKU.COM — Dalam memahami kondisi umat Islam saat ini Ustadz Hizbullah Ali, Muwajih Rumah Dakwah Indonesia, mengatakan sesungguhnya umat Islam telah terdampar di persimpangan jalan.

Mereka hidup dalam kesengsaraan yang tidak pernah disaksikan oleh sejarah Islam, telah berlalu banyak krisis dan bencana yang silih berganti. Hal ini dikarenakan umat Islam sekarang berada pada kondisi yang lemah dan jauh dari syariat Allah yang kokoh.

Akibatnya kita dapatkan kaum muslimin sekarang kehilangan sebagian negeri atau harta mereka. Mereka hidup dalam keadaan bimbang, keguncangan, ketakutan dan rasa was-was.

Islam datang pada masa jahiliyah dalam keadaan asing, dan telah datang masanya di mana islam saat ini dirasakan asing oleh pemeluknya. Sungguh benar sabda Rasulullah Saw yang artinya,

“Sesungguhnya Islam dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana awalnya, maka thuuba (beruntunglah) orang-orang yang asing” (HR Muslim)

Makna Asing

Definisi asing dalam hadits di atas bukanlah mutlak diberikan bagi seorang yang tampil beda di tengah masyarakatnya. Akan tetapi, asing di sini bermakna seorang muslim yang melaksanakan syariat Islam dengan benar ketika masyarakat melupakannya.

Ketika ia melaksanakannya, masyarakat di sekitarnya mengingkarinya bahkan menentangnya. Makna asing di sini dijelaskan dalam hadits lain bahwasanya mereka adalah, “Orang-orang yang berbuat kebajikan ketika manusia rusak”, dan dalam riwayat lain mereka adalah, “Orang-orang shalih di antara banyaknya orang-orang yang buruk, orang yang menyelisihi mereka lebih banyak dari yang mentaati mereka”

Makna Thuuba

Thuuba dalam hadits di atas ditafsirkan secara berbeda, sebagian ulama menafsirkannya dengan nama pohon di surga, sebagian mengatakan ia adalah kebaikan yang banyak, sebagian mengatakan ia adalah surga.

Sumber : http://palembang.tribunnews.com/2015/09/27/beginilah-kondisi-umat-islam-saat-ini-beruntunglah-orang-orang-yang-asing

13 Kedudukan Shalat dalam Islam

Sholat Jagalah sholatmu

Shalat itu memiliki kedudukan yang mulia. Dalil-dalil yang diutarakan kali ini sudah menunjukkan kedudukan dan muliannya ibadah shalat.

1- Shalat adalah tiang Islam. Islam seseorang tidaklah tegak kecuali dengan shalat.

Dalam hadits Mu’adz disebutkan,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak perkaranya adalah jihad” (HR. Tirmidzi no. 2616. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan). Yang namanya tiang suatu bangunan jika ambruk, maka ambruk pula bangunan tersebut. Sama halnya pula dengan bangunan Islam.

2- Shalat adalah amalan yang pertama kali akan dihisab. Amalan seseorang bisa dinilai baik buruknya dinilai dari shalatnya.

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .

Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala  mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.”

Dalam riwayat lainnya, ”Kemudian zakat akan (diperhitungkan) seperti itu. Kemudian amalan lainnya akan dihisab seperti itu pula.” (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386. Al Hakim mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih dan tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim, penilaian shahih ini disepakati oleh Adz Dzahabi)

3- Perkara terakhir yang hilang dari manusia adalah shalat.

Dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيُنْقَضَنَّ عُرَى الإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوَةً فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِى تَلِيهَا وَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ

Tali ikatan Islam akan putus seutas demi seutas. Setiap kali terputus, manusia bergantung pada tali berikutnya. Yang paling awal terputus adalah hukumnya, dan yang terakhir adalah shalat.” (HR. Ahmad 5: 251. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini jayyid)

Hadits ini jelas menyatakan bahwa ketika tali Islam yang pertama sudah putus dalam diri seseorang, yaitu ia tidak berhukum pada hukum Islam, ia masih bisa disebut Islam. Di sini Nabi tidak mengatakan bahwa ketika tali pertama putus, maka kafirlah ia. Bahkan masih ada tali-tali yang lain hingga yang terakhir adalah shalatnya.

Dari Zaid bin Tsabit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ مَا يَرْفَعُ مِنَ النَّاسِ الأَمَانَةُ وَ آخِرُ مَا يَبْقَى مِنْ دِيْنِهِمْ الصَّلاَةُ

Yang pertama kali diangkat dari diri seseorang adalah amanat dan yang terakhir tersisa adalah shalat.” (HR. Al Hakim At Tirmidzi dan disebutkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Jami’, 2: 353).

4- Shalat adalah akhir wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa di antara wasiat terakhir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Jagalah shalat, jagalah shalat dan budak-budak kalian” (HR. Ahmad 6: 290. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya).

5- Allah memuji orang yang mengerjakan shalat.

Allah Ta’ala berfirman,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا (54) وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا (55)

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya. ” (QS. Maryam: 54-55).

6- Allah mencela orang yang melalaikan dan malas-malasan dalam menunaikan shalat.

Allah Ta’ala berfirman,

فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا

Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59).

Dalam ayat lain disebutkan,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An Nisa’: 142).

7- Rukun Islam yang paling utama setelah dua kalimat syahadat adalah shalat.

Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ

Islam dibangun atas lima perkara, yaitu : (1) bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar untuk diibadahi kecuali Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan-Nya, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) naik haji ke Baitullah (bagi yang mampu, -pen), (5) berpuasa di bulan Ramadhan.”  (HR. Bukhari no. 8 dan Muslim no. 16)

8- Shalat diwajibkan tanpa perantara Jibril ‘alaihis salam. Tetapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang langsung mendapatkan perintah shalat ketika beliau melakukan Isra’ dan Mi’raj.

9- Awalnya shalat diwajibkan sebanyak 50 shalat. Ini menunjukkan bahwa Allah amat menyukai ibadah shalat tersebut. Kemudian Allah memperingan bagi hamba-Nya hingga menjadi 5 waktu dalam sehari semalam. Akan tetapi, tetap saja shalat tersebut dihitung dalam timbangan sebanyak 50 shalat, walaupun dalam amalan hanyalah 5 waktu. Ini sudah menunjukkan mulianya kedudukan shalat.

10- Allah membuka amalan seorang muslim dengan shalat dan mengakhirinya pula dengan shalat. Ini juga yang menunjukkan ditekankannya amalan shalat.

Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ (9)

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya.” (QS. Al Mu’minun: 1-9).

11- Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya untuk memerintahkan keluarga mereka supaya menunaikan shalat.

Allah Ta’ala berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha: 132).

12- Semenjak anak-anak sudah diperintahkan shalat dan boleh dipukul jika tidak shalat pada waktu berumur 10 tahun. Perintah shalat ini tidak ditemukan pada amalan lainnya, sekaligus hal ini menunjukkan mulianya ibadah shalat.

Dari Amr bin Syu’aib, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِى الْمَضَاجِعِ

Perintahkan anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berumur 7 tahun. Pukul mereka jika tidak mengerjakannya ketika mereka berumur 10 tahun. Pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka“. (HR. Abu Daud no. 495. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih).

13- Siapa yang tertidur atau lupa dari shalat, maka hendaklah ia mengqodhonya. Ini sudah menunjukkan kemuliaan shalat lima waktu karena mesti diganti.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا ، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Tidak ada kewajiban baginya selain itu.” (HR. Bukhari no. 597 dan Muslim no. 684).

Dalam riwayat Muslim disebutkan,

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim no. 684). Dimisalkan dengan orang yang tertidur adalah orang yang pingsan selamat tiga hari atau kurang dari itu, maka ia mesti mengqodho shalatnya. Namun jika sudah lebih dari tiga hari, maka tidak ada qodho karena sudah semisal dengan orang gila. Baca artikel Rumaysho.Com: Shalat bagi Orang yang Pingsan.

Hanya Allah yang memberi taufik.

Sumber : https://rumaysho.com/4953-13-kedudukan-shalat-dalam-islam.html

 

Hisab, Pasti Terjadi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Allah l akan datang pada hari kiamat untuk memutuskan hukum di antara para hamba-Nya: siapa yang berhak mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya dan siapa yang berhak mendapatkan kemurkaan dan azab-Nya. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Allah l dalam kitab-Nya yang mulia:
“Tiada yang mereka nanti-nantikan kecuali datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (al-Baqarah: 210)
Di antara urusan yang menakutkan dan mengerikan yang akan terjadi setelah datangnya Allah k adalah dihisabnya amalan setiap hamba selama hidupnya di dunia.

Makna Hisab dan Dalil-Dalilnya
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Nashir ar-Rasyid t berkata, “Maksud hisab menurut syariat adalah dihadapkan dan diingatkannya para hamba terhadap seluruh amalannya yang baik dan yang buruk, sebelum mereka pergi dari Mahsyar, selain sebagian hamba-Nya yang beriman yang diistimewakan oleh Allah l (sehingga masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab). Hal ini benar-benar akan terjadi pada hari kiamat berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’. Oleh karena itu, wajib beriman dengannya dan meyakini terjadinya.” (at-Tanbihatus Saniyah hlm. 231)
Allah l berfirman:
“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan, manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (al-Qiyamah: 13—14)
Allah l juga berfirman:
“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (al-Hijr: 92—93)
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, kecuali ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang pun. (al-Kahfi: 49)
Rasulullah n bersabda:
مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ. قَالَتْ: قُلْتُ: أَلَيْسَ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: {فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا}؟ قَالَ: ذَلِكِ الْعَرْضُ
“Barang siapa yang diperinci dan detail saat dihisab, niscaya dia akan diazab. Aisyah x berkata, ‘Bukankah Allah l berfirman (yang artinya), [Maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah].’ Beliau n bersabda, ‘Itu al-’ardh (yaitu dipampangkan amalan-amalan seorang hamba di hadapannya sehingga dia mengakuinya, kemudian Allah l menutupi kesalahan-kesalahannya)’.” (Muttafaqun alaih dari Aisyah x)

Hisab Orang-Orang yang Beriman
Keadaan orang-orang yang beriman dalam hal ini berbeda-beda sesuai dengan kadar keimanan dan ketakwaannya. Semakin sempurna keimanan dan ketakwaan mereka, maka kadar keimanan yang mereka dapatkan di akhirat semakin sempurna. Sebaliknya, semakin berkurang kadar keimanan dan ketakwaan mereka karena kemaksiatan dan kezaliman yang mereka lakukan tatkala hidup di dunia, maka jaminan keamanan mereka di akhirat juga akan berkurang.
Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am: 82)
Keadaan orang-orang yang beriman dalam hal hisab terbagi menjadi tiga golongan.
1. Sebagian orang yang beriman tidak dihisab dan tidak diazab karena kesempurnaan iman mereka.
Rasulullah n memberitakan tentang mereka dalam sabdanya:
فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي: انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ. فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي: هَذِهِ أُمَّتُكَ، وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ
“Aku melihat ke ufuk, di sana ada satu rombongan yang sangat besar. Kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Kemudian diberitahukan kepadaku, ‘Inilah umatmu. Di antara mereka ada 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab’.”
Kemudian Rasulullah n menjelaskan ciri-ciri mereka,
هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta di-kai, tidak meramalkan nasib dengan burung, dan hanya kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Abbas c)

2. Sebagian orang yang beriman dihisab dengan hisab yang mudah.
Firman-Nya:
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan hisab yang mudah.” (al-Insyiqaq: 7—8)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ
“Sesungguhnya Allah l akan mendekatkan seorang hamba mukmin, kemudian menempatkannya di samping-Nya. Allah l menutupinya (dari para hamba yang lain) kemudian bertanya, ‘Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengetahui dosa ini?’, Hamba tersebut menjawab, ‘Benar, wahai Rabbku.’ Sampai Allah l menjadikan hamba tersebut mengakui dosa-dosanya dan dia yakin bahwa dirinya akan binasa, lalu Dia l berkata, ‘Aku telah menutupinya tatkala kamu hidup di dunia dan Aku akan mengampuninya pada hari ini untuk kebaikanmu.’ Kemudian dia diberi kitab catatan amalan kebaikannya.” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Umar c)

3. Sebagian orang yang beriman lainnya diperinci dan dipersulit hisabnya sesuai dengan dosanya.
Mereka kemudian diazab di neraka akibat dosa-dosa yang Allah l tidak mengampuninya karena keadilan-Nya, namun mereka tidak kekal di dalamnya.
Rasulullah n bersabda:
لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ إِلَّا هَلَكَ
“Tidaklah seorang pun yang dihisab (dengan hisab yang rinci dan detail) nanti pada hari kiamat melainkan akan binasa.” (Muttafaqun alaih dari Aisyah x)

Kisah Tiga Orang yang Binasa dan Celaka karena Hisabnya yang Sulit
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda,
“Sesungguhnya golongan pertama yang akan diputuskan hukumnya pada hari kiamat nanti adalah: Pertama, seorang yang dipersaksikan mati syahid. Didatangkanlah orang itu, kemudian Allah l mengingatkannya tentang nikmat-nikmat-Nya, sehingga dia mengingatnya, Dia l bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan dengan (nikmat-nikmat tersebut)?’ Dia menjawab, ‘Aku berperang karena-Mu sampai aku mati syahid.’ Dia l berkata, ‘Kamu dusta. Kamu berperang supaya dijuluki sebagai pemberani. Sungguh, julukan tersebut telah diberikan.” Kemudian dia diperintahkan untuk diseret dalam keadaan tertelungkup lalu dilempar ke neraka.
Kedua, orang yang mempelajari ilmu agama dan mengajarkannya, serta membaca al-Qur’an. Didatangkanlah dia. Allah l mengingatkan nikmat-nikmat-Nya sehingga dia pun mengingatnya. Allah l bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan dengannya?’ Dia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu agama dan mengajarkannya. Aku pun membaca al-Qur’an (karena Allah)’. Allah l berkata, ‘Kamu dusta. Kamu belajar supaya dikatakan bahwa kamu seorang alim, dan kamu membaca al-Qur’an supaya dikatakan bahwa kamu adalah qari’ (pembaca al-Qur’an). Sungguh, julukan tersebut telah diberikan.’ Kemudian dia diperintahkan untuk diseret dalam keadaan tertelungkup lalu dilempar ke neraka.
Ketiga, orang yang Allah l melimpahkan hartanya dan mengaruniainya berbagai jenis harta. Orang tersebut didatangkan, lalu Dia l mengingatkan nikmat-nikmat-Nya. Dia pun mengingatnya. Allah l bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan karenanya?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau cintai untuk berinfak padanya, melainkan aku pun berinfak padanya karena-Mu.’ Allah l menjawab, ‘Kamu dusta. Kamu melakukannya supaya dijuluki sebagai orang yang dermawan. Sungguh, julukan tersebut telah dikatakan.” Kemudian dia diperintahkan untuk diseret dalam keadaan telungkup lalu dilempar ke neraka.” (HR. Muslim)

Hisab Orang-Orang Kafir
Orang-orang kafir yang mati dalam keadaan kafir tidak ada harganya dan tidak memiliki hak untuk dihargai. Mereka hina di dunia dan di akhirat karena kekafirannya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (al-Bayyinah: 6)
Allah l menghinakan mereka ketika menghisab amalan-amalannya pada hari kiamat. Allah l memberitakan dalam kitab-Nya:
“Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.” (Fushshilat: 50)
Dia l juga berfirman:
“Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (al-Mulk: 11)
Rasulullah n menjelaskan tentang hisab orang-orang kafir dengan sabdanya,
وَأَمَّا الْكُفَّارُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيُنَادَى بِهِمْ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللهِ
أَلاَ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِيْنَ
“Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafik akan diseru di hadapan seluruh makhluk. Mereka adalah orang-orang yang mendustakan Rabbnya. Ketahuilah, laknat Allah l pasti akan menimpa orang-orang yang zalim.” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Umar c)
Syaikhul Islam t berkata, “Orang-orang kafir tidak akan dihisab sebagaimana hisab orang yang beriman. Orang yang beriman akan ditimbang amalan-amalan baiknya dengan amalan-amalan jeleknya. Orang-orang kafir sudah tidak memiliki kebaikan. Akan tetapi, amalan mereka akan dihitung dan dicatat lalu dihadapkan kepada mereka serta mereka akan mengakuinya.” (al-Aqidah al-Wasithiyah)

Umat Muhammad n, Rombongan Pertama yang Dihisab
Rasulullah n bersabda:
نَحْنُ الْآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِيُّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلَائِقِ
“Kita adalah umat yang terakhir, namun yang pertama diputuskan hukumannya pada hari kiamat sebelum umat-umat lainnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, ini adalah lafadz Muslim)
Al-Imam Ibnu Majah t meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Ibnu Abbas c dari Nabi n bersabda:
نَحْنُ آخِرُ الْأُمَمِ وَأَوَّلُ مَنْ يُحَاسَبُ
“Kita adalah umat yang terakhir dari umat-umat (yang diciptakan di muka bumi) dan yang pertama yang akan dihisab (pada hari kiamat).” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 2374)

Amalan yang Pertama Kali Dihisab
Seluruh amalan hamba, apakah amalan yang baik atau amalan yang jelek, apakah amalan tersebut berkaitan dengan hak-hak Allah l dan Rasul-Nya n atau berkaitan dengan hak orang dan makhluk lainnya—bahkan amalanyang tidak terkait dengan pihak yang lainnya—semua itu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah l. Firman-Nya:
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (at-Takatsur: 8)
Dari Abu Barzah Nadhlah bin ‘Ubaid al-Aslami z berkata, Rasulullah n bersabda,
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan; tentang ilmunya, apa yang dia amalkan; tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada perkara apa dia infakkan (belanjakan); serta tentang badannya, pada perkara apa dia gunakan.” (HR. at-Tirmidzi dan beliau katakan, “Hadits hasan sahih.” Lihat Silsilah ash-Shahihah 2/666)
Meskipun demikian, ada amalan-amalan yang diprioritaskan dan didahulukan hisabnya.
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا، هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ
“Amalan-amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya bagus, niscaya dia akan mendapatkan kebahagiaan dan keberhasilan. Namun, apabila shalatnya rusak, sungguh dia akan kecewa dan rugi. Apabila shalat wajibnya ada suatu kekurangan, Rabb k berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah?’ Lantas, kekurangan shalat wajibnya akan disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya seperti itu.” (HR. at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah z, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib)
Rasulullah n juga bersabda:
أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ

“Masalah yang pertama kali akan diputuskan di antara manusia adalah masalah darah (yang terjadi di antara mereka di dunia).” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Mas’ud z)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t menjelaskan dua hadits yang mulia di atas, “Karena shalat adalah ibadah badan yang paling mulia, sedangkan darah adalah kejahatan yang paling besar yang terkait dengan hak-hak anak Adam.” (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 2/156)
Oleh karena itu, Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab z menasihati kita agar hisab kita menjadi mudah di hadapan Allah l.
“Hitung-hitunglah (amalan-amalan) yang ada pada diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah amalan kalian sebelum kalian ditimbang, karena hal itu akan meringankan hisab kalian besok (pada hari kiamat), yaitu kalian menghitung-hitung (amalan) yang ada pada diri kalian pada hari ini dan menimbang-nimbangnya untuk mempersiapkan diri menghadapi hari waktu dipampangkannya seluruh amalan. (Firman Allah): ‘Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya).’ (al-Haqqah: 18).” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, serta Ibnu Abid Dunya dalam Muhasabatun Nafs)
Akhirnya, penulis mengatakan,
اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيْرًَا
“Ya Allah, hisablah kami dengan hisab yang mudah!”

Sources : http://asysyariah.com/hisab-pasti-terjadi/

APAKAH BEDANYA JIN, SETAN DAN IBLIS..? APAKAH BEDANYA JIN, SETAN DAN IBLIS..?

Penulis : Ust Suparman Fajar,Lc
021-4288 7942 / 7037 4645, 0813 8185 5656
, 0815 11311 554
http://terapi-ruqyah.blogspot.com/


Para pengujung kami yang budiman, mudah-mudahan Allah senantiasa mencurahkan rahmatNYA kepada kita, dan selalu membimbing kita dalam menjalani kehidupan ini, dan semoga allah melingungi kita dari tipu daya setan yang misi mereka adalah menghancurkan aqidah kita.
Dalam tulisan ini kami ingin menjawab beberapa pertanyaan yang sangat sering ditanyakan oleh pengunjung web.klinik ghoib dan pasen-pasen yang datang kekantor atau diseminar-seminar yang diadakan oleh klinik ghoib.
APAKAH BEDANYA JIN, SETAN DAN IBLIS..? …APAKAH MEREKA MAHLUK YANG BERBEDA-BEDA..?
Saudaraku..berikut jawaban ringkas kami semoga bermamfaat
A. JIN
Di dalam Al-Quran Al-Kariem, Allah SWT menyebut beberapa kali kata ‘jin’. Bahkan ada satu surat yang secara khusus membahas tentang jin dan dinamakan dengan surat Al-Jin.

Bila disimpulkan secara sekilas, maka ada hal-hal yang bisa ketahui dari Al-Quran Al-Kariem tentang siapakah sosok jin itu.

1. Jin diciptakan oleh Allah SWT dari api.
Allah SWT menyebutkan bahwa jin itu diciptakan dari api yang sangat panas, juga disebutkan terbuat dari nyala api.

Dan Kami telah menciptakan jin sebelum dari api yang sangat panas.(QS.Al-Hijr : 27)
Dan juga firman allah
dan Dia menciptakan jin dari nyala api.(QS.Ar-Rahman : 15 )

2. Jin ada yang muslim dan ada yang tidak
َDan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang saleh dan di antara kami ada yang tidak demikian halnya. Adalah kami menempuh jalan yang berbeda-beda. (QS.Al-Jin :11 )

Contoh jin muslim adalah jin yang menjadi tentara nabi Sulaiman as
Dan Kami (tundukkan)angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan dan Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebahagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya dengan izin Tuhannya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala.(QS.Saba’ : 12 )

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang seperti kolam dan periuk yang tetap . Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur . Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS. Saba’ : 13)

B. SETAN
Sedangkan Syaitan itu menurut Al-Quran Al-Kariem adalah makhluq yang kerjanya mengajak kepada perbuatan jahat dan keji serta berbohong.

1. Mengajak Kepada Perbuatan Keji
Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.(QS. Al-Baqarah : 169 )

2. Syetan Adalah Musuh Manusia
Dan Allah SWT telah menegaskan bahwa syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS.Al-Baqarah : 208 )

3. Memberi Janji Dan Angan-angan Kosong
Syaitan itu kerjanya memberi janji dan angan-angan kosong kepada manusia

Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. (QS.An-Nisa : 120 )

4. Syaitan Bisa Berujud Manusia
Namun Syaitan itu tidak terbatas pada jenis makhluk halus / jin saja, melainkan manusia pun bisa dikategorikan sebagai syaitan. Dan Al-Quran Al-Kariem pun juga menyebut-nyebut tentang manusia yang menjadi syaitan itu.

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu . Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS.Al-Anam : 112)

Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhan manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia, dari jin dan manusia. (QS.An-Naas : 1-6 )
dengan kata sederhananya setan itu adalah sifat, bisa berwujud jin dan berwujud manusia.

C. IBLIS

Sedangkan Iblis adalah makhluq durhaka yang jenisnya adalah jin, bukan jenis manusia. Al-Quran Al-Kariem secara tegas menyebutkan bahwa Iblis itu adalah dari jenis jin.dengan kata sederhananya setan itu adalah sifat

Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam , maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti bagi orang-orang yang zalim. (QS.Al-Kjahfi : 50)

Jadi bisa disebutkan bahwa Iblis itu adalah seorang oknum yang berjenis jin. Dialah dahulu jin yang paling dekat dengan Allah SWT, lalu berubah menjadi ingkar lantaran tidak mau diperintahkan untuk bersujud kepada Adam, manusia pertama.

Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir. (QS.Al-Baqarah : 34)

Motivasi yang menghalangi si Iblis itu untuk sujud kepada Adam tidak lain adalah rasa kesombongan dan tinggi hati. Dia merasa dirinya jauh lebih baik dari Adam.

Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis “Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah”. (QS.Al-Araf : 12 )

Ciri yang paling utama dari Iblis adalah dia tidak mati-mati sampai hari kiamat. Dan penangguhan usianya itu memang telah diberikan oleh Allah SWT

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” (QS.Al-Araf : 14-15 )

Iblis berkata: “Ya Tuhanku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai kepada hari yang telah ditentukan waktunya “. (QS.Shaad : 79-81 )

Jadi iblis adalah nama seorang jin yang hidup di masa penciptaan Adam as dan tidak mati-mati sampai hari ini. Iblis adalah kakek moyang syetan yang juga punya keturunan, namun keturunannya itu tidak mendapatkan jaminan untuk hidup sampai kiamat. Dan sebagai bangsa jin, ada diantara keturunannya itu yang mati. Meksi barangkali usianya berbeda dengan rata-rata manusia. Tetapi tetap akan mati juga. Kecuali kakek moyang mereka yaitu Iblis. Allahu’alamu bishshawab

Sources : http://majalahghoib.weebly.com/apakah-bedanya-jin-setan-dan-iblis.html