DENGAN CARA ISLAM, DUNIA MUDAH DALAM GENGGAMAN

Posted By: Dinar Rafikhalif on 7:59 AM

Assalamualaikum, bismillah…

Dunia dan akhirat merupakan dua hal yang tidak dapat terpisahkan dan terlupakan dalam siklus kehidupan manusia. Siapa sih yang tidak mau sukses di dunia, dan siapa juga sih yang tidak ingin sukses di akhirat kelak. Mengejar dunia atau mengejar akhirat, mana yang didahulukan harus? Apakah tergantung situasinya? Jika masih muda maka banyak-banyaklah berjuang untuk dunia, sedang ketika usia mulai lanjut maka itulah saat orientasi harus berubah menjadi mengejar akhirat, benar begitu? Hmm… berbicara masalah akhirat, bagi seseorang yang usianya masih tergolong muda seperti saya, saya yakin pasti ada yang menganggapnya kolot, tidak gaul, seperti orang tua saja, dan lain sebagainya. Namun mau tidak mau, justru semakin muda kita mendalami perihal akhirat, masalah agama, kesempatan kita untuk sukses di dunia akan semakin cepat.

Perhatikan sabda Rasulullah berikut.

“Dunia dan akhirat itu umpama rumput dan padi… Tanamlah padi, rumput kan tumbuh jua, tetapi tanam rumput, tak kan tertumbuh padi… Begitulah jua dunia dan akhirat… Kejar akhirat, dunia akan didapat bersama… Kejar dunia, maka hanyalah dunia semata-mata”

Dari hadits tersebut, dapat kita tarik kesimpulan bahwa ketika seseorang bersungguh-sungguh untuk mengejar akhirat maka secara langsung dia pun akan memperoleh kebahagiaan dunia. Sedangkan orang yang hanya mencari kebahagiaan di dunia, maka dia hanya memperoleh dunia saja tanpa kebahagiaan di akhirat. Hal inilah yang nanti akan kita dalami maknanya, serta kita carikan contoh-contohnya sehingga kita menjadi semakin yakin dan istiqomah di jalan Allah SWT.

Banyak di antara anak muda yang menyepelekan masalah agama namun sangat bersungguh-sungguh dalam mengejar nilai A di bangku kuliah. Bagaimana mungkin bisa seseorang yang tiap hari isinya cuman mengkaji Alquran namun bisa mendapat nilai A ketika ujian? Jadi begini… Untuk menjawabnya, memang diperlukan pikiran dan hati yang lapang dan terbuka.

Agama islam, merupakan agama yang sempurna dan mengatur segala aspek kehidupan. Jadi di dalam ajaran agama Islam itu sendiri tentunya terdapat anjuran untuk giat dalam menuntut ilmu pengetahuan. Lebih-lebih ialah Islam memandang ilmu merupakan sesuatu hal yang sangat mulia. Kemuliaan ilmu dipandang Islam lebih mulia daripada harta. Hal itu disebabkan karena:

Pertama, ilmu lebih istimewa dari harta. Sebab ilmu adalah warisan para nabi. Sedangkan harta adalan warisan Qarun, Haman dan Fir’aun.

Kedua, ilmu lebih istimewa dari harta. Sebab ilmu selalu menjagamu, sedangkan harta, engkaulah yang harus menjaganya. Ilmu tidak perlu dijaga, sedangkan hartaminta dijaga.

Ketiga, ilmu lebih istimewa dari harta. Sebab agama itu sendiri akan menjadi buta tanpa adanya ilmu. Tidak mungkin seseorang dapat menemukan keagungan-keagungan ciptaan Allah SWT tanpa adanya ilmu pengetahuan yang digunakan untuk itu.

Sehingga korelasinya adalah seseorang yang memang benar-benar mempelajari dan menjalankan perintah agama tentu tidak akan malas-malasan dalam belajar (menuntut ilmu). Sebab menuntut ilmu adalah perintah agama, siapa yang mengingkari berarti ingkar terhadap perintah Allah SWT. Insya Allah bagi mahasiswa biasanya yang rajin belajar akan mendapat nilai bagus.

Bicara tentang sukses dunia akhirat, tentunya tidak menutup kemungkinan seseorang untuk mengalami yang namanya tidak sukses dunia akhirat. Skenario terburuknya, ketika seseorang mengalami kegagalan di dunia dan kegagalan di akhirat, kira-kira lebih bahaya yang mana?? Kegagalan di dunia, segagal-gagalnya apapun tetap masih akan ada banyak orang yang menolong. Sebab di dalam Islam sendiri mewajibkan untuk saling menolong kepada orang yang berkesulitan, salah satunya ialah kewajiban dalam perintah zakat. Zakat diberikan kepada orang-orang yang mungkin bisa dikatakan kurang beruntung di dunia, sebab mereka pun untuk makan saja sangat sulit.

Namun orang-orang tersebut masih sangat mending jika dibandingkan dengan orang-orang yang gagal di akhirat. Kegagalan di akhirat tidak akan ada yang bisa menolong. Yang ada ialah balasan berupa azab  yang pedih.

Terlepas dari konteks perkuliahan yang sempit, kita keluar melihat dunia luas yang dipenuhi orang-orang yang sukses di dunia karena mereka tekun mengejar akhirat.

Pernah membaca novel Negeri Lima Menara??

Saya yakin jawabannya bisa sudah bisa belum. Dan saya sendiri belum membacanya. Tapi saya tahu sedikit-sedikit kisah hidup langsung (bukan fiksinya) mas Ahmad Fuadi, penulis novel Negeri Lima Menara tersebut. Beliau diminta orang tuanya untuk jadi anak pondokan pesantren. So pasti, tak usah dibahas pun kita semua tahu yang namanya pondok pesantren tentu isinya pendidikan-pendidikan berbau agama yang istiqomah dalam mengejar akhirat. Dan hasilnya, luar biasa. Dunia dalam genggaman mas Ahmad Fuadi. Berbagai beasiswa keliling dunia ia dapatkan. Berbagai penghargaan pun dia raih sebagai penulis best seller. You know lah..

Pernah dengar pakarnya otak kanan bernama mas Ippho Santosa??

Iya saya tahu, jawabannya bisa pernah dengar bisa juga belum pernah. Beliau ini pun merupakan Enterpreneur muda yang sukses di tanah air, sekaligus penulis buku mega best seller, serta seorang motivator yang sudah menyelenggarakan training di berbagai benua loh. Yup, dunia di tangannya. Rahasianya?? Dalam bukunya ia bercerita bahwa semua hasil yang dia raih itu adalah buah dari ibadah yang ia tekuni selama ini. Simpel aja sih sebenarnya, cukup sedekah konsisten, sholat Dhuha dan Tahajud. Tapi yang konsisten lo ya. Katanya, Sholat Duha itu singkatannya “Doanya Pengusaha”. Sedangkan Tahajud singkatan dari “Tau-tau Hajad Terwujud”. Berhubung kekayaannya sudah melimpah ruah, mas Ippho kalau sedekah nominalnya bisa mencapai ratusan juta. Jadi dampaknya ya justru kekayaannya semakin bertambah banyak lagi. Dunia semakin dalam genggaman.

Begitu banyak hal yang ku alami dan ku lalui …

Saat bersama-Mu ku rasa senang tak ku rasa sedih …

Familiar tidak dengan dua syair di atas? Hehe yup itu adalah lirik lagu Noah yang sedikit diplesetkan sehingga bernuansa religi. Siapa sih yang tidak tau Noah sekarang. Dimana-mana muncul, dimana-mana ada Noah. Mulai dari iklan XL, Yamaha, PC Tablet, Kakaotalk, Vaseline, baik itu di TV, spanduk, koran, majalah, atau brosur-brosur yang berserakan di jalanan. Tentunya mereka meraup penghasilan yang luar biasa besarnya dari itu semua, padahal itu adalah honor sampingan mereka sebagai grup band yang honornya sendiri sudah selangit. Noah berhasil menggenggam dunia. Setelah mereka mengalami masa-masa yang gelap dan penuh keterpurukan iman, ternyata selama menunggu si vokalis bebas dari tahanan, beberapa personel Noah yaitu Lukman dan Reza tekun mendalami ilmu agama di daerah Jawa Timur. Mereka tak jarang ikut pengajian-pengajian untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT. Hasilnya ya begini ini sekarang, mereka mencoba mengejar akhirat, ternyata band mereka berhasil menggenggam dunia.

Dan masih ada banyak contoh di luar sana.

Pertanyaannya ialah kok bisa ya dunia itu bisa dikatakan secara otomatis berada dalam genggaman orang-orang yang tekun mengejar akhirat. Entah benar atau tidak saya pribadi me-logika-kan seperti ini. Harap maklum ya kalau tidak tepat.

Islam menganggap dunia itu tidak penting. Benar-benar tidak penting lah pokoknya. Dalam sebuah buku yang pernah saya baca menyebutkan bahwa Allah SWT tidak menganggap dunia itu lebih berharga daripada sayap seekor nyamuk. Ada pula hadits yang menyebutkan bahwa dunia dan akhirat itu ibarat ketika engkau mencelupkan jari telunjukmu ke dalam air se-laut-an kemudian kamu angkat kembali jari telunjukmu itu. Maka sisa air yang menempel pada jari telunjukmu itulah dunia, sedangkan air di lautan itu ialah akhirat. Benar- benar perbandingan sangat kontras.

Untuk itu islam sangat menganjurkan umatnya agar tidak terlena dengan dunia yang hanya secuil itu. Kenikmatan dunia hanya sedikit, sesaat dan fana. Islam menganjurkan umatnya untuk lebih berkonsentrasi kepada urusan akhirat, karena akhirat itu lebih abadi dan kekal dengan segala nikmat-Nya.

Hal itu membuat kaum muslim menganggap dunia itu kecil dan tak perlu terlalu dipusingkan. Lebih baik memusingkan tentang akhirat yang kekal abadi, berintrospeksi dengan diri sendiri apakah semua yang telah dilakukan dapat dipertanggungjawabkan di akhirat nanti. Mereka akan menyibukan diri dengan ibadah-ibadah yang berkaitan dengan akhirat. Akibatnya dunia jadi tercampakan. Dunia jadi dicuekin nih jadinya. Siapapun juga yang merasa dicuekin pasti biasanya akan caper, cari perhatian, bisa dengan mendadak jadi baik hati. Begitu pula dengan dunia, dia pun akhirnya takluk dengan sikap kekeh kaum muslim yang cuek terhadapnya. Akhirnya dunia pun menyerahkan dirinya kepada orang-orang yang teguh mengejar akhirat.

Itu cuma logika gampangnya aja. Kajian yang lebih mendalam mengenai mengejar akhirat dan dunia sebenarnya tidak bisa dilogikakan. Intinya adalah semua karena Allah SWT. Orang yang mengejar akhirat berarti dia mencintai Allah, sehingga Allah pun mencintai orang tersebut. Maka dari itu Allah akan memudahkan urusan-urusan orang itu di dunia.

Terakhir, kita semua sudah tidak asing lagi dengan istilah penjahat berdasi, yang akhir-akhir ini mewabah di negeri ini. Penjahat berdasi, alias para koruptor, ya mereka disebut penjahat karena memang berbuat kejahatan. Sehingga negeri kita ini kini menjadi sangat ironis, kejahatan dilakukan bukan oleh orang-orang liar yang kelaparan di jalan, dan rumah tahanan pun tak hanya terisi oleh tersangka kasus curanmor, namun, penjahat di negeri kita dilakukan oleh orang-orang yang cerdas, oleh sekumpulan orang-orang pandai, berpendidikan dan intelektual yang tinggi, iya korupsi. APA YANG SALAH DENGAN MEREKA?????????? Otak mereka brilian, pendidikan mereka tinggi, jabatan pekerjaan mereka disegani sebagai tempat bersandarnya nasib masyarakat.

Ini adalah masalah akhlak. Ilmu mereka sempurna, namun agama mereka terseok-seok. Jika agama tanpa ilmu ialah buta, maka ilmu tanpa disertai agama ialah bencana. Sebab mereka tak bisa mengguanakan ilmu mereka dengan tuntunan agama yang mulia. Mereka menggunakan ilmu untuk kepentingan nafsu mereka pribadi. Mereka dapatkan gelar, jabatan, tahta, uang yang berlimpah ruah. Namun dengan semua itu apakah mereka telah bisa disebut telah menggenggam dunia?? Dengan kerendahan hati, saya katakan TIDAK!

Justru mereka termasuk orang-orang yang gagal. Mereka gagal dalam mencuekin dunia. Sehingga dunia berhasil menjadi prioritas utama. Hak-hak orang lain mereka ambil untuk kepentingan mereka. Secara akhirat, jelas mereka telah divonis gagal. Sedangkan secara dunia, bagaimana indikatornya?? Meskipun mereka, para koruptor, mendapatkan segala kenikmatan dunia, seakan-akan mereka menggenggam dunia, namun di sisi lain banyak sekali rakyat yang dirugikan, banyak rakyat yang menghujat para koruptor, tidak jarang rakyat yang memberikan sumpah-sumpah untuk keburukan nasib para koruptor sebagai pelampiasan kekecewaan rakyat. Nah, banyak sekali musuh di dunia. Apakah masih bisa disebut menggenggam dunia?? Justru yang ada ialah mereka sedang DIGENGGAM DUNIA. Mereka digenggam oleh kecaman dan hujatan dari sana-sini semasa hidup mereka di dunia. Sungguh itu adalah akibat dari lalai dan meremehkan masalah akhirat.

Kesuksesan, baik itu kesuksesan dunia maupun kesuksesan akhirat, ialah dua hal yang kita inginkan bersama. Ada satu nasihat yang saya peroleh dari Amak (bahasa minangnya ibu) mas Ahmad Fuadi. Bahwa walaupun Ahmad Fuadi kini telah sebegitu sukses kiprahnya di dunia, namun bagi Amaknya, untuk urusan akhirat tidak boleh ada kata puas. Tidak boleh lah seseorang merasa cukup dengan bekal-bekal amalnya untuk menuju akhirat. Tak boleh lah seseorang merasa cukup alim dan sholeh masalah akhirat. Jangan ada kata lelah untuk terus mengejar dan meningkatkan ilmu akhirat. Sedangkan untuk masalah dunia, lihatlah orang-orang yang keadaannya jauh di bawah keadaan kita. Sehingga kita pun menjadi sangat mensyukuri apa pun nikmat yang kita peroleh.

“Untuk akhirat lihatlah ke atas, sedangkankan untuk dunia lihatlah ke bawah” (Ibunda Ahmad Fuadi)

Semoga… semoga… kita semua sangat berharap… kita semua berharap semoga kita terus terjaga keimanan dan ketaqwaan kita, meskipun telah pergi meninggalkan kita sebuah bulan yang sangat mulia, sebuah bulan yang penuh kasih sayang, bulan yang penuh ampunan, bulan yang ketika engkau memohon di dalamnya maka doamu akan terkabul, bulan yang di dalamnya terdapat malam yang yang lebih baik daripada malam seribu bulan, sebuah bulan yang ketika diamnya mulutmu saja pun tlah dihitung sebagai pahala, subhanallah… bulan Ramadhan, pertemukanlah kami denganmu lagi…lengkap dengan orang-orang yang kami sayangi…

Dan dengan terjaganya keimanan dan ketaqwaan kita, maka tidak ada rasa lelah yang menyelimuti untuk tetap tegar dalam mengejar akhirat, hingga kita akan peroleh kesuksesan demi kesuksesan di dunia datang pada diri kita, dan pada akhirnya semua kesuksesan dunia tersebut akan ditutup dengan sebuah kesuksesan yang abadi, yakni kesuksesan akhirat. Aamiin ya Rabbal Alamin.

Sources : http://dinarmagzz.blogspot.com/2013/08/dengan-cara-islam-dunia-mudah-dalam.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s