Keutamaan Umat Islam

Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menghidupkan dan mematikan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin, dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada suri tauladan kita, Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, kepada keluarganya, sahabatnya, dan para pengikutnya yang selalu berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah hingga akhir zaman.

Kamu (umat Islam) adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali ‘Imran: 110)

Ikhwahfillah, untaian indah bait ayat di atas telah menjadi bagian tak terpisahkan dari setiap langkah aktivis da’wah, menyusup ke dalam hati yang terdalam dan terukir dalam konstruksi DNA-DNA mereka. Selain menjadi pengingat akan kewajiban setiap insan yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, ayat ini juga tampil sebagai pemicu semangat di tengah hiruk-pikuk suatu amanah, melahirkan motivasi tersendiri karena Allah akan menggolongkan umat Islam sebagai umat yang terbaik jika mengamalkan ketiga unsur persyaratan yang disebutkan di dalamnya: menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Kita tidak boleh terlena dengan ayat ini, sebab untuk menjadi bagian dari umat yang terbaik ketiga syarat ini tentu harus dikumulasikan. Ada diantara umat Islam sendiri yang tidak menjalankan perintah amar ma’ruf nahi munkar, dan ada pula sebagian ahli kitab yang mengamalkannya, tapi tidak mengimani ajaran Rasulullah. Karena itulah Allah Subhanahu wa Ta’ala menyindir mereka secara khusus bahwa kebanyakan ahli kitab adalah orang-orang yang fasik.

Sekarang kita akan meninjau ayat ini dari sisi lain, mencoba merenungkan makna implisit yang mungkin tersembunyi dari sepenggal kata ayat di atas, ”terbaik”. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan predikat ini secara langsung hanya kepada umat Islam, artinya sejak penciptaan Adam ‘Alaihi Salam hingga hari kiamat nanti, umat Islam-lah yang diberi gelar sebagai ”umat terbaik”. Lantas apa yang membedakan umat ini dengan umat-umat yang terdahulu? Mari kita kupas satu per satu.

1. Kesempurnaan Ajaran Islam

Kehadiran Islam di Jazirah Arab bagaikan oase di tengah padang pasir. Dalam kehancuran moral yang teramat parah hingga disebut sebagai zaman jahiliyah, Islam menuntunkan mereka menuju cahaya untuk menerangi seluruh dunia, menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hari demi hari dijalani oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beserta generasi terbaik umat ini yang dipilih oleh Allah untuk menemani perjuangan Sang Utusan. Hingga pada hari haji wada’, Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat yang menghibur hati hampir setiap orang yang hadir pada saat itu.

Pada hari ini orang-orang kafir telah berputus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama bagimu. (QS. Al-Maidah:3)

Betapa tidak, ayat ini menerangkan keberhasilan da’wah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam selama 13 tahun di tanah kelahirannya Makkah dan 10 tahun membangun masyarakat madani di Madinah. Namun di saat itu pula, ayat ini sanggup menggetarkan hati dan memeras air mata bagi telinga-telinga yang mendengarnya. Merasakan nikmat yang luar biasa besar dalam tubuh kaum muslimin, karena di hari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyempurnakan ajaran Islam sebagai dinul haq, tatanan hidup yang akan mengantarkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, serta satu-satunya din yang diridhai di sisi Allah. Tidak hanya itu, Islam juga telah menyempurnakan ajaran dari nabi-nabi terdahulu.

Hadis riwayat Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, Dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda: “Perumpamaanku dengan para nabi, adalah seperti perumpamaan seseorang yang membangun sebuah rumah. Dia menata dengan bagus dan sempurna. Kecuali masih ada satu tempat bata. Banyak orang masuk kedalam bangunan tersebut dan mengaguminya seraya berkata: ‘Kalau seandainya bukan karena tempat bata itu (masing kosong), maka akan jauh lebih bagus.’” Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: “Aku adalah yang (diibaratkan) sebagai bata tersebut. Aku datang sekaligus sebagai penutup para nabi-nabi.” (HR. Muslim)

2. Kitabullah Al-Qur’anul Karim

Al-Qur’an menerangkan kepada kita bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan beberapa kitab suci kepada rasul-rasulnya, yaitu: Taurat, Zabur, Injil, dan Al-Qur’an. Fungsi utama kitab-kitab ini adalah sebagai cahaya dan petunjuk. Namun Al-Qur’an memiliki fungsi tersendiri yaitu membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Selain itu, diantara keempat kitab ini hanyalah Al-Qur’an yang dijamin keasliannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala hingga menjelang hari kiamat. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al-Hijr: 9)

Diantara kita pasti pernah mendengar bahwa Al-Qur’an merupakan salah satu mu’jizat yang diberikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar diantara mu’jizat-mu’jizat lainnya, bahkan jika dibandingkan dengan mu’jizat-mu’jizat yang pernah diberikan oleh Allah kepada rasul-rasul yang lain.

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung. (QS. Al-Hijr: 87)

Mu’jizat Al-Qur’an dapat kita pandang dari berbagai sisi, seperti dari bahasanya, dari aspek informasi-informasi sains yang terkandung, atau dari sisi pemberitaan yang dikabarkan oleh Allah dalam Al-Qur’an, dan masih banyak sisi-sisi lain yang bisa kita telaah lebih lanjut. Namun, Kemu’jizatan Al-Qur’an yang telah ditemukan sekarang mungkin hanya sebagian kecil dari yang sebenarnya. Di sini kita tidak akan membahas semua kemu’jizatan Al-Qur’an, sejuta kata tak mampu menggambarkan seluruh keagungannya.

3. Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Beliau merupakan penutup para nabi dan salah satu dari kelima rasul yang diberi gelar ulul azmi atas perjuangan mereka mengemban amanah sebagai utusan, karena merekalah para rasul yang mengalami cobaan terberat dalam perjuangan mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan sosok Al-Amin, sebelum kerasulannya pun telah mendapat kepercayaan di tengah kaumnya. Beliau memiliki sifat-sifat terpuji hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menyuruh kita untuk meneladani beliau.

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah, suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah. (QS. Al-Ahzab: 21)

Beliau adalah sosok teladan yang lengkap. Dalam hidupnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertindak sebagai nabi yang memberi contoh kepada para sahabat untuk menjelaskan nilai-nilai Al-Qur’an, beliau pernah menjadi seorang pedagang yang sukses bermodalkan kejujurannya, beliau juga seorang kepala negara, sosok pemimpin militer yang tangguh, seorang hakim yang memutuskan perkara dengan adil bahkan kepada orang-orang yang belum mengakuinya sebagai nabi, hingga seorang kepala keluarga yang mendidik anggota keluarganya untuk menjadi panutan. Cukuplah bagi umatnya menjadikan beliau sebagai suri tauladan dalam setiap sendi kehidupan.

Banyak sekali kisah-kisah yang menyayat hati dalam kehidupan beliau yang patut kita renungkan dan menjadikannya sebagai pelajaran. Masih ingat kisah seorang pengemis Yahudi buta, kisah perjalanan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ketika menyebarkan Islam ke Thaif, atau kecintaan beliau kepada umatnya saat menjelang sosok mulia ini dipanggil ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menutup usianya setelah berhasil membawa kaumnya dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya Islam yang terang benderang. Untuk beliaulah Allah Subhanahu wa Ta’ala secara khusus menyuruh kita untuk bershalawat kepada beliau sebagaimana Allah dan para malaikatnya melakukan hal tersebut.

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS. Al-Ahzab:56)

4. Umat Islam Mengemban Amanah Para Nabi dan Rasul

Ikhwahfillah, seperti yang tercantum dalam QS. Ali ‘Imran ayat 110 di atas, bahwa kaum muslimin berkewajiban menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Perkara inilah yang menjadi sebab utama Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan gelar terbaik secara khusus kepada umat ini, dimana Allah menakdirkan diri kita untuk berkesempatan menjadi salah satu bagian darinya. Malalui jalan inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala mempertemukan kita dalam jalinan ukhuwan yang begitu indah, melampaui batas-batas perbedaan, menjalin persatuan hati, menuju ridha Ilahi.

Mari kita membuka lembaran-lembaran kisah yang diceritakan dalam Al-Qur’an. Jika kita memperhatikan umat-umat terdahulu, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus rasul-rasul kepada kaumnya, ketika rasul tersebut dipanggil oleh Allah untuk mengakhiri masa hidupnya, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala kembali mengutus rasul yang lain saat umat manusia mulai melenceng dari nilai-nilai yang diajarkan oleh rasul sebelumnya. Bahkan banyak diantara para rasul yang merupakan keturunan langsung dari ayahnya yang juga merupakan seorang rasul. Sebut saja silsilah dari Nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam hingga Nabi Yusuf ‘Alaihi Salam. Namun berbeda dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang merupakan penutup para nabi. Selepas beliau wafat, tidak akan ada nabi ataupun rasul lagi yang akan Allah utus untuk meneruskan risalah beliau. Tugas kerasulan untuk membimbing manusia menuju cahaya Rabb mereka secara langsung diamanahkan kepada umat Islam itu sendiri. Inilah hal yang paling membedakan umat Islam dengan umat-umat sebelumnya.

5. Khalifah dan Kepemimpinan

Kaum muslimin memiliki seorang pemimpin dari umat ini sendiri sebagaimana umat-umat terdahulu, namun sebagian besar dari mereka dipimpin langsung oleh nabi atau rasul Allah yang diutus kepadanya, dan sebagian yang lain dipilih langsung oleh Allah seperti Talut yang diangkat untuk menjadi pemimpin Bani Israil. Sekali lagi, Allah Subhanahu wa Ta’ala mempercayakan urusan kepemimpinan dalam umat Islam oleh kita sendiri, siapa diantara kita yang akan diserahi urusan kaum muslimin. Sejak runtuhnya Turki Utsmani pada tahun 1924, kita tidak lagi memiliki seorang pemimpin yang mengurusi kekhilafahan untuk menjaga kesatuan umat. Namun hal ini sudah menjadi bagian dari perjalanan kaum muslimin yang telah diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan saat ini Insya Allah kita sedang memperjuangkannya dengan cara-cara yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Perjuangan ini tentu tidak bisa ditempuh dengan berjalan sendiri-sendiri, tapi dalam suatu jamaah yang memiliki kesatuan gerak dan tujuan, hingga kita bisa mewujudkan kembali impian kita bersama dengan Izin Allah.

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan Menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah Menjadikan orang-orang sebelum meraka berkuasa, dan sungguh Dia akan Meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia Ridai. Dan Dia benar-benar Mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembahKu dengan tidak mempersekutukanKu dengan sesuatu pun. Tetapi barangsiapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (QS. An-Nur: 55)

6. Kejayaan Islam di Akhir Zaman

Kejayaan agama Allah Subhanahu wa Ta’ala telah Dia janjikan kepada umat Islam. Tentu pernyataan ini tak lagi menjadi pertanyaan di benak seorang aktivis da’wah, karena ayat ini termasuk ayat yang paling sering kita dengar hingga kita hafal dengan sendirinya.

Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi. (QS. Al-Fath: 28)

Saat Bani Israil diberi nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berkuasa di muka bumi, sebenarnya mereka berkesempatan untuk menjadi umat yang membawa kejayaan ini di muka bumi. Kerasnya penyiksaan dan penindasan Fir’aun kepada Bani Israil dijalani oleh mereka dengan kesabaran hingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Musa ‘Alaihi Salam bersama saudaranya untuk mengeluarkan mereka menjadi umat yang merdeka.

Hai Bani Israil, ingatlah akan ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan (ingatlah pula) bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS. Al-Baqarah: 47)

Namun, karena mereka telah berbuat melampaui batas dengan mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi, akhirnya Allah mengganti mereka dengan umat yang lain, yaitu umat Islam yang telah ditetapkan oleh Allah sebagai pewaris bumi ini.

7. Sebagai Saksi Atas Seluruh Manusia

Pada hari kiamat nanti, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan menjadi saksi terhadap umatnya dan kaum muslimin akan menjadi saksi terhadap seluruh manusia.

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al-Baqarah: 143)

Dikisahkan dalam sebuah hadits dari Abu Sa’id yang menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda: Nuh akan dipanggil pada hari kiamat lalu dia menjawab, “Ya, saya ya Rabb”, Allah bertanya, “Apakah engkau telah menyampaikanwahyu yang kamu terima?” Nuh menjawab, “Sudah, (wahai Rabb-ku).” Lalu kaumnya dipanggil dan dikatakan kepada mereka, “Apakah dia telah menyampaikannya kepada kalian?” Maka mereka menjawab, “Kami tidak kedatangan seorang pemberi peringatan pun yang datang kepada kami.” Lalu ditanyakan kepada Nuh, “Siapakah yang bersaksi untukmu?” Nuh menjawab, “Muhammad dan umatnya.” Abu Sa’id mengatakan bahwa yang demikian itu adalah firman-Nya, “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat pertengahan”, al-wasat artinya adil. Kemudian kalian dipanggil dan kalian mengemukakan persaksian untuk Nabi Nuh, bahwa dia telah menyampaikan (nya) kepada umatnya, dan dia pun memberikan kesaksiannya pula terhadap kalian. (HR. Bukhari)

Ikhwahfillah, ternyata banyak sekali nikmat yang telah Allah berikan untuk umat ini. Sudahkah kita bersungguh-sungguh melaksanakan kewajiban kita sebagai umat yang terbaik? Sudahkah kita memanfaatkan potensi diri ini semaksimal mungkin sebagai tanda rasa syukur kita kepada Allah?? Sudahkah kita memepersiapkan diri menjadi bagian dari umat yang terbaik jika suatu hari nanti janji Allah itu datang???

sources : http://matasalman.wordpress.com/2011/12/06/keutamaan-umat-islam/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s