Mencintai Nabi Muhammad Saw Melalui Sunnahnya

sunnah2

Sunnah menurut bahasa berarti metode, jalan dan tingkah laku; baik atau pun buruk. Al-Hafidz Ibnu Rajab berkata,” Sunnah adalah jalan atau cara yang dijadikan mata rantai tingkah laku, yang mencakup konsistensi dengan apa yang dikerjakan oleh Rasulullah saw sendiri dan juga para pewarisnya dari khulafaur-Rasyidin baik dalam hal berakidah, berbuat dan berkata. Itulah yang disebut dengan sunnah yang sempurna”.

Akhir-akhir ini di kalangan umat Islam terutama kawula mudanya mulai muncul gejala positif untuk menghidupkan kembali sunnah Nabi yang cukup lama dilupakan. Mereka seolah tidak terpuaskan secara bathiniyyah oleh amalan-amalan Islam yang dirasakan mulai mengering dari nilai-nilai ruhiyyahnya. Mereka dengan penuh semangat mengkaji jejak perilaku yang pernah diperagakan oleh Rasulullah saw tanpa dibatasi oleh sekat wajib, sunnah dan makruh. Asalkan pernah dijalankan dalam kehidupan Rasulullah saw, mereka segera berusaha merealisasikan dalam kehidupannya sehari-hari. Mereka misalnya, mulai gemar mengenakan gamis, memelihara jenggot dan mencukur kumis. Dalam adab bergaul, berkomunikasi dan makan pun mereka betul-betul berusaha melakukannya seperti cara Nabi.

Kelihatannya agak aneh memang dan tidak lazim tapi biasanya mereka sudah siap mental untuk menjadi perhatian khalayak. Namun, tidak jarang pula, mereka dipandang sebelah mata oleh tokoh-tokoh yang menganggap dirinya moderat. Mereka dianggap tidak mampu menerjemahkan esensi ajaran Islam. Terjebak pada dimensi formal dalam pemahaman dan praktek Islam zaman Rasulullah.

Sebenarnya, kita tidak perlu memberi komentar-komentar yang tidak berguna, apalagi jika komentar itu bernada miring dan menyindir. Biarkan saudara-saudara kita menghidupkan sunnah Rasulnya sesuai dengan persepsi yang diyakininya. Bukankah perilaku mereka tidak sampai mengganggu ketertiban umum? Malah bisa menimbulkan rasa cinta yang mendalam kepada Rasulullah saw, sehingga untuk selanjutnya diharapkan mereka mampu melaksanakan ajaran Islam secara kaffah.

Di zaman para sahabat, kejadian meniru perilaku Nabi hanya karena rasa cinta, begitu banyak. Salah satunya malah cukup unik, salah seorang sahabat Nabi setiap kali hendak menaiki kendaraannya, baik ada orang atau tidak ada, selalu tersenyum. Ketika sahabat yang lain bertanya tentang kelakuan yang dianggap aneh itu, ia menjawab, “Aku sering melihat Rasulullah setiap akan naik kendaraannya, selalu tersenyum, aku hanya ingin menirunya”. Beberapa waktu sebelumnya, sahabat ini memang kehilangan mutiara yang sangat dicintainya, yakni wafatnya Rasulullah saw.

Walaupun tersenyum setiap akan naik kendaraan bukan merupakan perintah, tetapi sahabat melakukannya juga demi cintanya kepada Rasulullah. Ia ternyata berusaha tidak meremehkan hal-hal kecil yang pernah dilakukan oleh Rasulullah semasa hidupnya. Bukankah Allah sendiri tidak pernah menganggap sepele keberadaan seekor nyamuk sekalipun. “Sesungguhnya Allah tiada merasa malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu sekalipun”.(QS,2:26)

Amalan-amalan sunnah memang terkesan biasa dan sepele tapi ternyata sangat sulit membiasakan diri dengan amalan tersebut. Tidak sesederhana yang dibayangkan. Rasulullah pernah mengatakan bahwa suatu saat orang yang berpegang teguh dengan sunnahku ia bagaikan orang yang memegang bara api. Benar. Pada zaman seperti sekarang ini amalan sunnah sangat mudah ditinggalkan begitu saja oleh sebagian umat Islam. Alasannya, bukankah menurut definisi, sunnah itu ialah amalan yang bila dikerjakan akan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa?, bisikan itu bertambah lengkap bila hati seolah berkata bahwa sekalipun tidak menjalankan amalan sunnah yang penting amalan wajib tidak ditinggalkan.

Keyakinan seperti itu kelihatannya ‘no problem’ namun dampaknya luar biasa berbahaya. Apalagi bila terhadap amalan makruh, kita pun ikut-ikutan meremehkannya. Sehingga di saat ada seseorang yang menegur, misalnya; mengapa anda merokok?. Maka seketika akan keluar berbagai macam alasan dan dalih pembenaran; lho memang kenapa, merokok kan tidak haram! hanya makruh saja. Lagi pula, banyak koq kyai atau ulama yang merokok?
Atau alasan lainnya: waduh kalau saya tidak merokok saya tidak bisa berpikir dengan baik..! Wal’iyadzu Billah.

Bahaya yang bisa timbul dari asumsi seperti di atas ialah pelecehan terhadap amal-amal shaleh yang pernah dilakukan oleh Rasulullah secara istiqamah selama bertahun-tahun. Pelecehan itu berakibat kesombongan dan ketakabburan dari yang bersangkutan. Sementara Nabi Muhammad Saw yang jelas-jelas berkualitas surgawi saja tidak pernah menganggap bahwa amalan wajib saja yang perlu dikerjakan, sedangkan yang sunnah tidak apa-apa ditinggalkan.

Bila seseorang meninggalkan amalan sunnah dan mengerjakan amalan makruh tanpa diikuti suatu komentar bernada melecehkan, maka barangkali Allah masih bisa memaafkannya, tetapi lain jika sudah menganggap enteng, dalam hal ini Allah bisa murka, bukan karena meninggalkan dan menjalankan yang makruh, tetapi karena sikap sombong dan pelecehannya itu.

Padahal bila kita telusuri, kerugian besar akan menimpa bila amalan-amalan sunnah kita tinggalkan dan amalan makruh dilakukan. Bahkan taruhannya iman kita sendiri. Memang meninggalkan amalan sunnah tidak berdosa hukumnya, tetapi bisa saja Rasulullah tidak simpati dengan perilaku kita itu, karena amalan sunnah disebut pula amalan mustahabbah, artinya amal yang dicintai Allah. Seolah-olah bila amal sunnah yang kita kerjakan terbayang Allah tersenyum kepada kita karena dia cinta dan ridha melihatnya. Semakin sering mengerjakan amalan sunnah, semakin sering pula Allah tersenyum cinta kepada kita. Padahal senyum cinta Allah amat kita butuhkan dalam kehidupan kita di dunia ini, dari sanalah limpahan sakinah dan kebahagiaan akan kita dapatkan. Sedangkan murka Allah akibat menganggap enteng amalan-amalan sunnah akan menimbulkan limpahan keresahan jiwa dan kekeringan hati nurani.

Karenanya, amat bijaksana bila kita lebih dahulu mengajak diri sendiri menebarkan sunnah-sunnah Nabi. Sebab dengan begitu peluang kita untuk memperoleh cinta Allah sangat terbuka lebar. “Katakanlah jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad) niscaya Allah akan pula mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.(Q.S ; 3 : 31).
Wallahu a’lam.

 

 

Sources : http://penulis165.esq-news.com/2013/artikel/08/01/mencintai-nabi-melalui-sunnahnya.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s