Hikmah TAWADHU

Oleh : Muhammad A.Saefulloh, MA

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS.Al-Furqon [25] : 63)

Tawadhu adalah sikap rendah hati terhadap sesama manusia dan sikap rendah diri dihadapan Allah swt., sikap ini lahir dari kesadaran akan ke-Mahakuasa-an Allah atas segala hamba-Nya. Tawadhu merupakan sifat yang disadari bahwa apa yang dimiliki, ketampanan, kecantikan, harta, pangkat, ilmu, semuanya adalah karunia Allah swt. Sikap tawadhu ini akan mengangkat derajat seseorang ke yang lebih tinggi, seperti Rasulullah saw sabdakan : “tawadhu, tidak ada yang bertambah bagi seorang hamba kecuali ketinggian (derajat). Karena itu, tawadhulah,niscaya Allah akan meninggikan derajatmu.” (HR.Dailami).

Al-Muhasibi, seorang ulama sufi menjelaskan : Jika seseorang tawadhu didunia berarti dia telah membersihkan hatinya dari sifat sombong. Dia tidak memiliki hasrat untuk populer, sehingga dia selamat dari fitnah dunia dan berbagai macam dosa didalamnya. Dengan tawadhu, seseorang tidak akan tergila-gila dengan dunia, malah dia akan lebih berkonsentrasi kepada Allah. Sementara itu, Ibnu Athaillah mengungkapkan bahwa tawadhu adalah orang yang menerima kebenaran dari orang lain. Sikap tawadhu ini merupakan sikap yang dicontohkan Nabi saw, para sahabat dan para pemimpin umat di masa lampau yang dijadikan contoh oleh para sufi. Pendapatnya ini didasarkan kepada sabda Rasulullah saw :”sesungguhnya Allah swt memberi wahyu kepadaku agar kalian saling merendahkan diri sehingga seseorang tidak melampaui batas terhadap orang lain dan seseorang tidak berbangga atas orang lain.” (HR.Muslim).

—##—

Muhammad A.Saefulloh, MA adalah asatidz Majelis Azzikra dan Kepala Madrasah Aliyah YAPINA alternative Islamic Schools Bojongsari Sawangan Depok Jawa Barat. Madrasah Aliyah (MA) YAPINA Alternatif Islamic Schools merupakan Madrasah (sekolah) yang mengintegrasikan hati, akal dan emosi dalam praktek kehidupan, sehingga terjadi proses insani yang bertaqwa, cerdas, kreatif, inovatif dan mandiri.

@Bukit Az-zikra 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s