Hikmah SABAR

SABAR

Oleh : Muhammad A.Saefulloh, MA

“Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS.Ali Imran [3] : 200).

Sabar, secara etimologi berarti menahan dan mencegah (al-habsu wal kaffu). Secara terminologi, sabar adalah menahan diri untuk melakukan keinginan dan meninggalkan larangan Allah swt, sabar juga berarti sikaf tegar dan kukuh dalam menjalankan ajaran Islam ketika muncul dorongan nafsu, ketegaran yang dibangun diatas landasan Al-Qur’an dan As-sunnah. Sabar dapat juga berarti puncak sesuatu, orang yang memiliki kesabaran, akan sampai pada puncak kemuliaan. Allah telah memuji orang-orang yang bersabar dan menyebutkan mereka dalam firman-Nya : “hanya orang-orang yang bersabar akan diberi pahala mereka yang tidak terbatas.” (QS.Az-Zumar : 10).

Rasulullah SAW mengajarkan sifat sabar dengan meninggalkan sifat mengeluh. Dalam hadis qudsi, Allah SWT berfirman : “Apabila Aku hadapkan suatu cobaan kepada seorang hamba dari hamba-Ku pada badannya, atau pada anaknya, atau pada hartanya, lalu ia menghadapinya dengan penuh kesabaran, Aku merasa malu menegakkan timbangan (mizan) maupun membuka catatan amalnya pada hari kiamat.”(HR Hakim). Dalam hadis lain Rasulullah SAW bersabda : “kesabaran adalah salah satu dari perbendaharaan syurga”, dan ketika ditanya mengenai keimanan, Nabi bersabda :”keimanan itu adalah kesabaran dan kemurahan.” Ali bin Abi thalib mengatakan : ingatlah, sungguh tidak ada iman bagi orang yang tidak memiliki sabar. Karena itulah, syekh abu nashr mengungkapkan bahwa spiritual sabar adalah kedudukan spiritual mulia. Sementara al Junaid menjelaskan bahwa sabar adalah memikul semua beban berat sampai habis saat-saat yang tidak di inginkan. Kedudukan seseorang ditentukan oleh kualitas kesabarannya. Innalla ma’ashobirin “sesungguhnya Allah itu dekat amat dekat dengan orang yang sabar”. Bahkan, jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolong.

Ibnu salim menjelaskan bahwa ada tingkatan orang yang sabar, yaitu : pertama, mutashabir (orang yang berusaha untuk bersabar), kedua,shabir (orang yang sabar), ketiga,shabhar (orang yang sangat bersabar). Orang yang sangat bersabar adalah mereka yang kesabarannya demi Allah, karena Allah dan dengan Allah. Seluruh cobaan yang menimpanya dari segi kewajiban dan hakikat tidak akan melemahkannya, namun ia tetap kuat menghadapinya, sekalipun dari segi bentuk dan rupa akan berubah. Ketidaksabaran timbul ketika kita salah dalam memandang makhluk; mungkin kita memandang makhluk sebagai sumber penyebab segala seuatu. Padahal, makhluk hanya menjalani kehidupan. Kalau kita hanya memfokuskan kepada makhluk, maka kualitas kesabaran yang kita miliki akan semakin berkurang. Lain halnya jika kita memandang bahwa Allah-lah yang menguasai setiap kejadian. Sehingga kesabaran kita akan semakin meningkat.

Ibnu mas’ud mengisahkan bahwa ketika beliau sedang sholat bersama Rasulullah SAW di masjid, tiba-tiba Abu Jahal berkata :”kiranya ada seorang yang berani mengambil kotoran unta bani fulan lalu melemparkannya kepada Muhammad ketika sujud.” Lalu bangkitlah uqbah bin abu mu’ayath datang membawa kotoran dan melemparkannya ke Nabi saw saat sujud. Tidak ada seorangpun yang membela Nabi saw karena saat itu kaum muslimin dalam keadaan yang sangat lemah. Nabi saw tetap dalam sujudnya sampai datang Fatimah ra., puteri beliau, kemudian melemparkan kotoran itu.

Syekh Yusuf al-Qaradhawi membagi sabar dalam 6 kategori, yaitu : 1) sabar menerima ujian hidup. (QS.Al-Baqarah [2] : 155-157), 2) sabar dari keinginan hawa nafsu (QS.Al-Munafiqun 9), 3) sabar dalam taat kepada Allah swt (QS. Maryam : 65), 4) sabar dalam berdakwah (QS.Lukman : 17), 5) sabar dalam perang (QS.AL-Baqarah [2] : 177), 6) sabar dalam pergaulan. (QS.An-Nisa :19).

Lalu bagaimana cara untuk meraih kesabaran ? para ulama memberikan beberapa kiat untuk meraih kesabaran, yaitu antara lain : Pertama, mengenali tabiat kehidupan dunia dengan segala kesulitannya. Penderitaan dan ujian adalah bagian dari tabiat dunia ini (QS.An-Nahl [16] : 53). Kedua, mengenal balasan dan pahala sabar. Sabar pahalanya tanpa ada perhitungan (pahala tanpa batas) (QS.Az-Zumar [39] : 10). Ketiga, Percaya dan yakin bahwa setiap permasalahan ada solusinya, Allah swt menjadikan setiap kesulitan, jalan keluar sebagai bentuk rahmat-Nya (QS.Al-Insyirah [94] : 5-6). Keempat, Meminta pertolongan kepada Allah dan kembali kepada perlindungan-Nya dengan bertawakal kepada-Nya (QS.an-Nahl [16] : 42). Kelima, beriman dan menyakini taqdir Allah swt (QS.Al-Hadid [57] : 22). Semoga Allah swt menganugerahkan kepada kita hati yang lapang dan kesabaran.

—##—

Muhammad A.Saefulloh, MA adalah asatidz Majelis Azzikra dan Kepala Madrasah Aliyah YAPINA alternative Islamic Schools Bojongsari Sawangan Depok Jawa Barat. Madrasah Aliyah (MA) YAPINA Alternatif Islamic Schools merupakan Madrasah (sekolah) yang mengintegrasikan hati, akal dan emosi dalam praktek kehidupan, sehingga terjadi proses insani yang bertaqwa, cerdas, kreatif, inovatif dan mandiri.

@Bukit Az-zikra 2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s