Tips Mencintai Rasulullah SAW

i luv muhammad

 

bismillahirrahmanirrahim

Cinta adalah sebuah anugerah yang Allah SWT berikan pada setiap hati makhluknya. Sebagai manusia yang memiliki akal, kita harus bisa menempatkan cinta itu pada Allah SWT dan manusia yang tepat, manusia yang dapat membimbing kita meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat, yaitu Rasulullah SAW. Lalu bagaimanakah cara kita agar dapat mencintai Rasulullah SAW sepenuh hati? Berikut adalah cara mencintai beliau sesuai syari’at Islam serta mencontoh para salaf ash-sholih:

  1. Tauhidkan (Esa-kan) Allah. Rasulullah SAW diutus Allah SWT untuk menyeru kita kembali meyakini bahwa Allah adalah satu dan melarang kita mendekati syirik. Dengan tauhid yang kuat dalam dada kita, insya Allah kita akan mudah mendekatkan pada ajaran beliau.
  2. Ikuti ajaran Rasulullah SAW dan menjauhi larangannya. Manusia akan selalu taat kepada orang yang dicintainya. Begitu juga orang yang mencintai Rasulullah SAW yang mulia, ia akan selalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mengikuti jejak beliau, bersegera mewujudkan teladannya dan bersegera menjahui larangannya.
  3. Perbanyaklah shalawat dan salam kepada Rasulullah SAW. Bershalawat kepadanya memliki berbagai faedah dan manfaat diantaranya dapat mendatangkan kebajikan, dikabulkannya berbagai do’a, mendapatkan syafa’at, mendatangkan shalawat Allah atas hambanya, dan selamat dari kebakhilan.
  4. Bencilah orang yang Allah dan Rasul-Nya benci, musuhi orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, jauhi orang yang menyalahi sunnahnya, serta bencilah semua perkara yang menyalahi Syariat.
  5. Cintailah orang-0rang yang dicintai Rasulullah SAW. Rasulullah SAW sangat mencintai isteri-isterinya, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan seluruh umat Islam yang berpegang teguh pada ajarannya, maka cintailah pula mereka semua.
  6. Benarkan dan yakinilah berita-berita yang beliau sampaikan.
  7. Laksanakan ibadah kepada Allah dengan tata-cara yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW, tanpa ditambah-tambah ataupun dikurangi
  8. Cintailah beliau SAW melebihi kecintaan kepada diri sendiri, keluarga dan seluruh manusia
  9. Belalah selalu ajaran Rasulullah SAW. Cara membela ajaran beliau adalah dengan menghafal, memahami dan mengamalkan hadits-hadits Rasulullah SAW. Hidupkan pula sunnahnya dan sebarkanlah kepada masyarakat.

Banyak sekali keutamaan yang akan kita dapatkan jika mencintai Rasulullah SAW sepenuh hati, diantaranya adalah:

  1. Mendapatkan kesempurnaan iman dan merupakan cara untuk mendapatkan kecintaan Allah SWT.
  2. Akan bersama Rasulullah SAW di Akhirat
  3. Akan merasakan manisnya iman. Manisnya keimanan adalah merasakan lezatnya segala ketaatan dan siap menunaikan beban agama serta mengutamakan itu daripada seluruh materi dunia.

Ya Allah Ya Rabbi, karuniakanlah kepada kami hati pencinta yang mencintai Rasul-Mu terkasih dengan sebenar-benarnya cinta sejati, yang bukan hanya pengakuan namun berupa pembuktian, yang menjadikan pertemuan dengannya sebagai sebuah kerinduan… Amiin.

alhamdulillahirabbilalaminReferensi:

  1. “Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri (atau suami-suami) dan kaum keluarga kelian, juga harta yang kalian usahakan dan perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah tempat tinggal yang kalian sukai adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan keputusan-Nya (azab)-Nya. Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang fasik (derhaka).” (QS at-Taubah : 24).
  2. Pada suatu hari Umar bin Khattab berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku sendiri.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjawab, “Tidak, demi Allah, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.” Maka berkatalah Umar, “Demi Allah, sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri!” (HR. Al-Bukhari).
  3. “Demi Allah, salah seorang dari kalian tidak akan dianggap beriman hingga diriku lebih dia cintai dari pada orang tua, anaknya dan seluruh manusia.” (HR. Al-Bukhari)
  4. Dari Anas bin Malik RA, “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW tentang hari kiamat, “Kapankah kiamat datang?” Nabi pun SAW menjawab, “Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?” Orang itu menjawab, “Wahai Rasulullah, aku belum mempersiapkan shalat dan puasa yang banyak, hanya saja aku mencintai Allah dan Rasul-Nya SAW” Maka Rasulullah SAW pun bersabda, “Seseorang (di hari kiamat) akan bersama orang yang dicintainya, dan engkau akan bersama yang engkau cintai.” Anas pun berkata, “Kami tidak lebih bahagia daripada mendengarkan sabda Nabi SAW, ‘Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.’” Anas kembali berkata, “Aku mencintai Nabi SAW, Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap akan bisa bersama mereka (di hari kiamat), dengan cintaku ini kepada mereka, meskipun aku sendiri belum (bisa) beramal sebanyak amalan mereka.” (HR. Al-Bukhari)
  5. Dari Anas bin Malik ra., dari Nabi saw., beliau bersabda: “Ada tiga hal, barang siapa melaksanakan ketiga-tiganya maka ia akan merasakan kelezatan iman: Orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta kepada yang lain, orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah dan orang yang benci untuk kembali kekafiran sebagaimana benci untuk masuk ke dalam neraka.”(HR. Bukhari).
  6. “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus di kalangan tiap-tiap umat seorang rasul (agar menyeru mereka). Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhi Taghut.” (QS al-Nahl : 36)
  7. “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan”. (QS. Al Anfaal (8): 24).
  8. “Apa yang Rasul perintahkan kjepada kalian, terimalah; apa yang Beliau larang atas kalian, tinggalkanlah”. (QS al-Hasyr : 7).
  9. “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu kepada Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” [QS Al-Ahzaab: 56]
  10. Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Rasulullah SAW. pernah bersabda: ‘Celakalah orang yang mendengar namaku disebut ia tidak mau bershalawat kepadaku, celakalah orang yang pada saat bulan Ramadhan datang, lalu berlalu begitu saja sebelum memperoleh ampunan, dan celakalah orang yang mendapatkan kedua orang tuanya telah tua, tetapi tidak menjadikan ia masuk surga.” (HR. Tirmidz)
  11. “Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang (perintah) Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu ialah bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka (yang setia) itu, Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka…” (QS Al-Mujaadilah : 22).
  12. “Dan tiadalah yang diucapkannya itu, menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)
  13. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21).
  14. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang melakukan suatu amalan yang tidak sesuai dengan petunjukku, maka amalan itu akan ditolak.” (HR. Muslim)
  15. “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri” (QS. Al Ahdzab: 6)
  16. “Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At Taubah: 120)
  17. Dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz beliau pernah menulis surat kepada Abu Bakr bin Hazm: “Perhatikanlah mana yang merupakan Hadits Rasulullah hendaklah kamu tulis karena aku khawatir musnahnya ilmu agama ini dan lenyapnya para ulama. Janganlah engkau terima riwayat selain Hadits Nabi saw. dan hendaklah kalian sebarkan ilmu Hadits ini dan hendaklah kalian duduk untuk mempelajarinya sampai orang yang tidak tahu diajari sebab ilmu ini tidak akan musnah sampai menjadi barang yang asing.” (HR. Bukhari)
  18. Huquq An-Nabi ‘Ala Umatihi Fi Dha’il Kitab Was Sunnah. Dr. Muhammad Khalifah Al-Tamimi
  19. Mahabbatu An-Nabi Wa Ta’zimuhu. Fahd bin Abdullah Al-Habisyi.
  20. http://www.pks-arabsaudi.org/pip//?pilih=lihat&id=203

Sources : http://cara-muhammad.com/tips/tips-mencintai-rasulullah-saw/

Cinta Allah itu tujuan, cinta Rasulullah itu jalan

Cinta Allah

Cinta Allah itu tujuan, cinta Rasulullah itu jalan

Dua kalimah syahadah adalah bukti bahawa cinta kepada Allah dan Rasulullah s.a.w. tidak terpisah. Cinta Allah itu tujuan, cinta Rasulullah itu jalan. Tidak mungkin tercapai tujuan “lailahaillallah” tanpa mengikut jalan “Muhammad Rasulullah.”

Keyakinan kita kepada Allah adalah atas curahan ilmu, didikan, bimbingan dan pimpinan Rasulullah. Justeru, Rasulullah itu manusia biasa yang sangat luar biasa. Baginda tidak dididik oleh manusia, tetapi dididik oleh Allah s.w.t.

Kata-katanya tidak pernah sia-sia melainkan terpandu segalanya oleh wahyu. Allah berfirman yang bermaksud: “Rasulullah tidak berkata melainkan wahyu Allah.” (Surah al-Najm 53: 3-4)

Jika hati mencintai kebaikan, maka butalah hati itu jika tidak mencintai Rasulullah… kerana Bagindalah insan terbaik dan paling banyak menabur kebaikan. Jika hati mencintai keindahan, maka matilah hati itu jika tidak jatuh cinta kepada keindahan Rasulullah; senyuman, sapaan, teguran, bujukan, bahkan marahnya sekalipun tetap indah.

Kita masih boleh membayangkan seorang yang pernah mengikat perutnya dengan batu bagi menahan kelaparan ketika berjihad. Baginda insan yang pernah patah giginya oleh asakan dan tusukan senjata musuh. Kenangi seorang insan yang pernah luka-luka dilontar dengan batu-batu, dilempari najis dan bangkai, diperosok ke dalam duri dan lubang, akhirnya dikepung untuk dibunuh… hanya kerana ingin menyampaikan iman dan Islam buat manusia.

Kebaikan Rasulullah bukan sahaja dinikmati oleh generasi yang hidup bersama-samanya, tetapi melampaui masa, zaman dan keadaan. Cinta Baginda turut menyentuh hati kita.

Cinta tidak semestinya bertemu. Cinta tidak semestinya bersama. Dimensi cinta ialah ukuran rasa, bukan oleh jarak yang jauh atau masa yang panjang dan pendek. Cinta merombak batasan masa, jarak dan ruang.

Inilah insan yang sewajarnya dicintai. Insan yang tidak akan lega tanpa dijanjikan keselamatan buat umatnya. Insan telah pergi menemui al-Rafiq al-A‘la (Teman daerah tinggi iaitu Allah) tanpa mewariskan sebarang harta. Bahkan menurut ahli sejarah, ketika itu lampu di rumahnya sudah kehabisan minyak…

Itulah cinta Rasulullah. Itulah yang mesti ada ada dalam jiwa agar kita berpeluang bersama-samanya di dalam syurga. Dan sewajar selalu bertanya kepada hati sendiri, “Di mana Rasulullah di hati kita?”

Di mana Rasulullah di hati kita?

Mengapa semua ini melibatkan soal hati? Ya, kerana yang paling berkuasa dalam diri manusia ialah hati. Imam al-Ghazali menegaskan bahawa hati umpama raja yang paling berkuasa dalam diri manusia. Pancaindera dan segala anggota badan bagaikan rakyat yang tunduk dan patuh kepada perintah hati.

Hati adalah tempat cinta bertakhta. Cinta itu yang mengawal hati. Jika seseorang mencintai sesuatu, seluruh tenaga, upaya dan fokus dalam hidupnya akan ditumpukan kepada apa-apa yang dicintai.

Oleh kerana itu, kita perlu berhati-hati apabila mencintai dan dicintai. Kita perlu berhati-hati memilih “siapa” dan “apa” yang hendak kita cintai.

Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, maksudnya: “Seseorang akan menjadi hamba kepada apa-apa yang dicintainya.” (Riwayat al-Bukhari)

Syukur, jika hati mencintai Allah, kita akan menjadi hamba kepada Allah dan seluruh hidup kita akan terfokus kepada iman dan Islam. Alangkah ruginya jika di hati kita bertakhta kejahatan dan kemungkaran kerana kita akan menjadi hamba kepada kejahatan dan kemungkaran itu.

Cinta Allah Segala Sumber

Hidup memang untuk cinta. Tetapi cinta kepada siapa? Jawabnya, cinta kepada Allah.

Firman Allah, maksudnya: “Orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Kalaulah orang yang melakukan kezaliman mengetahui ketika mereka melihat seksaan (pada hari kiamat) bahawa kekuatan itu semua kepunyaan Allah dan amat berat seksaan-Nya (nescaya mereka menyesal).” (Surah al-Baqarah 2: 165)

Cinta kepada Allah sumber segala kekuatan, kekayaan, ketenangan dan kejayaan.

Manusia yang bercinta dengan Allah Yang Maha Kaya (al-Ghaniy), akan mendapat kekayaan jiwa yang tiada tandingan.

Manusia yang paling kuat ialah manusia yang mencintai Allah Yang Maha Perkasa (al-Qawiy).

Manusia yang jahil dan serba tidak tahu akan menjadi insan yang bijaksana apabila berhubung cinta dengan Allah Yang Maha Mengetahui (al-‘Alim).

Manusia yang cinta kepada Allah punya kekuatan dan ketenangan untuk menghadapi kehidupan. Hidup mereka tidak akan diganggu gugat oleh rasa takut atau dukacita.

Firman Allah yang bermaksud: “Kebebasan yang diberikan kepadamu (apabila diketahui oleh mereka) lebih dekat untuk mententeramkan hati mereka, menjadikan mereka tidak berdukacita, serta menjadikan mereka reda akan apa-apa yang engkau lakukan kepada mereka. Dan (ingatlah) Allah sedia mengetahui setiap yang ada dalam hati kamu. Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Penyabar.” (Surah al-Ahzab 33: 51)

Jika kemanisan hidup yang kita cari, maka rasa cinta kepada Allah mestilah disemat dalam hati.

Rasulullah s.a.w. bersabda, maksudnya: “Sesiapa yang mempunyai tiga perkara padanya, dia telah mendapatkan kemanisan iman, iaitu Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai daripada selain kedua-duanya, serta mencintai dan membenci seseorang semata-mata kerana Allah. Dia hendaklah benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia membenci jika dicampakkan ke dalam neraka.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Ekspresi Cinta Sahabat kepada Allah

Cinta kepada Allah telah membentuk sahabat-sahabat Nabi s.a.w. berikut menjadi orang yang hebat:

Sahabat/Tabiin Bukti Cinta
Abu Bakar r.a. Sanggup mengorbankan seluruh hartanya untuk Islam.
Umar al-Khattab r.a. Kurang tidur pada waktu malam hari kerana bimbang urusannya dengan Allah tidak selesai dan kurang tidur pada waktu siang kerana bimbang urusannya dengan manusia tidak selesai.
Umar bin Abdul Aziz Sangat amanah sehingga tidak sanggup mengambil sedikit pun harta negara untuk maslahat dirinya.
Khalid al-Walid Tidak terikat dengan jawatan apabila berkata: “Aku berjuang bukan kerana Umar (bahkan kerana Allah).”

Mengapa Perlu Mencintai Rasulullah?

Begitulah kelebihan mencintai Allah. Hitam, putih, manis, pahit, terang dan gelap – semuanya baik belaka jika sudah ada cinta. Namun demikian, cinta kepada Allah tidak mungkin dicapai tanpa melalui cinta Rasulullah s.a.w. Cinta Allah itu tujuan, cinta kepada Rasulullah pula jalan. Tujuan tidak akan tercapai tanpa mengikut jalan.

Antara jalan menuju kejayaan adalah dengan “meniru” orang yang berjaya sebagaimana yang turut dinyatakan oleh pakar motivasi dan psikologi. Sebagai umat Islam, siapa lagi insan paling berjaya jika tidak Rasulullah? Baginda mencapai kejayaan yang holistik sebagai individu dan masyarakat di dunia dan akhirat.

Allah s.w.t. telah menegaskan hakikat ini melalui firman-Nya yang bermaksud: “Pada diri Rasulullah buat kamu adalah suri teladan yang baik.” (Surah al-Ahzab 33: 21)

Tanpa berdolak-dalih lagi, kita boleh merumuskan bahawa punca kegagalan umat Islam kini kerana tidak menjadikan Rasulullah sebagai teladan.

Berikut dihuraikan sebab kita perlu mencintai Rasulullah s.a.w.:

1. Jalan mencintai Allah

Allah sendiri telah menunjukkan bahawa jalan mencintai Allah adalah dengan mencintai Rasulullah. Jalan itu wajib diikuti. Tidak ada manusia yang mampu mencintai Allah mengikut jalannya tersendiri. Seperkara lagi, kita mestilah mencintai segala-gala yang dicintai Allah. Ia meliputi mencintai para rasul, nabi, malaikat, hamba-Nya yang soleh, amal soleh dan akhlak mulia.

Tegasnya, cinta kepada Allah mewajibkan kita agar mencintai sesiapa dan segala sesuatu yang dicintai-Nya. Insan yang paling dicintai oleh Allah ialah Rasulullah s.a.w. Inilah syarat pertama dan utama untuk meraih cinta Allah.

Perkara ini ditegaskan sendiri oleh Allah melalui firman-Nya yang bermaksud: “Katakan: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad). Nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (Surah Ali ‘Imran 3: 31)

2. Rasulullah sangat dimuliakan Allah

Allah telah memilih Baginda sebagai manusia yang paling mulia dengan pengiktirafan berikut:

- Penghulu segala rasul.

- Menurunkan al-Quran kepadanya.

- Memuliakan dengan selawat.

- Menganugerahkan gelaran “Habibullah” (kekasih Allah).

Peri Rasulullah dimuliakan oleh Allah terpancar daripada firman-Nya yang bermaksud: “Sesungguhnya, Allah dan malaikat-Nya berselawat atas nabi. Wahai orang beriman, berselawatlah atas nabi.” (Surah al-Ahzab 33: 56)

Bukan itu sahaja, malah Baginda dimartabatkan sebagai pemberi rahmat bagi seluruh alam dan kelak Allah akan lebih memuliakannya dengan memberikan syafa‘ah ‘uzma (pertolongan agung) pada hari kiamat.

Insya-Allah, orang yang memuliakan insan yang dimuliakan Allah (Rasulullah) akan turut dimuliakan-Nya. Rasulullah s.a.w. bersabda, maksudnya: “Sesiapa yang berselawat kepadaku sekali, maka aku akan berselawat atasnya 10 kali.” (Riwayat al-Bukhari)

3. Rasulullah sangat mencintai kita

Rasulullah merupakan Nabi yang paling mencintai umatnya. Atas dasar cinta itulah Baginda berjuang habis-habisan untuk menyampaikan ajaran Islam – agama yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat. Belum tentu orang yang kita cintai akan mencintai kita, tetapi Baginda memang terbukti mencintai kita. Jika kita mencintai Rasulullah, kita tidak akan bertepuk sebelah tangan… Cintailah Rasulullah, pasti cinta kita berbalas.

Bukti cinta ialah pengorbanan. Semakin tinggi cinta, semakin banyak pengorbanan. Lihatlah bagaimana Baginda telah menumpahkan keringat, mengalirkan air mata, malah rela menyabung nyawa demi menyelamatkan umat Islam daripada seksaan neraka?

Firman Allah, maksudnya: “Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul daripada kaummu sendiri. Terasa berat olehnya dengan penderitaanmu, yang sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan serta penyayang terhadap orang Mukmin.” (Surah al-Tawbah 9: 128)

Doa-doa yang diwariskan oleh Rasulullah kepada para sahabatnya dan kemudian dipindahkan daripada satu generasi ke satu generasi juga bukti cinta Rasulullah kepada umatnya. Jika kita merujuk kepada hadis-hadis yang dinukilkan dalam pelbagai kitab, kita dapat melihat betapa banyak khazanah doa yang diwariskan sebagai bukti kecintaan Baginda.

4. Jasa dan kebaikan Rasulullah yang melimpah

Budi dan jasa Rasulullah s.a.w. sangat luar biasa. Dakwah, nasihat, didikan, bimbingan, doa dan kepimpinan Rasulullah tidak terhitung nilainya. Baginda bukan sahaja bertungkus-lumus untuk menyelamatkan manusia di dunia sahaja, malah akhirat. Baginda telah menyampaikan berita (hari akhirat) sama ada yang menggembirakan (syurga) atau ancaman yang menakutkan (neraka) sebagai peringatan.

Itulah perbezaan Rasulullah s.a.w. dengan pemimpin dunia yang lain. Pemimpin biasa hanya berusaha menyelamatkan pengikutnya di dunia, tetapi Rasulullah berusaha menyelamatkan umatnya daripada kesengsaraan di dunia dan akhirat. Rasulullah s.a.w. bukan sahaja membersihkan dunia daripada kejahatan, malah membersihkan hati manusia daripada dosa dan kemungkaran.

Hati manusia yang dicemari syirik dan sifat mazmumah telah dibersihkan dengan kehadiran Rasulullah s.a.w. Hasilnya, terbentuklah generasi yang beriman.

Firman Allah, maksudnya: “Sesungguhnya, Allah memberi kurniaan kepada orang yang beriman ketika Allah mengutus antara mereka seorang Rasul daripada golongan mereka sendiri, yang membacakan ayat-ayat Allah kepada mereka, membersihkan (jiwa) mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-hikmah. Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka benar-benar berada dalam kesesatan yang nyata.” (Surah Ali ‘Imran 3: 164)

5. Keagungan akhlak Rasulullah

Setiap hati manusia akan jatuh cinta kepada orang yang mempunyai akhlak yang baik. Akhlak yang baik disukai oleh setiap manusia tidak kira agama, bangsa dan warna kulit. Ia nilai sejagat yang diakui oleh semua manusia. Ini juga salah satu sebab kita perlu mencintai Rasulullah s.a.w. kerana ketinggian dan keagungan akhlak Baginda.

Oleh sebab itu, sesiapa yang tidak jatuh cinta kepada Rasulullah s.a.w., itu petanda dia menolak fitrah manusia. Orang yang baik dan ingin menjadi baik akan mencintai dan meneladani orang yang baik. Tidak ada insan sebaik Nabi Muhammad s.a.w. Akhlak Baginda bukan sahaja dipuji oleh kawan dan lawan, malah oleh Tuhan Yang Maha Pencinta.

Allah berfirman, maksudnya: “Sesungguhnya, kamu (Muhammad) benar-benar mempunyai budi pekerti yang agung.” (Surah al-Qalam 68: 4)

Tanda Mencintai Rasulullah

Sudahkah kita jatuh cinta kepada Rasulullah s.a.w.? Antara tanda mencintai Baginda ialah banyak mengingat, menyebut, merindu dan seterusnya ingin sekali bertemu. Maksudnya, cinta adalah satu perasaan yang bersemi dalam hati, diluahkan dengan lidah dan dibuktikan dengan tindakan dan pengorbanan.

Jika kita mengaku cintakan Rasulullah s.a.w., muhasabahlah sebanyak mana kita berselawat kepada Baginda sehari semalam? Selawat itu tanda ingatan. Setelah banyak mengingat dengan berselawat, tentulah rasa rindu untuk bertemu semakin mendalam. Ya, cinta dan rindu sangat sinonim.

Cinta yang hebat akan mampu mendekatkan jarak waktu dan jurang generasi. Inilah yang dialami oleh manusia yang hidup pada akhir zaman, tetapi punya cinta yang mendalam kepada Rasulullah s.a.w.

Justeru, Rasulullah s.a.w. bersabda yang bermaksud: “Orang yang paling aku cintai dalam kalangan umatku ialah orang sesudahku yang sangat ingin melihat aku (walaupun dengan mengorbankan) keluarga dan hartanya.” (Riwayat Muslim)

Kesimpulannya, orang yang bercinta mesti banyak mengingati sesiapa yang dicintainya. Apabila hati mengingat, mulut akan banyak menyebut. Apabila lidah banyak menyebut, hati akan berasa rindu. Apabila rindu, pasti terasa ingin bertemu. Ya, begitulah sifir cinta kepada Rasulullah. Bagaimana hendak bertemu dengan Rasulullah? Jawabnya, dengan mati dalam keadaan sedang berjuang menegakkan sunnahnya dalam seluruh aspek kehidupan!

Doa daripada Rasulullah

Lihatlah, betapa cinta Rasulullah s.a.w. apabila Baginda berkata kepada seorang sahabatnya; Mu‘az bin Jabal:

“Wahai Mu‘az, aku sangat mencintaimu. Selepas engkau menunaikan solat, jangan sekali-kali engkau lupa untuk berdoa kepada Allah dengan doa ini:

اَللَّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Bermaksud: ‘Ya Allah, bantulah aku mengingati-Mu, mensyukuri nikmat-Mu dan memperbaiki ibadah kepada-Mu.’”

5 Jalan Utama Mencintai Rasulullah

Walau apa-apa pun keadaan, tidak ada pilihan lain buat kita melainkan cuba sedaya upaya mencintai Rasulullah s.a.w. sepenuh hati. Keselamatan kita di dunia dan akhirat bergantung kepada sejauh mana kita mencintai Rasulullah s.a.w. Justeru, untuk mencapai cinta Allah, kita perlu melalui terlebih dahulu jalan-jalan yang membawa cinta kepada Rasulullah.

Seorang Arab Badwi bertemu Rasulullah s.a.w. lantas bertanya: “Bila berlaku kiamat?”

Rasulullah s.a.w. bertanya kembali kepadanya, mafhumnya: “Apa yang sudah kau sediakan untuk menghadapinya?”

Orang Arab Badwi tersebut menjawab: “Aku menyediakan hati yang sangat mencintai engkau, wahai Rasulullah.”

Rasulullah membalas: “Seseorang akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya di akhirat.”

Ketika mendengar jawapan Rasulullah itu, para sahabat Baginda sangat gembira. Malah, ada daripada mereka yang merasakan hari tersebut seolah-olah hari raya. Mereka merasakan dengan “bermodalkan” cinta, mereka boleh dikurniakan syurga!

KAEDAH MENCINTAI RASULULLAH

 Bagaimana hendak mencintai Rasulullah s.a.w.? Mencintai Rasulullah dapat dicapai melalui jalan-jalan berikut:

1. Mengenali Rasulullah

Kita perlu benar-benar mengenali Rasulullah melalui sirah dan sunnah Baginda. Tidak cukup hanya mengetahui dengan akal, tetapi kita perlu mengenali Baginda dengan hati, lalu cuba mempraktikkan segala sunnahnya dalam realiti kehidupan.

Tanya kepada diri: “Jika Rasulullah bersama-samaku, bagaimanakah rasa, kata dan tindakan kita ketika berdepan dengan suasana ini?” Begitulah rasa hati yang seharusnya ada dalam hati kita sekiranya ingin benar-benar mengenali Rasulullah s.a.w.

Akal — Tahu

Hati — Kenal

Mungkin telah banyak yang kita baca daripada sirah Rasulullah, tetapi sejauh mana ia meresap ke dalam hati untuk dirasai? Dengan cuba meneladani Baginda setiap masa, barulah kita diberi hidayah oleh Allah untuk benar-benar mengenali dan seterusnya mencintai  Rasulullah.

Untuk cinta, mesti kenal. “Tak kenal, maka tak cinta.” Apabila kita mengenali Rasulullah s.a.w., barulah kita boleh mencintainya. Justeru, tuntutan yang paling utama selepas mengenal Allah adalah dengan mengenal Rasulullah.

Ironinya, bagaimana mungkin ibu bapa mampu mengenalkan dan menyemai rasa cinta kepada Rasulullah kepada anak-anak jika diri mereka sendiri pun belum mengenali dan mencintai Baginda?

Mengenali Rasulullah s.a.w. melibatkan dua dimensi, seperti berikut:

Dimensi Contoh
Lahiriah Personaliti Rasulullah yang merangkumi nama, rupa fizikal, ahli keluarga dan lain-lain.
Rohaniah Aspek keyakinan, prinsip dan strategi perjuangan Rasulullah.

Tidak memadai jika kita mencintai Rasulullah s.a.w. hanya kerana jasad dan tubuh badan Baginda tanpa mengenali dan mencintai perjuangannya. Abu Talib, bapa saudara Nabi sendiri sangat kuat mempertahankan keselamatan nyawa Baginda. Malangnya, dia tidak mendapat hidayah untuk menyakini iman dan Islam yang menjadi perjuangan Baginda.

Oleh sebab itu, mengenali Rasulullah s.a.w. tidak cukup sekadar lahiriah. Kita mesti menyelami roh dan prinsip perjuangan Baginda. Perkenalan tahap pertama (lahiriah), tidak akan menghasilkan cinta yang sempurna.

Sekadar menghafal nama, mengetahui ahli keluarga dan mempunyai maklumat elemen luaran Baginda bukan pengenalan yang hakiki. Mungkin ia boleh menimbulkan minat, tetapi tidak akan membuahkan cinta. Pengenalan yang menghasilkan cinta ialah perkenalan yang meresap ke hati, bukan sekadar di kepala dan juga bukan sekadar hafalan, tetapi penghayatan.

Sedangkan cinta adalah soal hati dan rasa. Atas dasar itulah ramai umat Islam yang belum mencintai walaupun sering mengaku mencintai. Dalam hati cuma boleh menampung satu cinta. Jika cintakan dunia, manusia dan lain-lain masih mendominasi hati, ertinya cinta kepada Rasulullah tidak akan bersemi. Betapa jarang kita mengingati Rasulullah, apatah lagi merindukan untuk berjumpa dengannya.

2. Mematuhi ajaran Rasulullah

Tanda cinta ialah patuh. Pepatah Arab menyatakan: “Seseorang akan menjadi hamba kepada perkara yang dicintainya.” Seorang yang mencintai Rasulullah akan menjadi hamba kepada Allah dengan mengikut sunnah Rasulullah. Kepatuhan seseorang terhadap ajaran Rasulullah adalah bukti yang paling kuat menunjukkan kebenaran cintanya. Tanpa mematuhi ajarannya, dakwaan cinta itu adalah palsu.

Dalam konteks ini, al-Hasan al-Basri dan para salaf pernah menyatakan: “Sesuatu kaum mendakwa bahawa mereka mencintai Allah, lalu mereka diuji oleh Allah dengan menurunkan ayat 31 surah Ali ‘Imran yang bermaksud: ‘Katakan: ‘Jika benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku.’’

Setiap kali berarak, marhaban, bernasyid dan berselawat pada hari keputeraan Rasulullah, sepatutnya peringatan daripada al-Hasan al-Basri inilah yang lebih dititikberatkan.

3. Memuliakan dan menghormati Rasulullah

Kita dianggap memuliakan Rasulullah apabila membenarkan segala berita yang dibawa oleh Baginda, mematuhi segala suruhan, menjauhi segala larangan dan beribadah kepada Allah dengan cara yang ditunjukkannya. Sesiapa yang tidak memenuhi syarat-syarat tersebut, ini bererti dia tidak lagi menghormati Rasulullah walaupun mulutnya mendakwa demikian.

Love is a verb not a word – cinta itu tindakan, bukan perkataan.” Seseorang yang tidak menegakkan sunnah Rasulullah s.a.w. dalam kehidupan kerana kejahilan, kedegilan atau keangkuhan, maka secara langsung atau tidak dia telah menghina Rasulullah. Bahkan, secara sedar atau tidak, sikap itu boleh dikira sebagai meragui kejujuran, keadilan dan kebenaran yang dibawa Baginda.

Pada akhir zaman, bukti mencintai Rasulullah s.a.w. adalah dengan menegakkan sunnah Baginda, namun ia sangat sukar dilakukan seumpama menggenggam bara api. Namun, orang yang cinta, “buta” kepada penderitaan demi mendapat keredaan orang yang dicintainya, akan sanggup melakukan. Ya, cinta itu buta. Begitulah jika kita mencintai Rasulullah, kita sanggup menggenggam “bara api” tersebut dan mengamalkan sunnah Baginda walaupun terpaksa menggigitnya dengan gigi geraham.

Inilah maksud sabda Rasulullah s.a.w.: “Sesungguhnya Islam bermula dengan keasingan dan akan kembali asing seperti permulaan. Berbahagialah orang yang asing.” (Riwayat Muslim)

Rasulullah s.a.w. bersabda lagi yang bermaksud: “Sesungguhnya, di belakang kalian ada hari-hari untuk orang yang bersabar seperti memegang bara api. Mereka yang mengamalkan sunnah pada hari tersebut akan mendapatkan pahala 50 kali daripada kalian yang mengamalkan amalan tersebut.”

Para sahabat bertanya: “Mendapatkan pahala 50 kali daripada kita atau daripada mereka?”

Rasulullah menjawab: “Bahkan 50 kali pahala daripada kalian.” (Riwayat al-Tirmizi, Abu Daud, Ibn Majah, Ibn Hibban dan al-Hakim)

Namun, kita mesti berwaspada pada tipu daya syaitan yang hendak menyesatkan manusia. Bagi mereka yang tidak ingin memuliakan Rasulullah s.a.w., syaitan meniupkan rasa enggan, berat dan angkuh untuk menegakkan sunnah. Manakala, bagi yang sudah mempunyai dorongan untuk memuliakan Baginda, syaitan akan mendorongnya secara keterlaluan hingga ke tahap terlajak dan terlampau.

Hal ini diperingatkan sendiri oleh Rasulullah s.a.w., maksudnya: “Janganlah kamu keterlaluan menyanjung aku sebagaimana sanjungan yang diberikan orang Nasrani terhadap Nabi Isa anak Maryam. Sesungguhnya aku hamba-Nya, oleh sebab itu panggilan aku Abdullah (hamba Allah) dan Rasulullah (pesuruh Allah).” (Riwayat al-Bukhari)

4. Mencintai keluarga, kaum kerabat dan sahabat Rasulullah

Sudah lumrah apabila kita mencintai seseorang, kita akan turut mencintai semua orang yang dicintainya dan segala sesuatu yang membawa kepada kecintaannya. Dalam konteks ini, Rasulullah s.a.w. telah mengajar kita supaya berdoa dengan doa ini: “Ya Allah, berikan cinta-Mu kepadaku, jadikan orang yang mencintai-Mu mencintaiku dan jadikan aku mencintai segala sesuatu yang membawa kepada kecintaan-Mu.”

Justeru, bukti cinta kita kepada Rasulullah s.a.w. adalah dengan mencintai seluruh keluarganya (isteri, anak, cucu dan seterusnya) serta para sahabat Baginda.

Jika ditanya, bagaimana? Jawapannya dengan menghormati para sahabat, mengakui keutamaan ahli bait, memelihara kehormatan dan kedudukan mereka serta benci kepada sesiapa yang menghina mereka. Kita tidak boleh berdiam diri apabila para sahabat dan ahli bait dikecam oleh sesiapa sahaja. Kita mestilah bertindak memberi penjelasan, penerangan dan berhujah dengan cara ilmiah dan amaliah (perbuatan) bahawa mereka memiliki keutamaan dan keistimewaan yang khusus.

Hakikat ini dijelaskan dalam firman Allah, maksudnya: “Orang yang terdahulu lagi yang pertama kali (masuk Islam) dalam kalangan Muhajirin, Ansar dan orang yang mengikut mereka dengan baik. Allah meredai mereka dan mereka pun reda kepada Allah. Dia menyediakan bagi mereka syurga yang mengalir sungai di dalamnya, dan mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (Surah al-Tawbah 9: 100)

Ketika ada sahabat yang menyatakan kebimbangan dengan pelantikan Usamah bin Zaid sebagai jeneral tentera Islam, Rasulullah s.a.w. telah bersabda, maksudnya: “Jika kalian mencela kepimpinannya, maka kalian juga mencela kepimpinan ayahnya sebelum ini. Demi Allah, dia (ayahnya) sangat layak menduduki jawatan panglima dan dia salah seorang yang paling aku cintai. Usamah adalah orang yang paling aku cintai sesudah ayahnya.” (Riwayat al-Bukhari)

Begitu juga rasa cinta yang diucapkan Baginda kepada cucunya iaitu al-Hasan dan al-Husin sehinggakan Baginda mendoakan mereka dengan doa: “Ya Allah, cintailah kedua-duanya kerana aku mencintai kedua-duanya.” (Riwayat al-Bukhari)

Mengakui mencintai Rasulullah tetapi membenci sahabat-sahabat utama Baginda adalah satu pendustaan. Padahal, keutamaan para sahabat dan generasi awal Islam telah ditegaskan oleh Rasulullah sendiri melalui sabdanya yang bermaksud: “Sebaik-baik manusia ialah (manusia yang hidup dalam) kurunku, kemudian mereka yang mengikutinya (tabi) dan mereka yang mengikutinya (tabi tabiin).” (Riwayat al-Bukhari)

5. Mencintai ulama yang gigih berdakwah

Ulama ialah pewaris nabi. Merekalah golongan yang paling teguh berpegang dengan sunnah dan gigih berdakwah menyebarkan Islam sejak dahulu sehingga kini. Di bahu merekalah terletaknya amanah untuk meneruskan perjuangan menegakkan Islam kepada umat setelah tidak akan ada lagi nabi atau rasul yang akan diutuskan kepada umat manusia. Tidak kira di mana-mana pun kedudukan kita sama ada sebagai umara atau umat, ulama mesti diletakkan sebagai penasihat, murabbi bahkan pembimbing ke jalan kebenaran.

Kita dituntut memuliakan ulama silam yang banyak berjasa dan menjaga warisan ilmu dengan penuh iltizam, ikhlas dan profesional. Mereka mewariskan kitab muktabar dan generasi ilmuwan yang meneruskan legasi kecemerlangan sehingga pada zaman kini. Walaupun mungkin sebagai manusia biasa, para ulama juga tidak terlepas daripada kekhilafan dan kesilapan, namun itu bukan alasan untuk memandang rendah apatah lagi mencerca mereka.

Alangkah baik sekiranya ada perbezaan sesama mereka (walau bagaimana besar sekalipun perbezaan itu) kita menerima dengan berlapang dada dan penuh adab.

Menghormati ulama silam sangat perlu berdasarkan ‘ibrah yang dijelaskan oleh firman Allah, maksudnya: “Dan orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, maksudnya: ‘Wahai Tuhan kami, berikan keampunan kepada kami dan saudara kami yang telah beriman terlebih dahulu daripada kami. Janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang beriman. Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.’” (Surah al-Hashr 59: 10)

Mencintai Kerana Allah

Selepas mencintai Allah dan Rasul-Nya, kepada siapa lagi perlu kita mencintai? Ya, kita boleh mencintai sesiapa dan apa-apa sahaja dengan syarat diniatkan mencintai Allah. Mencintai Allah adalah sumber cinta semua dan segala-galanya. Justeru, cintailah Allah…

Rasulullah mampu mencintai isteri, anak, cucu, menantu, sahabat malah seluruh umatnya. Jika Rasulullah mencintai Mu‘az kerana Allah, maka kita juga mesti mencintai orang lain kerana Allah. Mencintai seseorang kerana Allah dan Rasul-Nya juga dikira mencintai Allah.

Namun, dalam apa-apa jua keadaan sekalipun, kecintaan kepada makhluk tidak boleh melebihi cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Firman Allah yang bermaksud:

“Jika bapa, anak, saudara, isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khuatiri kerugian dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (daripada) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sehingga Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang fasiq.” (Surah al-Tawbah 9: 24)

Umar al-Khattab berkata kepada Rasulullah s.a.w.: “Wahai Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku sendiri.”

Nabi s.a.w. bersabda, maksudnya: “Tidak, demi Allah yang diriku berada di tangan-Nya sehingga aku lebih dicintai daripada dirimu sendiri.”

Umar r.a. berkata: “Sesungguhnya, demi Allah sekarang engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.” (Riwayat al-Bukhari)

Adakah rasa hati kita telah merasai seperti yang pernah dirasai oleh Sayidina Umar? Adakah Rasulullah s.a.w. lebih kita cintai daripada diri kita sendiri?

Masya-Allah, semuanya masih jauh. Soalan “di mana Rasulullah di hati kita?” adalah satu persoalan yang perlu dijawab dengan jujur oleh setiap Muslim kerana kedudukan Rasulullah di hati kita adalah pengukur kedudukan Allah di hati kita. Di mana Allah di hati kita juga menentukan sejauh mana kebahagiaan, kejayaan, ketenangan, keselamatan dan keharmonian hidup kita di dunia dan akhirat.

Sources :http://genta-rasa.com/2014/01/17/cinta-rasululah-cinta-terindah/

TAUBAT

istigfardankelebihannya

TAUBAT

                        Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Ubaid bin Umair berkata: “Adam a.s. berkata: “Ya Robbi, Engkau telah memenangkan Iblis atasku sehingga aku tidak dapat mengelakkan diri padanya kecuali dengan pertolonganMu.” Firman Allah s.w.t.: “Tiada lahir seorang anak keturunanmu melainkan telah aku datangkan kepadanya yang menjaganya dari tipu daya iblis, dan dari jin-jin yang jahat.” Adam berkata: “Tambahkan bagiku.” Jawab Allah s.w.t.: “Aku beri pahala setiap hasanat sepuluh lipat ganda dan ada harapan ditambah, sedang kejahatan satu lawan satu, dan ada harapan dihapuskan.” Adam berkata: “Tambahkan bagiku.” Firman Allah s.w.t.: “Taubat tetap diterima selama roh dikandung badan.” Adam berkata: “Tambahkan bagiku.” Firman Allah s.w.t.: “Qul ya ibadziyal ladzina asrafu ala anfusihim lataq nathu min rahmatillahi innallaha yagh firudzdzunuha jami’a, in nahu hauwal ghafururrahiem.” Yang bermaksud: “(Katakanlah: Hai hambaKu yang telah memboros dari menggunakan masa hidup untuk amal yang tidak berguna) kamu jangan putus harapan dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah dapat mengampunkan semua dosa, sesungguhnyaAllah maha pengampun lagi penyayang.)

                        Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Abbas r.a. berkata: “Bahawasanya Wahsyi yang membunuh Hamzah r.a., pakcik Rasulullah s.a.w. menulis surat kepada Rasulullah s.a.w. dari Mekkah: “Sesungguhnya saya ingin masuk Islam tetapi terhalang oleh ayat (Yang berbunyi): Walladzina laa yad-una Allahi ilahanakhoro, wala yaqtuluna nafsallati harramallahu illa bilhaqqi walla yaznun, waman yaf’al dzalika yaiqa atsaamaa. (Yang bermaksud) Dan mereka yang tidak mempersekutukan Allah dengan tuhan yang lain dan tidak membunuh jiwa yang telah diharamkan Allah kecuali dengan hak dan tidak berzina, dan siapa yang berbuat itu maka ia menanggung dosa-dosa. Sedang saya telah berbuat semua itu, maka apakah ada jalan bagiku untuk taubat?

                        Maka turun ayat yang berbunyi: “Illa man taba waamana wa amila amalan salihin fa ula ika yubaddilullahu sayyiantihim hasanaat.” (Yang bermaksud): Kecuali orang yang taubat dan beriman soleh, maka untuk mereka Allah akan menggantikan dosa-dosa mereka dengan hasanat.

                        Maka Nabi Muhammad s.a.w. mengirim ayat tersebut kepada Wahsyi lalu dijawab oleh Wahsyi: “Bahawa didalam ayat ini ada syarat iaitu harus beramal soleh, sedang saya belum tahu apakah dapat melakukan amal soleh atau tidak.” Maka turun ayat (Yang berbunyi): “Inna Allah la yagh firu yusyroka bihi wayaghfiru ma dunia dzalika liman yasya’u.” (Yang bermaksud): “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni pada siapa yang mempersekutukanNya dan mengampuni semua dosa selain syirik itu, bagi siapa yang dikehendakiNya.

                        Ayat ini dikirimkan kepada Wahsyi. Jawab Wahsyi: “Didalam ayat ini juga ada syarat dan saya tidak mengetahui apakah Allah s.w.t. hendak mengampuni saya atau tidak.” Maka turun ayat (Yang berbunyi): “Qul ya ibadiyalladzina ala antusikum, laa’ taqnathu min rahmatillahi innallah yagh firudz dzunuba jami a innahu huwal ghafurrahiem.” (Yang bermaksud): “Katakanlah: Hai hambaKuyang telah memboros diri, janganlah kamu putus harapan dari rahmat Allah, sesungguhnya Allah dapat mengampuni semua dosa, sungguh Allah maha pengampun lagi penyayang.

                        Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Sufyan berkata: “Muhammad bin Abdulrahman Assulami menulis surat kepadaku: Ayahku menceritakan kepadaku: Saya duduk dekat Nabi Muhammad s.a.w. diMadinah, lalu ada seorang diantara mereka berkata: Saya telah mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Siapa yang taubat sebelum mati setengah hari, maka Allah s.w.t. memaafkan padanya. Lalu saya bertanya: Benarkah kau mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda demikian? Jawabnya: Ya. Tiba-tiba ada lain sahabt berkata: Saya telah mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Siapa taubat sebelum matinya sekira sesaat, maka Allah s.w.t. memaafkan baginya. Kemudian ada yang lain berkata: Saya telah mendengar Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Siapa taubat sebelum tercabut nyawa dari tenggoroknya maka Allah s.w.t. memaafkan baginya.”

                        Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Mutharrif berkata: “Allah s.w.t. berfirman: Amboi, anak Adam berbuat dosa lalu minta ampun, maka Aku ampunkan tetapi kemudian ia mengulangi dosanya lalu minta ampun, maka Aku ampunkan, amboi kasihan, ia tidak dapat meninggalkan dosanya tetapi ia pula tidak putus harapan dari rahmatKu, hai paraMalaikatKu, Aku persaksikan kepada kamu bahawa Aku telah mengampuni baginya.”

                        Abul-Laits Assamarqandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Al-a’masy dari seorang dari Mughits bin Sumai berkata: “Ada seorang pada ummat-ummat yang dahulu, ia selalu berbuat maksiat, maka pada suatu hari ketika ia sedang berjalan, teringat pada perbuatan-perbuatannya yang lalu, maka ia berdoa: Allahumma ghufranaka (Yang bermaksud) Ya Allah, aku harap ampunanMu sebanyak tiga kali, mendadak ia mati, maka Allah s.w.t. mengampuni baginya.”

                        Muhammad bin Ajlan dari Makhul berkata: “Saya mendapat keterangan bahawa Nabi Ibrahim a.s. ketika diperlihatkan oleh Allah s.w.t. alam malakut dilangit, ia melihat hamba Allah dibumi yang sedang berzina, maka ia berdoa sehingga binasalah hamba itu, kemudian ia melihat orang yang sedang mencuri, maka ia berdoa sehingga dibinasakan oleh Allah s.w.t., lalu Allah s.w.t. berkata kepadanya: “Ya Ibrahim, biarkan urusan hambaKu kerana hambaKu itu diantara ia bertaubat maka Aku memaafkan atau akan melahirkan turunan yang ibadat kepadaKu atau ia memang celaka, maka untuknya telah tersedia jahannam untuk tempatnya dihari kemudian.”

                        Abul-Laits berkata: “Berita ini sebagai dalil bahawa seorang hamba bila bertaubat maka Allah s.w.t. menerima taubatnya dan mengampuninya, kerana itu seharusnya manusia tidak putus harapan darirahmat Allah s.w.t. Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: “Innahu layaiasu min rouhillah illal qaumul kafirun.” (Yang bermaksud) “Sesungguhnya tidak akan patah dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.”

                        Di lain ayat pula berbunyi: “Wahuwalladzi yaqbalut taubata an ibadihi waya’fu annissanyyi ati.” (Yang Bermaksud): “ Dialah Allah yang menerima taubat hamba-hambaNya dan memaafkan perbuatan-perbuatan yang jelek (dosa): (Surah: Assuya ayat 25)

                        Maka seharusnya bagi seorang yang sempurna akal bertaubat pada tiap waktu supaya tidak tergolong pada orang-orang yang dalam derhaka, sebab seorang yang selalu bertaubat tidak dianggap selalu didalam dosa meskipun ia mengulangi dosa itu sehari sampai tujuh puluh kali, sebagaimana riwayat  Abubakar Assidiq r.a. dari Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak dianggap terus menerus berbuat dosa orang yang selalu membaca istighfar (minta ampun) meskipun ia mengulangi dalam sehari tujuh puluh kali. Rasulullah s.a.w. juga bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya saya bertaubat kepada Allah tiap hari seratus kali.”

                        Ali bin Abi Talib r.a. berkata: “Saya bila mendengar langsung dari Rasulullah s.a.w. maka saya pergunakan dan bila diberitahu oleh lain orang maka saya sumpah jika ia berani sumpah saya percaya. Abu bakar r.a berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak seorang hamba yang berdosa kemudian ia wudhu dengan sempurna kemudian sembahyang dua rakaat dan membaca istisgfar (minta ampun) kepada Allah melainkan diampunkan oleh Allah baginya. Kemudian Rasulullah s.a.w. membaca ayat (Yang berbunyi): “Wa man ya’mal su’an yadh lim nafsa hu tsumma yas tagh firillah yajidillaha ghafura rahiema. (Yang bermaksud): Dan siapa berbuat kejahatan atau aniaya pada diri sendiri kemudian membaca istighfar (minta ampun) pasti akan mendapatkan Allah maha pengampun lagi penyayang.”

                        Dilain riwayat Rasulullah s.a.w. memperdengarkan ayat: “Walladzina idza fa’lahu fahisyatan au dholamu anfusahum dzakarullaha fastagh faru lidzu-nubihim, waman yagh firudzdzunuba illa Allah, walam yashirru ala maa fa’alu wahum ya’lamun (135) Ula’ika jazaa’uhum maghdiratun min robbihim wa jannatun tajri min tahtihal anharu kholidina fiha wani’ma ajrul amilin (136).(Yang bermaksud): “Dan mereka yang bila berbuat kekejian atau zalim terhadap siri sendiri, langsung ingat kepada Allah lalu minta ampun dari dosa mereka, mengerti benar-benar bahawa tiada yang mengampunkan dosa kecuali Allah, dan tidak merahajalela dalam dosanya, sedang mereka mengetahui. Untuk mereka tersedia pengampunan Tuhan dan syurga yang mengalir dari bawahnya beberapa sungai, ekkal mereka didalamnya, sebaik-baik pahala bagi yang beramal.” (Surah: Al-Imran 135-136)

                        Al-Hasan Albashri berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “ Ketika Allah s.w.t. menurunkan iblis laknatullah ia berkata: Demi kemuliaanMu, saya tidak akan melepaskan anak Adam sehingga ia terpisah dengan rohnya, maka dijawab Allah s.w.t.: Demi kemuliaan dan kebesaranKu, saya tidak akan menutupkan jalan taubat dari hambaKu sehingga rohnya berada ditenggoroknya (hampir mati).”

                        Al-Qasim meriwayatkan dari Abu Umamah Albahili r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Malaikat yang dikanan lebih kuasa terhadap malaikat yang dikiri, maka bila seseorang berbuat kebaikan, langsung dicatat olehnya sepuluh hasanat dan apabila berbuat kejahatan lalu akan ditulis oleh malaikat kiri, diperingatkan oleh yang dikanan, tahan dahulu kira-kira enam atau tujuh jam, maka bila ia membaca istighfar (minta ampun) atau dicatat apa-apa, dan jika tidak membaca istighfar, lalau dicatat satu kejahatan (sayyi’at).”

                        Abul-Laits berkata: “Ini sesuai dengan hadis (Yang berbunyi): “Atta’ibu minzda-dzanbi kaman la dzanba lahu.” (Yang bermaksud): “Orang yang taubat dari dosa bagaikan tidak berdosa.” Dilain riwayat pula berbunyi: “Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa, tidak segera dicatat sehingga berbuat dosa yang lain, kemudian jika berbuat dosa lagi, juga tidak ditulis sehingga berbuat dosa yang ketiga, maka jika berkumpul lima dosa, sedang yang lima digantinya lima dosa itu. Maka disitu iblis laknatullah menjerit: Bagaimana saya akan dapat membinasakan anak Adam, sedang saya telah berusaha untuk menjerumuskan lima kali, tiba-tiba dibatalkan dengan satu hasanat, maka hilang semua usahaku itu.

                            Shafwan bin Assaal Almuradi r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Disebelah barat ada pintu gerbang besar yang dibuat oleh Allah untuk pintu taubat lebarnya sekira perjalanan 40-70 tahun, tetap terbuka dan tidak ditutup sehingga matahari terbit dibarat.” Said bin Almusayyab mengertikan ayat (Yang berbunyi): “Innahu kaana awwabina ghafura.” (Yang bermaksud): “Sesungguhnya Allah bagi orang yang selalu kembali kepadaNya maha pengampun.” Iaitu orang yang berdosa kemudian bertaubat kemudian berdosa lagi dan bertaubat.

                        Seorang ahli hikmah berkata: “Sifat orang aarif (yang menegnal Allah s.w.t.) ada enam iaitu:

  • Jika ingat kepada Allah s.w.t. maka dia berbangga.

  • Jika ingat pada dirinya maka dia merasa rendah.

  • Jika melihat ayat-ayat Allah s.w.t. maka dia mengambil iktibar.

  • Jika ingin bermaksiat maka dia menahan diri

  • Jika ingat maafnya Allah s.w.t. maka dia gembira

  • dan Jika ingat dosa-dosanya maka minta ampun

                        Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Azzuhri r.a. berkata: ” Pada suatu hari Umar masuk kepada Nabi Muhammad s.a.w. sambil menangis. maka ditanya:” Ya Umar, mengapakah kau menangis?.” Jawabnya: “Ya Rasulullah, dimuka pintu ini ada seoarng pemuda telah membakar hatiku sambil menangis.” Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Ya Umar, masukkan dia kepadaku.” Maka dimasukkan sambil menangis dan ditanya Nabi Muhammad s.a.w.: “Hai pemuda, apakah yang menyebabkan kau menangis?” jawabnya: “Ya Rasulullah, saya menangis kerana dosa-dosaku banyak sedang aku takut kepadaTuhan yang maha perkasa sedang murka kepadaku.” Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: “Apakah kau mempersekutukan Allah s.w.t., hai pemuda?” Jawabnya: “Tidak.” Nabi Muhammad s.a.w. bertanya lagi: “Apakah kau membunuh jiwa tanpa hak?” Jawab pemuda itu: “”Tidak.” Sabda Nabi Muhammad s.a.w.Maka Allah s.w.t. akan mengampunkan dosamu walaupun sebesar tujuh petala langit dan bumi dan bukit-bukit.” Jawab pemuda itu: “Ya Rasulullah, dosa ku lebih besar dari langit, bumi dan bukit-bukit.” Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: “Dosamu lebih ataukah alkursi?” Jawab pemuda itu: “Dosaku lebih besar.” Nabi Muhammad s.a.w. bertanya lagi: “Dosamu lebih besar ataukah arsy?” Jawab pemuda itu: “Dosaku leboh besar.” Nabi Muhammad s.a.w. bertanya lagi: “Dosamu lebih besar atau maafnya Allah s.w.t.?” Jawab pemuda itu: “Maafnya Allah s.w.t. lebih besar.” Sabda Nabi Muhammad s.a.w.: “Sungguh tidak dapat mengampunkan dosa besar kecuali Allah s.w.t. yang maha besar, yang maha maaf dan ampunanNya. Hai pemuda beritakan kepadaku, apakah dosamu itu?” Jawab pemuda itu: ” Jawabnya: “Saya malu dari engkau, ya Rasulullah.” Nabi Muhammad s.a.w. menekan: “ Beritakan kepadaku apakah dosamu itu?.” Jawab pemuda itu: ” Ya Rasulullah, saya tukang gali kubur sejak tujuh tahun lalu dan pada suatu hari saya menggali kubur gadis dari kaum Ansar dan setelah saya telanjangi dari kafannya, saya tinggalkan tetapi tidak jauh bangkit hawa nafsuku, maka saya kembali dan mensetubuhi mayit gadis itu hingga puas lalu saya tinggalkan, belum jauh tiba-tiba gadis itu bangkit dan berkata: “Celaka kau hai pemuda, tidakkah malu engkau dari Tuhan yang akan membalas pada hari pembalasan kemudian, bila tiba masanya tiap orang zalim akan dituntut oleh orang yang dianiaya, kau birkan saya telanjang dan kau hadapkan aku dihadapan Allah sebagai orang janabat.” Nabi Muhammad s.a.w. mendengar keterangan itu segera bangkit bagaikan terdorong dari belakang sambil berkata: “Hai fasik, alangkah layaknya engkau masuk neraka, keluarlah dari sini.” Maka keluarlah pemuda itu bertaubat kepada Allah s.w.t. selama empat puluh hari dan pada malam keempat puluh ia melihat kelangit sambil berkata: “Ya Tuhannya Nabi Muhammad,Nabi Adam dan ibu Hawwa, jika Engkau telah mengampunkan aku maka beritahulah kepada Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya, jika tidak maka kirimkan pada aku api dari langit dan bakarlah aku didunia ini, dan selamatkan aku dari siksa akihirat.” Maka turun malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan sesudah memberi salam ia berkata: “Ya Muhammad, Tuhanmu memberi salam kepadamu.” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.Dialah Assalam, dan daripadanya salam kepadamu dan kepadaNya segala keselamatan.” Jibril berkata: “Allah bertanya, apakah kau menjadikan makhluk?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.Bahkan Allah yang menjadikan aku dan semua makhluk.” Lalu ditanya: “Apakah kau memberi rezeki kepada mereka?” Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: “Bahkan Allah memberi rezeki kepadaku dan mereka.” Kemudian ditanya lagi: “Apakah kau memberi taubat kepada mereka?.” Nabi Muhammad s.a.w. menjawab: “Bahkan Allah memberi taubat kepadaku dan mereka.” Lalu Jibril berkata Allah s.w.t.berfirman: “ Maafkanlah hambaKu itu kerana Aku telah memaafkan padanya.” Maka Nabi Muhammad s.a.w. segera memanggil pemuda itu dan memberitahu padanya bahawa Allah s.w.t. telah menerima taubat kepadanya dan memafkannya.”

                        Abul-Laits berkata: “Seharusnya orang yang berakal memperhatikan kejadian ini dan mengerti bahawa zina dengan yang masih hidup itu lebih besar dosanya daripada zina dengan mayit. Juga harus bertaubat yang betul (sungguh-sungguh) sebagaimana pemuda itu ketika taubatnya benar-benar maka Allah s.w.t. memaafkannya.”

                        Ibn Abbas r.a. ketika menerangkan ayat (Yang berbunyi): “Ya ayyuhal ladzina amanu tubu ilallahi taubatan nashuha.” (Yang bermaksud): “Hai orang yang beriman, taubatlah kamu kepadaAllah taubat yang nashuh (Sesungguh-sungguhnya).” Iaitu menyesal dalam hati dan istighfar dengan lidah dan niat tidak akan mengulangi lagi selamanya. Ada riwayat bahawa Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Istighfar hanya dengan mulut sedang tetap terus berbuat dosa bagaikan mempermainkan Tuhannya.”

                        Rabi’ah al-Adawiyah berkata: “Istighfarkami ii memerlukan kepada istighfar yang banyak, iaitu istighfar dengan lidah sedang hatinya niat akan mengulangi perbuatan dosanya, maka taubatnya ialah taubat orang yang dusta dan ini tidak bernam taubat sebab syarat taubat ini ada tiga iaitu:

  • Menyesal dalam hati

  • Istighfar dengan lidah

  • dan niat tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi.

                        Jika demikian maka pasti Allah s.w.t. mengampunkan baginya walau bagaimana besarnya dosa itu sebab Allah s.w.t. itu suka memaafkan pada hambaNya.

                        Pernah terjadi pada suatu masa dahulu raja Bani Israil diberitahu bahawa ada seorang ahli ibadah yang taat, maka raja itu tertarik sehingga ia memanggil orang ibadat itu dan diminta supaya suka menjadi sahabat raja dan sering datang keistana. Maka oleh orang ibadat itu menjawab: “Tawaran tuan raja itu baik tetapi bagaimana andaikan pada suatu hari saya bermain-main dengan babu raja, bagaimana tuan raja akan berbuat terhadap aku?” Tiba-tiba raja itu menjadi marah dan berkata: “Hai pelacur, kau berani berbuat itu didepabku?” Lalu ahli ibadat itu berkata: “Saya telah mempunyai Tuhan yang sangat pemurah, andaikan saya berbuat tujuh puluh kali dosa, nescaya tidak murka dan tidak mengusir aku bahkan tidak dikurangi rezekiku, maka bagaimana saya akan meninggalkan pintu Tuhan dan pindah pada orang sudah marah kepadaku sebelum aku bersalah, maka bagaimana kalau benar0benar engkau melihat aku telah berbuat salah (dosa) itu.” Kemudian dia keluar dari istana raja itu.

                        Abul-Laits berkata: “Dosa ada dua macam iaitu dosa antara kamu dengan Allah s.w.t. dan dosa antara kamu dengan semua manusia. Adapun antara kamu dengan Allah s.w.t. maka syarat taubatnya ada tiga iaitu:

  • Menyesal dalam hati

  • Istighfar dengan lidah

  • dan niat tidak akan mengulangi perbuatan dosa itu lagi.

Maka siapa yang melakukan tiga syarat ini, tidak bangun dari tempatnya melainkan sudah diampunkan oleh Allah s.w.t. kecuali jika ia meninggalkan salah satu fardhu yang diwajibkan oleh Allah s.w.t. maka tidak berguna taubatnya selama belum menyelesaikan kewajipan terhadap dirinya itu, lalu menyesal dan istghifar. Adapun dosa yang terjadi antaramu dengan sesama manusia maka selama mereka belum menghalalkan, maka tidak berguna bagimu taubat.”

                        Seorang ulama tabi’in berkata: “Adakalanya seorang yang berdosa, selalu teringat akan dosa dan menyesal serta minta ampun sehingga ia masuk syurga, sehingga syaitan laknatullah mengeluh: Celaka diriku, andaikan aku tahu nescaya tidak aku jerumuskan ia kedalam dosa itu.”

                        Abubakar Alwasithi berkata: “Sabar tidak keburuan dalam segala perbuatan itu baik kecuali dalam tiga macam iaitu:

  • Ketika tiba waktu sembahyang maka harus segera dilaksanakan

  • Ketika kematian harus segera diselesaikan dan dikuburkan secepat mingkin dan 

  • Ketika akan taubat dari dosa maka jangan ditunda

                        Seorang Hakiem berkata: “Taubat seorang akan ternyata dalam empat macam iaitu:

  • Jika telah dapat mengendalikan lidahnya daripada dusta, ghibah dan kata-kata yang tidak penting baginya

  • Jika sudah tidak ada rasa hasud, dengki, iri hati terhadap semua manusia 

  • Jika telah menjauhi teman-teman yang busuk dan 

  • Selalu siap menghadapi maut, rajin dalam taat dan selalu istighfar menyesali dosa.

                        Seorang Hakiem ditanya: “Apakah ada tanda bahawa taubat itu telah diterima?” Jawabnya: “Ya, ada empat tanda iaitu:

  • Putus hubungan dengan kawan-kawan yang tidak baik dan bersahabat dengan orang-orang solihin

  • Menghentikan semua maksiat dan rajin melakukan taat

  • Hilang rasa kesenangan kepada dunia kepada hatinya dan selalu ingat kesusahan akhirat

  • Percaya pada jaminan Allah s.w.t. dalam soal rezeki, lalu sibuk mengerjakan perintah Allah s.w.t.

                        Maka bila terdapat semua sifat itu ia termasuk pada ayat yang berbunyi: “Innallaha yuhibbuttawwabina wa yuhibbul metathahirin. (Yang bermaksud): “Sesungguhnya Allah kasih pada orang yang taubat dan kasih pada orang yang suka bersuci.” Kemudian ia berhak dari orang-orang empat macam iaitu:

  • Mereka cinta kepadanya kerana Allah telah cinta kepadanya

  • Mereka akan memeliharanya dengan selalu mendoakannya

  • Mereka lupa terhadap dosa-dosanya yang lalu

  • Mereka selalu mendekat dan membantu serta mendekatinya

                        Dan Allah s.w.t. akan memuliakannya dengan empat macam perkara iaitu:

  • Melepaskannya dari dosa sehingga seolah-olah tidak pernah berdosa

  • Dicintai Allah s.w.t.

  • Dipeliharanya dari gangguan syaitan laknatullah

  • Diamankan dari rasa takut sebelum keluar dari dunia

                        Seperti mana firman Allah s.w.t. yang berbunyi: “Tatanazzalu alaihimul malaikatu alla takhafu wala tahzanu, waabsyiru bil jannatillati kuntum tu’adun.” (Yang bermaksud): “Akan turun kepada mereka malaikat yang memberitahu supaya jangan takut dan jangan susah dan sambutlah khabar baik kamu akan masuk syurga yang telah dijanjikan untukmu.”

                        Khalid bin Ma’dan berkata: “JIka orang-orang yang taubat itu telah dimasukkan kesyurga mereka bertanya: “Tidakkah Tuhan berjanji bahawa kami akan melewati neraka sebelum masuk syurga?” Maka dijawab: “Ketika kamu melaluinya ia sedang padam.”

                        Alhasan berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Ketika selesai melaksankan hukum rejam terhadap wanita yang berzina sehingga mati, lalu menyembahyangkannya, ditegur oleh sebahagian sebahat Rasulullah s.a.w.: Ya Rasulullah, engkau yang menghukum rejam kemudian kamu sembahyangkannya?” Jawab Rasulullah s.a.w.: Sungguh ia telah taubat yang andaikan ia berbuat tujuh puluh kali seperti itu nescaya diampunkan Allah, yakni ia telah taubat benar-benar dan taubat yang benar-benar itu pasti diterima meskipun bagaimana besarnya dosa, tetap akan diampunkan.”

                        Juga diriwayatkan dari Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Siapa yang mengejek seorang mukmin kerana dosa, maka ia bagaikan yang mengerjakannya danlayak bila Allah menjerumuskannya kedalam dosa itu. Dan siapa yang mengejek orang mukmin kerana suatu dosa, maka ia tidak akan keluar dari dunia sehingga melakukan dosa itu dan terbuka rahsianya dimuka umum sehingga merasakan malunya.”

                        Abul-Laits berkata: “Seorang mukmin tidak sengaja berbuat dosa sebab Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): “Wa karraha ilaikumul kufra walfusuqa wal ishyan.” (yang bermaksud): “Ddan Allah membencikan kepadamu kekafiran, kefasikan dan maksiat.” Kerana itu seorang mikmin tidak mungkin sengaja berbuat dosa tetapi boleh terjadi padanya disaat ia lalai, tidak kuat menahan nafsu syahwat yang sedang meluap, kerana itu tidak boleh dicemuhkan, jika ia telah bertaubat.

                        Ibn Abbas r.a. berkata: “Jika seorang hamba taubat dan diterima oleh Allah s.w.t., maka Allah s.w.t. melupakan malaikat yang mencatat amal apa yang telah mereka tulis, juga anggota badannya pun lupa apa yang pernah dilakukan dari dosa, juga Allah s.w.t. melupakan bumi dimana ia berbuat dosa diatasnya, supaya ia datang pada hari kiamat dan tiada sesuatupun yang menyaksikan perbuatan yang pernah dilakukan itu.

                        Ali bin Abi Thalib ra. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tertulis dikeliling arsy sebelum dijadikan makhluk sekira empat ribu tahun: “Wainni laghaffarun liman taba wa aamana wa amila shaliha tsumahtada. (Yang bermaksud): Sesungguhnya Aku (Allah s.w.t.) maha pengampun bagi siapa yang taubat dan beriman dan beramal soleh dan mengikuti petunjuk.”

                        Abil-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Abbas r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. menceritakan bab pintu taubat, lalu ditanya oleh Umar bin Alkhoththob: “Apakah pintu taubat itu, ya Rasulullah?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Pintu taubat itu dihujung barat, mempunyai dua daun pintu dari emas bertaburkan mutiara dan yaqut, antara kedua tiang pintu itu sejauh perjalanan empat puluh tahun bagi orang yang berkenderaan kencang (cepat) dan pintu itu tetap terbuka sejak dijadikan Allah hingga malam yang akan terbit matahari pada paginya, dan tiada seorang hamba yang taubat benar-benar melainkan masuk taubatnya dari pintu itu. Mua’dz bin Jabal r.a. bertanya: “Ya Rasulullah, apakah taubat nashuh itu?” Jawab Rasulullah: “Ialah menyesal atas perbuatan dosanya dan niat tidak akan mengulangi lagi, kemudian minta mapun kepada Allah s.w.t. Kemudian matahari dan bulan terbenam dipintu itu, lalu tertutup kedua daun pintu itu bagaikan tidak ada retaknya, maka ketika itu tidak lagi diterima taubat dan tidak diterima amal yang baru sesudah tertutup pintu itu, dan semua orang menurut keadaannya sebelum itu, jika ia baik maka dilanjutkan kebaikannya, sebagaimana firman  Allah s.w.t. (Yang berbunyi):Yauma ya’ti ba’dhu aayati robbika la yanfa’u nafsan imanuha lam takun amanat min qablu au kasabat fi imaniha khoiro. (Yang bermaksud): “Pada saat tibanya sebahagian ayat-ayat Tuhanmu, maka tidak berguna bagi seseorang iman yang baru, bila tidak beriman sejak sebelumnya, atau telah berbuat dimasa imannya dahulu kebaikan.”

                        Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata: “Taubat nashuh itu ialah sesudah taubat tidak mengulangi lagi, dan pintu taubat itu yeyap terbuka dan diterima dari siapapun kecuali tiga iaitu:

  • iblis laknatullah iaitu induk semua kekafiran

  • Qabil iaitu induk dari semua yang sial dan celaka dan

  • orang yang membunuh nabi

Sedang pintu taubat itu disebelah barat lebarnya kira-kira perjalanan emapt puluh tahun tidak akan ditutup sehingga ternit matahari daripadanya (dari barat).

                        Abul -laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abuhurairah r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Taubat itu tergantung diudara, berseru siang malam tidak berhenti-henti: Siapa yang akan menerima aku, tidak akan tersiksa dan keadaan itu selamanya, sehingga matahari terbit dari barat, maka apabila matahari telah terbit dari barat, maka ia terangkat.”

                        Semua keterangan ini menganjurkan supaya bertaubat dan siapa yang bertaubat akan diterima taubatnya sebagaimana firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi): “Wa tubu ilallahi jami’a ayyuhal mu’minun la’allakum tuflihun.” (Yang bermaksud): “Dan taubatlah kamu semua hai orang-orang mukminun supaya kamu bahagia. Selamat dari siksaNya dan mencapai rahmatNya.” Sesungguhnya taubat itu pembuka dari segala kebaikan dan menyebabkan keselamatnnya dan kebahagiaan tiap mukmin. Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): “Ya ayyuhal ladzina amanu tubu ilallahi taubatan nashuha, asa rabbukum an yukaffira ankum sayyiatikum, wa yud khilkum jannatin tajri min tahtihal anharu.” (Yang bermaksud): “Hai orang-orang yang beriman, taubatlah kamu dengan sungguh-sungguh kepada Allah, semoga Tuhan menghapuskan dosa-dosamu dan memasukkan kamu kesyurga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai.” (Surah: Attahrim: ayat 8)

                        Dan ayat yang lain pula berbunyi: “Walladzina idza fa’alu fa hisyatan au dholamu anfusahum dzakarullaha fastaghfaru lidzunubihim, waman yaghfirudz dzunuba illallahu, walam yashirru ala ma fa’alu wahum ya’lamun.” (Yang bermaksud): “Dan mereka yang bila berbuat dosa besar yang keji atau aniaya pada dirinya (berbuat dosa kecil), lalu ingat kepada Allah dan minta ampun untuk dosanya, kerana tidak ada yang mengampunkan dosa kecuali Allah, dan tidak tetap selalu berbuat dosa, sedang mereka mengetahui akan dosa maksiat.” (Surah Al-Imran ayat 135)

                        Said bin Abi Burdah meriwayatkan dari ayahnya dari neneknya berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya saya membaca istighfar minta ampun dan taubat tiap hari seratus kali.” Dilain riwayat pula: “Hai manusia, taubatlah kamu kepada Allah, maka saya bertaubat kepada Allah tiap sehari semalam seratus kali.”

                        Apabila Nabi Muhammad s.a.w. beristighfar dan taubat tiap hari seratus kali, padahal telah diampuni oleh Allah s.w.t. semua dosanya yang lalu dan yang akan datang, maka bagaimana kita yang belum mengetahui apakah diampunkan atau tidak? Apakah tidak selayaknya taubat tiap waktu dan tidak berhenti-henti membaca istighfar.

                        Ibn Abbas r.a. ketika mentafsirkan ayat yang berbunyi: “Bal yuridul insanu liyafjura amamah.” (Yang bermaksud): “Bahkan manusia itu mengutamakan dosanya dari menunda-nunda taubatnya.” Ia selalu berkata: “Kelak akan taubat sehingga tibalah maut dalam keadaan yang sejelek-jeleknya ia mati.”

                        Juwaibir meriwayatkan dari Adhdhahhak dari Ibn Abbas r.a. berkata Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: ” Pasti akan binasa orang yang menunda-nunda (Yang selalu berkata kelak saya akan taubat).”

                        Maka seharusnya tiap manusia taubat pada tiap waktu sehingga bila tiba maut ia sudah taubat, sedang Allah s.w.t. telah berjanji dalam ayatNya yang berbunyi: “Wahuwalladzi yaqbaluttaubata anibadihi waya’fu anissayyi’at.” (Yang bermaksud): “Dialah Allah yang menerima taubat hambaNya dan memaafkan segala kesalahan (kejahatan) Yakni asalkan bertaubat dan minta ampun, maka Allah akan mengampunkan.

                        Abdullah bin Mas’uud r.a. berkata: “Siapa yang membaca (ayat yang berbunyi): “Astaghfirullahal adhiem alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum wa atu bu ilaihi.” (Yang bermaksud) Saya mohon ampun kepada Allah yang maha agung, yang tiada Tuhan kecuali Dia, yang hidup berdiri sendiri mengatur makhlukNya dan bertaubat kepadaNya.” sebanyak tiga kali maka akan diampunkan semua dosa-dosanya meskipun sebanyak buih dilaut.

                        Ayyub meriwayatkan dari Abu Qabilah berkata: “Ketika Allah s.w.t. mengutuk iblis laknatullah maka ia minta ditunda, maka Allah s.w.t. meluluskan permintaannya, maka iblis laknatullah berkata: “Demi kemuliaanMu, aku tidak akan keluar dari dada hambaMu sehingga keluar rohnya. Dijawab Allah s.w.t.: “Demi kemuliaan dan kebesaranKu, tidak akan aku tutup pintu taubat pada hambaKu sehingga keluar rohnya.” Maka perhatikan bagaimana kasih rahmat Allah s.w.t. pada hambaNya, tetapi menamakan mereka orang-orang mukminin sesudah mereka berdosa sebagaimana ayat 31, surah Annur (Yang berbunyi): “Wa tubu ilallahi jami’a ayyuhal mukminun la’allakum tuflihun.” (Yang bermaksud): “Dan taubatlah kamu semua kembali kepada Allah, hai orang-orang muminin supaya kamu untung selamat dan bahagia.”

                        Dan Allah s.w.t. menyatakan kasih kepada orang yang bertaubat didalam ayat yang berbunyi: “Innal-laha yubih buttawwabina wayuhibbul mutathohhirin.” (Yang bermaksud): “Sesungguhnya Allah kasih sayang kepada orang yang taubat dan suka pada orang yang bersuci.”

                        Rasulullah s.a.w. bersabda (Yang berbunyi): “Atta’ibu minadzdzanbi kaman ladzanba lahu.” (yang bermaksud): “Orang yang taubat dari dosa itu bagaikan orang yang tidak berdosa.”

                        Ali bin Abi Thalib r.a. diberitahu oleh orang: “Saya telah berbuat dosa.” Ali berkata: “Taubatlah kepada Allah s.w.t. kemudian jangan kau ulangi.” Lalu orang itu berkata: “Saya telah taubat tetapi saya ulangi lagi.” Ali berkata: “Taubatlah kepada Allah s.w.t. kemudian jangan kau ulangi lagi.” Orang itu bertanya: “Sampai bilakah?” Jawab Ali r.a.: “Sehingga syaitan laknatullah yang kecewa dan menyesal.”

                        Mujahit ketika menerangkan ayat yang berbunyi: “Innamattaubatu alallahi lilladzina ya’malunassu’a bijahalatin tsumma jatubuna min karib.” (Yang bermaksud): “Sesungguhnya taubat itu terhadap mereka yang berbuat dosa dengan kebodohan kemudian bertaubat tidak lama.” (surah Annisa ayat 17) Mujahid berkata: “Asalkan belum mati, maka ia bererti segera dan tidak lama.”

                        Abuhurairah r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: “Jika seorang berbuat dosa lalu berkata: “Ya Tuhan, saya telah berbuat dosa maka ampunkan bagiku. Allah s.w.t. menjawab: “HambaKu telah berbuat dosa, tetapi ia sedar mengetahui bahawa ia mempunyai Tuhan yang dapat mengampunkan atau menuntut dosanya maka Aku ampunkan baginya.”

                        Ini kerana kehormatan Rasulullah s.a.w. Sedang pada ummat-ummat yang dahulu jika berbuat dosa maka diharamkan apa yang tadinya halal dan bila seorang berbuat dosa maka langsung dipintu rumahnya ada keterangan Fulan bin Fulan telah berbuat dosa atau dibadannya. Dan cara taubatnya harus berbuat sebegini.

                        Bagi ummat Rasulullah s.a.w. dimudahkan dengan ayat yang berbunyi: “Waman ya’mal su’an au yadh nafsahu tsumma yastagh firillaha yajidil-laha ghafura rahiema.” (Yang bermaksud): “Dan siapa yang berbuat dosa atau kesalahan bagi dirinya, kemudian minta ampun kepada Allah, tentu ia mendapatkan Allah maha pengampun lagi penyayang.”

                        Keran itu maka tiap muslim harus bertaubat kepada Allah s.w.t. tiap pagi dan petang. Mujahid berkata: “Orang yang tidak bertaubat tiap pagi dan petang maka termasuk orang yang zalim (aniaya) terhadap dirinya sendiri. Sebagaimana wajib juga menjaga sembahyang lima waktu sebab Allah s.w.t. menjadikan sembahyang lima waktu itu sebagai penyuci dosa-dosa kecil yang terjadi sehari-hari dan tidak terasa.”

                        Alqamah dari Ibnu Mas’ud r.a. berkata: “Seorang datang kepada Rasulullah s.a.w. dan berkata: “Ya Rasulullah, saya tadi bertemu wanita dalam kebun, maka saya peluk dan saya berbuat padanya segala sesuatu hanya tidak saya zina.” Rasulullah s.a.w. diam sejenak kemudian turunlah ayat yang berbunyi: “Wa aqimis sholata tharafayinnahari wa zulafa minallahi, innal hasanati yudz hibnassayyi’at, dzalika dzikra lidzdzakirin.” (Yang bermaksud): “Tegakkan sembahyang pada waktu siang dan malam, sesungguhnya amal kebaikan itu dapat menghapuskan sayyi’at kejahatan (dosa), ini sebagai peringatan bagi orang-orang yang sedar taubat (bagi orang yang akan bertaubat Surah Hud ayat 114)

                        Maka dipanggil oleh Rasulullah s.a.w. dan dibacakan ayat itu padanya, Umar r.a. bertanya: “Ya Rasulullah, apakah khusus buat dia sendiri atau umum buat semua manusia? ”  Jawab Rasulullah s.a.w.: “Bahkan umum buat semua orang.”

                        Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abuhurairah r.a. berkata: “Pada suatu malam sesudah sembahyang bersama Rasulullah s.a.w. saya keluar, tiba-tiba saya bertemu dengan seorang wanita yang kudung berdiri ditengah jalan, lalu ia berkata: “Hai Abuhurairah, saya telah berbuat dosa yang sangat besar, apakah ada jalan untuk taubat?” Saya bertanya: “Apakah dosamu?” Jawabnya: “Saya telah berzina sehingga mendapat anak lalu sayu bunuh anak itu.” Abu Hurairah r.a. berkata: “Celaka kau dan telah membinasakan, demi Allah, tiada jalan untuk taubat.” Maka ia menjerit sehingga pingsang, lalu saya tinggalkannya, akan tetapi timbul perasaanku: Saya memberi fatwa padal Rasulullah s.a.w. masih hidup ditengah-tengah kami, dan pagi harinya saya telah pergi berjumpa dengan Rasulullah s.a.w. dan berkata: “Ya Rasulullah, semalam saya diminta fatwa dalam hal ini dan saya fatwakan kepadanya begini.” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Demi Allah hai Abuhurairah, engkaulah yang binasa dan membinasakan, dari manakah engkau hai Abuhurairah?.” Dari ayat: “Walladzina layad’una ma Allahi ilaha akhara wala yaqtulunnafsal lati har-ramallahu illa bilhaqqi wala yaznuna, waman yaf’al dzalika yalqa atsama, yudha’af lahul adzabu yaumal qiyamati wayakhludz fihi muhana, illa man ta ba wa amana wa amila amalan shaliha fa ula’ika yubaddilullahu sayyi’atihim hasanat, wakanallahu ghafura rahima.” (Yang bermaksud): “Dan mereka yang tidak menyeru kepada Tuhan yang lain selain Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak dan tidak berzina dan siapa yang melakukan semua itu mendapat dosa, bahkan akan dilipat gandakan siksa mereka, dan kekal dalam siksa itu hina dina kecuali orang yang taubat, beriman dan melakukan amal yang soleh, maka untuk mereka Allah akan menggantikan semua dosa-dosa mereka dengan kebaikan dan adanya Allah maha pengampun lagi pengasih.(Surah Alfurqan ayat 68-70)

                        Maka saya segera keluar berjalan dikota Madinah sambil bertanya-tanya: “Siapakah yang dapat menunjukkan aku pada wanita yang tadi malam minta fatwa kepadaku mengenai soal ini dan itu, sehingga anak-anak mengatakan: “Abuhurairah telah.” Sehingga pada malam harinya saya bertemu dengan wanita itu ditempat yang kelmarin itu, maka segera saya terangkan kepadanya apa yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w.bahawa ia dapat bertaubat, maka ia menarik nafas besar kerana ia gembira lalu berkata: “Hai Abu Hurairah, saya mempunyai sebuah kebun dan kini saya sedekahkan untuk orang-orang miskin sebagai penebus dosa saya.” Sesungguhnya seorang hamba jika taubat, maka semua dosa-dosanya yang lalu itu berubah menjadi kebaikan hasanat. Demikian pengertian ayat 70 surah Alfurqan itu. 

                        Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Pada hari kiamat jika seorang hamba melihat dalam suratan amalnya pada permulaannya ada maksiat dosa, lalu diakhirnya hasanat kebaikan, lalu diulang dari mulanya, tiba-tiba terlihat semuanya hasanat kebaikan. Demikian pula riwayat Abu Dzar Alghifari r.a. dari Rasulullah s.a.w. serupa dengan ini dan inilah ertinya: “Allah mengganti dosa-dosa mereka dengan hasanat.

                        Sebenarnya tidak ada dosa yang lebih besar dari kekafiran tetapi Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): “Qul lilladzina in yantahu yugh far lahum maa qad salafa.” (Yang bermaksud): “Katakanlah kepada orang-orang kafir: Jika kamu menghentikan kekafiran, maka akan diampunkan bagi kamu apa-apa yang telah lalu.”

                        Alhasan berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Andaikan seorang itu berbuat dosa sehingga memenuhi apa yang diantara langit dan bumi, kemudian taubat nescaya Allah s.w.t.mengampunkannya.”

                        Abu Yazid Arraqqasyi berkata: “Ketika Abu Hurairah r.a. berkhutbah diatas mimbar Rasulullah s.a.w. berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Adam adalah makhluk yang paling mulia disisi Allah pada hari kiamat. Allah menyatakan alasan udzurnya tiga macam iaitu:

  • Hai Adam, andaikan Aku tidak mengutuk orang-orang yang dusta dan membenci dusta serta mengancam siksa atasnya dan telah menjadi putusanKu akan mengisi penuh neraka jahannam dengan jin dan manusia semuanya, nescaya Aku memberi rahmat kepada turunanmu semua pada hari ini.

  • Hai Adam, sungguh Aku tidak menyiksa turunanmu dengan api neraka kecuali orang yang Aku ketahui bahawa sekiranya Aku kembalikan ia kedunia pasti ia akan kembali kepada kejahatannya dan tidak bertaubat.

  • Hai Adam, Aku jadikan kau sebagai hakim antaraKu dengan anak cucumu, berdirilah kau didekat timbangan, perhatikan apa yang terlihat padamu dari amal, maka siapa yang lebih berat amal kebaikannya meskipun hanya seberat semut, maka ahli syurga, supaya kau ketahui bahawa Aku tidak memasukkan kedalam neraka kecuali orang yang zalim.

                    Aisyah r.a. berkata Rasulullah s.a.w. bersabda: “Suratan amal itu tiga perkara iaitu

  • Suratan amal yang diampunkan oleh Allah s.w.t.

  • Suratan amal yang tidak diampunkan oleh Allah s.w.t.

  • Suratan amal yang tidak ditinggalkan sedikitpun daripadanya

                    Adapun yang tidak diampunkan oleh Allah s.w.t., maka syirik mempersekutukan Allah s.w.t.. Allah s.w.t. berfirman (Yang berbunyi): “Innahu man yusyrik billahi faqad harrama Allah alaihil janna ta wama’wahunnar.” (Yang bermaksud): “Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan Allah maka Allah akan mengharamkan padanya syurga dan tempatnya didalam neraka. Adapun yang diampunkan oleh Allah maka dosa seseorang terhadap Allah antara dia dengan Allah. Adapun yang tidak ditinggalkan sedikitpun maka dosa seseorang terhadap sesama manusia maka harus dibalas dan dikembalikan tiap hak kepada yang berhak.”

                    Abu Hurairah r.a. berkata  Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiap hak harus dikembalikan kepada yang berhak pada hari kiamat sehingga diberi kesempatan bagi kambing yang tidak bertanduk untuk membalas kambing yang bertanduk untuk menanduknya. Kerana itu jika dosaku dengan sesama manusia, maka hendaklah diselesaikan dengan baik didunia, adapun kalau antara dia langsung dengan Allah s.w.t., maka Allah s.w.t. maha pengampun lagi mudah memaafkan asalkan mahu bertaubat. Sebab tiap hak sesama manusia harus dikembalikan, jika tidak dikembalikan didunia maka harus dibayar (diganti) dengan hasanat kebaikan amal yang telah dilakukan pada hari kiamat.

                    Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tahukah kamu siapakah yang pailit dari ummatku? Jawab sahabat: “orang yang pailit itu ialah habis bersih harta kekayaannya dan belum terbayar semua hutangnya sehingga tidak punya harta dan perkakas (perabut rumah). Rasulullah s.a.w. bersabda: ” Orang yang pailit dari ummatku ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan lengkap sembahyang dan puasanya tetapi ia telah mencaci maki si ini dan menuduh pada si itu dan makan harta si ini dan menumpahkan darah si itu, maka semua orang yang telah habis hasanahnya sebelum terbayar semua orang yang dianiaya itu dan ditanggungkan kepadanya, kemudian ia dilempar kedalam neraka.”

                    Kami mohon kepada Allah s.w.t. semoga Allah s.w.t. memberi taufiq untuk tetap pada taubat. 

Muhammad bin Sirin berkata: “Awaslah, jangan sampai kau berbuat kebaikan kemudian kau tinggalkan, sebab tidak ada seorang yang taubat lalu kembali kepada dosanya beroleh keuntungan. Kerana itu yang telah taubat hendaklah  mengingati selalu pada dosanya, seakan-akan dimuka matanya, supaya tetap bertaubat, banyak membaca istighfar dan mensyukuri nikmat Allah s.w.t. hanya kepadaNya dapat bertaubat, juga memikirkan apa yang dijanjikan oleh Allah s.w.t. daripada nikmat diakhirat bagi orang yang beramal soleh, supaya rajin beramal soleh dan menjauhi dosa.”

                    Zaid bin Wahb dari Abu Dzar r.a. berkata: “Saya bertanya: “Ya Rasulullah, beritahukan kepada kami apa yang tercantum dalam Suhuf Musa?” Rasulullah s.a.w. berkata: “Didalamnya ada enam kalimat iaitu:

  • Saya hairan terhadap orang yang yakin adanya neraka, bagaimana ia dapat tertawa?

  • Saya hairan pada orang yang yakin akan mati, bagaimana dapat bergembira?

  • Saya hairan pada orang yang yakin akan adanya hitungan amal, bagaimana ia melakukan dosa?

  • Saya kagum pada orang yang percaya pada takdir (ketentuan Allah s.w.t.), bagaimana ia bersusah payah?

  • Saya kagum pada orang yang melihat segala perubahan dunia, bagaimana ia condong kepadanya?

  • Saya ajaib pada orang yang yakin pada syurga, bagaimana ia tidak berbuat baik?
    La ilaha illallah, Muhammad Rasulullah.

                    Pada suatu hari Abdullah bin Mas’ud r.a. berjalan-jalan dikota Kufah, tiba-tiba bertemu dengan orang-orang fasiq sedang berkumpul minum khamar dan ada penyanyinya bernama Zadan. Ia memukul rebana sambil bernyanyi dengan suara yang merdu. Abdullah bin Mmas’ud berkata: “Alangkah merdunya suara itu andaikan digunakan untuk membaca Al-Quran.” dan Abdullah terus berjalan. Tiba-tiba Zadan terdengar apa yang dikatakan oleh Ibn Mas’ud itu lalu ia bertanya kepada orang-orang: “Siapakah orang itu?” Dijawab oleh orang-orang: “Itu Ibn Mas’ud, sahabat Rasulullah s.a.w..” Lalu ia berkata apakah?” Tanya Zadan. Jawab orang-orang itu: “Ia berkata, alangkah merdu suara itu andaikan digunakan untuk membaca Al-Quran.”

                    Perkataan itu benar-benar meresap dalam hati Zadan sehingga segera ia berdiri dan membuang rebana yang ada ditangannya lalu lari mengejar Ibn Mas’ud dan mengikat saputangan dilehernya sendiri sambil menangis dihadapan Ibn Mas’ud, maka dipeluk oleh Abdullah bin Mas’ud dan bersama-sama menangis, kemudian Abdullah bin Mas’ud berkata: “Bagaimana saya tidak akan sayang pada orang yang disayangi Allah s.w.t.” Lalu ia tetap taubat dan selalu mendekati Abdullah bin mas’ud untuk belajar ilmu Al-Quran sehingga menjadi orang alim yang banyak meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Mas’ud r.a..

                    Abul Laits berkata: “Saya mendapat cerita dari ayahku, bahawa dimasa Bani Iisrail dahulu ada seorang wanita pelacur yang sangat cantik dan ia selalu duduk diatas dipan didalam rumah yang selalu terbuka pintunya, sehinggakan tiap orang yang berjalan dimuka pintunya pasti tertarik kepada kecantikannya dan siapa yang akan masuk diharuskan membayar sepuluh dibar. Maka pada suatu hari ada ahli ibadat berjalan dimuka pintunya dan ketika menoleh kedalam pintu terlihat olehnya kecantikan wanita itu yang sedang duduk didipannya, maka ia sangat tertarik pada wanita itu, tetap ia berdoa semoaga Allah s.w.t. menghilangkan kerisauan hatinya yang selalu teringat pada wanita itu. akan tetapi oleh kerana perasaan hatinya tidak hilang akhirnya ia berusaha mencari wang sehingga terpaksa menjual beberapa kainnya dan setelah terkumpul sepuluh dinar ia datang kemuka pintu itu tetapi oleh wanita pelacur itu disuruh menyerahkan wangnya kepada wakilnya dengan janji supaya ia datang pada waktu yang ditentukan.

                     Maka tepat pada waktunya ia datang, sedang wanita itu telah berhias dan duduk menantikannya diatas ranjangnya, maka masuklah orang abid itu dan duduk bersama wanita itu diatas ranjang dan ketika sedang menghulurkan tangan pada wanita itu, tiba-tiba ia teringat bahawa Allah s.w.t. sedang melihatnya dalam perbuatan yang haram, yang mungkin akan menggugurkan semua amal perbuatan ibadat yang telah lalu itu, seketika itu juga ia gementar dan pucat mukanya, maka ditanya oleh wanita itu: “Mengapa kau berubah pucat, terkena apakah engkau?” Jawabnya: “Saya takut kepada Tuhanku kerana itu izinkan aku keluar.” Wanita itu berkata: “Celaka kau, banyak orang ingin mendapat seperti kau ini, maka apakah yang menyebabkan kau begini?” Jawabnya: “Saya takut kepada Allah s.w.t., sedang wang yang sudah saya berikan kepadamu itu halal, izinkan saya keluar dari sini.” Maka ditanya: “Apakah engkau belum pernah berbuat begini?” Jawabnya: “Belum pernah.” Lalu ditanya: “Siapa namamu dan dari manakah engkau?” Lalu diberitahu nama dan tempat daerahnya, lalu diizinkan keluar, maka keluarlah abid itu dari tempat itu sambil menangis dan melatakkan tanah diatas kepalanya, sehingga terpengaruh wanita itu ketika melihat abid itu menangis dan berkata dalam hatinya: “Ini orang pertama kali akan berbuat dosa sudah merasa takut sedemikian dan saya berbuat dosa bertahun-tahun, padahal Tuhannya iaitu Tuhanku, maka seharusnya aku lebih takut daripadanya.” Maka sejak itu wanita itu taubat dan menutup pintu rumahnya dari segala orang, untuk melakukan ibadat semata-mata, kemudian setelah ia ibadat, timbul perasaan dalam hatinya: “Sekiranya saya pergi kepada iorang abid itu, kalau-kalau ia mahu mengahwini aku sehingga aku dapat belajar agama darinya dan membantu saya dalam beribadah.” Lalu ia bersiap-siap membawa harta dan budak-budaknya sehingga sampai kedusun si abid itu, dan ketika diberitahukan kepada abid itu ada wanita mencarinya, maka keluarlah abid itu untuk menemui tamunya, dan ketika wanita itu melihat abid itu segera ia membuka tudung mukanya supaya segera dikenal, tetapi ketika abid itu melihat wanita itu, teringat akan kelakuannya dahulu, maka ia menjerit sekuatnya sehingga mati ketika itu juga. Maka wanita itu tinggal sedih dan berkata: “Saya ini datang kemari untuknya dan kini telah mati, apakah ada keluarganya yang mahu kawin kepadaku?” Dijawab: “Ada saudaranya seorang soleh tetapi tidak punya apa-apa (miskin).” Berkata wanita itu: “Tidak apa sebab saya cukup harta.” Maka dikawin oleh saudaranya abid itu sehingga mendapat tujuh anak laki-laki yang kesemuanya menjadi nabi-nabi Bani Israil. Wallahu a’lam.

Sources :http://tanbihul_ghafilin.tripod.com/taubat.htm

Sifat dalam Amal

cropped-copy-of-the-jama-masjid-in-old-delhi-the-largest-mosque-in-india-built-by-shah-jahan-delhi-india-photographic-print-c12893045-copy2

 

Sifat dalam Amal

I.             Perasaan Cukup dan Aman dalam Amal

Ulama mengatakan bahwa Allah telah menyembunyikan Ridhonya dalam amal-amal agama. Namun amal sholeh mana yang telah di ridhoi Allah, ini hanya Allah yang mengetahuinya. Semua amal yang kita kerjakan ini tidak ada jaminannya disisi Allah karena itu tergantung pada kesempurnaan amalnya dan keikhlasannya. Untuk ukuran ini penerimaan amal ini hanya Allahlah yang mengetahuinya. Ada 3 perkara yang kita tidak mengetahui dalam amal :

1.             Kita tidak tahu apakah amal ibadah kita diterima atau tidak, jadi jangan pernah merasa aman.

2.             Kita tidak tahu amal baik mana yang bisa mendatangkan ridho Allah.

3.             Kita tidak tahu amal buruk mana yang menyebabkan kita mendapatkan murka Allah.

Kisah-kisah :

1.             Pernah ada seorang ahli ibadah di jaman Nabi Musa AS yang kerjanya selama 300 tahun hanya beribadah saja kepada Allah. Suatu hari ketika dia meminta kepada Nabi Musa untuk menanyakan kepada Allah surga mana yang Allah berikan sebagai balasan terhadap ibadahnya. Lalu Allah menjawabnya melalui Nabi Musa AS bahwa dia itu adalah penghuni Neraka.

2.             Pernah ada seorang pelacur di jaman Nabi Musa AS ketika dia kelelahan setelah melewati perjalanan yang panjang dan kehausan. Lalu dia dapati ada sumur air di tempat dekat dia beristirahat. Setelah bersusah payah dia masuk kedalam sumur mengambil air dengan sepatunya, lalu ketika keluar didapatinya seekor anjing kecil sedang kehausan. Lalu karena kasihan melihat anjing kecil itu maka diberikanlah air tersebut kepada anjing kecil itu. Asbab kejadian ini Allah telah ridho kepada pelacur tersebut dan mengampuni seluruh dosanya, lalu memasukkannya ke dalam SurgaNya Allah Ta’ala.

3.             Ada di jaman Nabi SAW seorang perempuan tua ahli ibadah, yang sudah menghabiskan banyak waktunya hanya untuk beribadah kepada Allah. Namun si nenek tua ini mempunyai kebiasaan suka melalaikan kucing peliharaannya dari memberikannya makanan. Akibat dari perbuatannya ini akhirnya kucing peliharaannya yang di ikat dan dikurung tersebut mati kelaparan. Maka apa kata Nabi SAW mahfum bahwa nenek tua itu adalah penghuni neraka.

Jadi pada intinya kita tidak tahu amal baik mana yang Allah terima walaupun kita ahli maksiat dan amal buruk mana yang bisa menyebabkan murka Allah atas diri kita walaupun kita adalah ahli ibadah. Untuk perkara ini kita perlu menjaga sifat harap dan cemas kita. Karena Nabi SAW pun yang sudah di jamin surganya oleh Allah tidak pernah merasa aman atas amal-amalnya.

Kisah Nabi SAW :

Suatu ketika Nabi SAW selepas sholat berdo’a menangis hingga kesedihannya terasa oleh istrinya Ummu Salamah. Lalu Ummu Salamah bertanya, “Ya Rasullullah, mengapa engkau menangis memohon ampunan padahal engkau telah di jamin Surganya oleh Allah.” Lalu Nabi SAW menjawab dengan tegas, “Siapakah yang bisa menjaminku wahai istriku ? Sedangkan saudaraku Nabi Yunus AS ketika dia bersandar pada amalnya sesaat saja, dia merasa aman terhadap amalnya, Allah kurung dia dalam perut Ikan Paus selama 40 hari.” Nabi saja Allah hukum di dalam laut karena tidak ada risau terhadap amalnya. Padahal nabi Yunus AS hanya bersandar sesaat saja dari amalnya. Nabi Yunus AS meninggalkan ummatnya mencari tempat yang lebih baik untuk dakwah pada kaum yang lain. Nabi Yunus AS tidak merasa khawatir dengan perbuatannya meninggalkan kaumnya ketika itu. Nabi Yunus merasa aman dan tidak ada kekhawatiran terhadap amalnya tersebut. Padahal Allah perintahkan dia untuk tetap di kampung tersebut. Sesaat merasa aman dari amalnya, Allah kurung Nabi Yunus di dalam perut ikan paus, hingga dia bertobat kepada Allah.

Kisah Umar bin Khattab RA :

Umar RA adalah seorang sahabat yang termasuk dalam 10 orang sahabat  yang telah di jamin Surganya oleh Allah Ta’ala. Suatu ketika umar RA bertemu dengan Hudzaifah RA yaitu penyimpan rahasia Nabi SAW. Umar RA bertanya kepada Hudzaifah RA, “Wahai Hudzaifah, aku tidak peduli apakah ada orang-orang munafik yang kerja untukku ataupun orang lain yang telah jelas kemunafikkannya. Namun Aku hanya mau bertanya satu hal kepadamu Apakah Aku termasuk  golongan orang-orang yang Munafiq yang dikabarkan oleh Nabi SAW.” Ini adalah Risaunya Umar RA, yang Surganya telah di jamin oleh Nabi SAW. Walaupun begitu tetap Umar RA selalu dalam keadaan khawatir terhadap amal-amalnya bukannya dalam keadaan aman. Padahal kalau kita lihat amalnya Umar RA, sudah seharusnya dia merasa aman, tetapi hingga menjelang ajalnya pun dia masih dalam keadaan selalu merasa khawatir atas amal-amalnya. Umar RA di tanya oleh Abbas RA menjelang wafatnya, “Apalagi yang engkau risaukan wahai Umar, sedangkan Allah dan Nabinya sudah menjamin keberadaanmu di Surga.” Lalu Umar RA menjawab, “Jika aku mempercayai perkataanmu, maka aku ini sungguhlah orang yang bodoh. Andai kata seluruh umat ini masuk surga dan satu orang masuk ke dalam neraka, maka aku khawatir yang satu orang masuk ke dalam neraka itu adalah aku. Jika seluruh manusia masuk ke dalam neraka dan hanya satu orang masuk ke dalam Surga, Aku berharap agar orang itu adalah Aku.” Menjelang ajalnyapun, Umar RA masih dalam keadaan harap dan cemas terhadap amalnya. Apalagi kita saat ini yang sudah jelas-jelas tidak ada jaminannya dari Allah Ta’ala dan NabiNya.

Ciri-ciri Amal yang Allah Sukai adalah Amal yang mempunyai Sifat  :

II.             Harap dan Cemas :

Salah satu ciri amal yang disukai Allah adalah amal yang mempunyai sifat harap dan cemas. Menurut Ulama, Iman itu ada di antara harap dan cemas. Pernah ada suatu kisah seorang anak muda yang sedang menghadapi sakratul maut bertanya pada rasullullah SAW. Dia bertanya, “Ya Rasullullah SAW, aku berharap Allah mau mengampuni dosa-dosaku tetapi aku takut dosaku terlampau banyak.” Rasullullah SAW bersabda mahfum :

“jika ada dalam amal ini rasa harap dan cemas (takut) kepada Allah, maka Allah akan mengabulkan apa yang kita harapkan dan menjauhi kita dari apa yang kita cemaskan (takuti).”

Hari ini orang yang berharap rahmat Allah sudah banyak tetapi tidak ada rasa cemas, jadinya maksiat jalan terus. Lalu ada orang yang terlalu mencemaskan dosanya sehingga putus asa dari rahmat Allah, akhirnya buat dosa terus. Jadi harap saja tanpa cemas ujung-ujungnya perbuatan dosa, dan putus harap karena terlalu cemas ujung-ujungnya dosa juga. Yang benar adalah harus punya harap kepada Allah dan rasa cemas karena dosa. Ini yang harus kita jaga dalam kehidupan kita yaitu rasa harap dan cemas.

Kisah di Jaman Nabi Musa AS :

Dalam sebuah riwayat di kisahkan, ada seorang pemuda yang pergi untuk bertemu dengan Nabi Musa AS untuk bertanya mengenai Iman. Namun di tengah jalan si pemuda tadi bertemu dengan seseorang yang tangan dua-duanya sudah tidak ada, kaki dua-duanya sudah tidak ada, matanya buta. Lalu si pemuda ini bertanya apa yang sudah terjadi padanya. Si orang tadi menjawab bahwa, “Saya ini korban perampokan sehingga tangan, kaki saya di potong oleh perampok itu dan mata saya di buta kan.” Si orang tadi menceritakan bagaimana jahatnya perampok itu dan bagaimana susahnya dia menjalankan hidup. Si pemuda tadi menanyakan dari mana dia dapat makan. Lalu orang itu bilang, “setiap hari saya merasakan ada semut yang mengantar buah-buahan langsung ke mulut saya sudah sampai 10 tahun.” Akhir cerita si pemuda tadi mengajak orang itu ikut namun dia menolak sehingga pemuda tadi pamit untuk pergi. Namun orang cacat tadi menitip pertanyaan untuk Nabi Musa : “Kemuliaan seperti apa yang  Allah akan berikan kepada saya nanti di surganya Allah, setelah sabar mengalami penderitaan selama 10 tahun ini.”

Sampai di tengah perjalanan si pemuda tersebut di hadang oleh seorang perampok yang ternyata adalah perampok yang merampok si orang yang cacat tadi. Si perampok itu bilang bahwa dia telah membunuh 99 orang dan dia ingin menjadikan pemuda tadi yang ke 100. Lalu si pemuda itu bilang kepada si pembunuh, “Yang namanya orang pintar dia akan tahu manfaat dan mudharat dari pekerjaan yang dilakukan. Sekarang jelas-jelas saya tidak ada uang. Kalau tuan bunuh saya malah akan menyusahkan tuan. Tuan harus berkelahi dulu dengan saya, kalau saya mati tuan harus mengubur diri saya lagi, tuan harus mencium bau mayat saya lagi. Jadi yang ada hanya mudharat untuk tuan dan tidak ada manfaatnya.” Si perampok tadi akhirnya mengurungkan niatnya untuk membunuh pemuda tadi.  Lalu dia bertanya kemana tujuan si pemuda itu pergi. Setelah menjelaskan maksud dan tujuannya, akhirnya si perampok meminta pemuda untuk menyakan kepada Nabi Musa AS : “ Saya sudah membunuh 99 orang dan saya ingin bertobat apakah Allah akan menerima tobat saya.” Maka pergilah si pemuda tadi menghadap Musa AS.

Setelah bertemu dengan Nabi Musa AS, maka dia ajukan 3 pertanyaan :

Pertanyaan pertama adalah tentang Iman : Mengapa Allah tidak menampakkan dirinya langsung agar kita bisa langsung mengimaninya ?

Pertanyaan kedua tentang si cacat : Kemuliaan apa yang akan Allah berikan kepada saya yang telah bersabar menghadapi penderitaan selama 10 tahun ini ?

Pertanyaan ketiga tentang si perampok : Apakah Allah akan menerima tobat orang yang sudah membunuh 99 orang ?

Lalu Nabi Musa AS menjawab pertanyaan :

Kalau kita bisa melihat Allah kenapa Allah susah-susah mengirim Nabi. Kita beriman kepada Allah karena kita tidak bisa melihatnya. Ini baru yang namanya Iman, yaitu tidak pernah melihat tapi mau meyakini.

Orang cacat tadi penghuni Neraka.

Allah akan mengampunkan dosa perampok tadi dan Allah akan masukkan dia ke surga.

Si pemuda tadi bertanya mengapa si cacat yang sabar masuk neraka dan sedangkan si perampok yang jahat masuk surga. Lalu Musa AS menjawab, yang namanya penghuni surga itu mempunyai ciri- ciri.  Ciri-cirinya adalah Dia melupakan 2 hal dan mengingat 2 hal :

Yang Di lupakannya :

Kebaikan atau amal baik dirinya

Kejahatan orang lain terhadap dirinya

Yang Di ingatnya :

Kejahatan dirinya atau amal buruk dirinya

Kebaikan Allah dan orang lain terhadap dirinya

Nabi Musa berkata si cacat tadi :

Yang di ingatnya hanya kebaikan atau amal baiknya (dia merasa aman / bersandar pada amalnya). Tetapi dia melupakan nikmat yang telah Allah berikan kepadanya melalui semut yang mengantarkan buah ke mulutnya tiap hari selama 10 tahun. Dia tidak bersyukur terhadap nikmat Allah tersebut.

Lalu dia mengingat keburukan orang lain dan melupakan keburukan diri sendiri

Itulah sebabnya si cacat ini Allah tentukan neraka sebagai tempat dia kembali. Si cacat tadi hanya punya pengharapan yang berlebihan tanpa rasa cemas terhadap amal-amalnya, sehingga dia lalai dari nikmat Allah. Inilah yang namanya merasa aman atas amal-amalnya. Hari ini kita jangan pernah merasa sudah sabar menghadapi penderitaan dan kesusahan karena kita tidak tau apakah kesabaran kita Allah terima atau tidak. Jika kita ada berbuat kebaikan lupakan saja karena itu Allah yang bantu kita. Yang perlu kita ingat selalu adalah kebaikan Allah dan orang lain terhadap diri kita, dan bagaimana membalasnya. Kita sering-sering minta ampun kepada Allah dan minta maaf kepada orang karena amal buruk kita. Ini yang harus kita ingat-ingat yaitu kejahatan kita kepada Allah dan orang lain. Kita lupakan kejahatan orang lain terhadap kita, karena jika ada yang memukul kita pada hakekatnya itu adalah Allah yang memukul kita. Jadi kita lupakan saja perbuatan jahat orang lain terhadap diri kita, dan jangan kita ungkit-ungkit kejahatan orang lain seperti si cacat tadi yang menyebabkan dia menjadi penghuni neraka.

Sedangkan si perampok tadi Allah terima ampunannya dan Allah akan masukkan dia kedalam surga karena :

Dia mempunyai ciri-ciri penghuni surga yaitu : yang di ingat-ingat adalah kejahatan dia sendiri dan dia lupakan kejahatan orang lain.

Si perampok ini mempunyai sifat harap dan cemas. Dia mengharapkan rahmat Allah dan mencemaskan perbuatan dia.

III.             Ikhlas :

Hari ini penting kita waspadai diri kita agar jangan sampai tergelincir oleh amal kita sendiri. Setan ini selalu buat usaha selama 24 jam bagaimana Iman dan Amal kita rusak walaupun itu hanya bergeser sedikit saja. Itu sebabnya penting kita mengenal Allah agar kita tidak sampai terjebak oleh syetan. Jika ada rasa aman terhadap amal, segera ucapkan “La haula wala Quwwata Illa Billah”, “Tiada daya upaya ( untuk taat ) selain pertolongan dari Allah”. Jika ada kebaikan yang ada kita perbuat, yakinilah bahwa itu semata-mata karena pertolongan Allah bukan karena kemampuan kita. Nabi SAW pernah berkata bahkan untuk mengangkat kedipan mata sekalipun ini atas pertolongan Allah. Jadi jangan pernah merasa kita mampu beramal, ini semata-mata karena Allah sayang sama kita, sehingga kita di tolong Allah untuk beramal. Jika ada yang memuji, kita kembalikan pujian ini kepada Allah, karena hanya Allah yang berhak dipuji. Kita ini tidak bisa buat apa-apa, semunya ini kerjaan Allah, jadi hanya Allah yang pantas di puji. Jangan pernah merasa mampu untuk beribadah, karena semua ibadah ini atas pertolongan Allah. Dalam sebuah riwayat dikatakan ada seorang Abid yang 300 tahun dia beribadah dengan penuh ketaatan, kerjanya sujud, dzikir, dan hanya memakan kurma yang tumbuh di pinggir sungai tempat dia sholat. Dia mengeluh dengan derajat surga yang Allah kasih. Lalu Allah keluarkan Abid tadi dari surga dan Allah tanya, “Siapa yang memberimu makan dari tumbuhan yang dapat mengeluarkan kurma tiap hari ? dari mana engkau mendapat kekuatan dalam beribadah ? siapa yang memberimu udara untuk bernafas ?” lalu Abid itu menjawab, “Engkau ya Allah” sehingga abid itu bertobat dan menerima keputusan Allah.

Pada Hakekatnya semua keadaan dan semua kemampuan ini adalah Allah yang buat dengan IradahNya, keinginannya. Jadi kalau ada orang yang tersesat dari jalan yang lurus pada hakekatnya Allah yang menyesatkan. Itulah sebabnya iblis ketika diminta pertanggung jawabannya, dia bilang, “Saya hanya bisa menggoda, tetapi perbuatan dosa itu adalah kemauan orang tersebut.” Nabipun di ajarkan Allah do’a untuk mempertahankan Hidayah : “Allahumma La Tudzi’ Qullubana Ba’daidz hadaitana Milladunka Rahmah antal wahab”, “Ya Allah janganlah engkau sesatkan aku setelah engkau memberi aku pertunjuk.”

Suatu hari Imam Syafei Rah.A bertemu dengan Iblis, lalu Iblis itu berkata, “Apa pendapatmu tentang saya, kalau saya ini adalah Allah yang menciptakan, jalan hidupku Allah yang menentukan, sifat yang ada dalam diriku Allah yang memberikan, tempat akhir tinggalku Allah yang memutuskan, menurutmu apakah aku ini Dzolim ?” Lalu Imam Syafei menjawab, “Jika Allah menciptakan kamu menurut kemauanmu, berarti Allah Dzolim. Sedangkan Allah Maha Suci dan Allah tidak Dzolim.” Lalu Iblis menjawab, “Jawabanmu benar. Tahukah engkau asbab pertanyaanku ini sudah 80 orang ulama aku sesatkan.” Allah tidak pernah dzolim, yang dzolim itu kita yaitu yang selalu menentang Allah dan bertindak menurut kemauan kita. Kemauan manusia ini selalu mengikuti nafsu, sehingga manusia ini mempunyai kecenderungan merusak. Jika Allah mengikuti kemauan kita berarti Allah tidak suci lagi karena Allah sudah merusak. Sedangkan Allah Maha Suci dan tidak merusak, sedangkan yang merusak itu adalah kita.

Allah jadikan hidup ini menurut kemauan Allah bukan kemauan mahluknya. Penting kita sandarkan kemauan kita kepada kemauan Allah, ini baru benar. Bukan hidup menurut kemauan kita, tetapi menurut kemauan Allah. Kita ini bisanya hanya mempertanyakan kemauan Allah, “Kenapa begini, kenapa begitu” padahal di dalam Al Qur’an Allah sudah bilang, “Allah ini tidak akan ditanya, Kitalah yang akan ditanya Allah.” Jaga prasangka baik kepada Allah, kalau Allah sudah tentukan surga buat kita nanti semuanya akan Allah mudahkan. Sahabat bertanya,”Jika Allah sudah tentukan surga dan neraka untuk kita buat apa kita beramal”  Nabi SAW menjawab mahfum, “Apakah kamu sudah tahu dimana Allah tempatkan kamu. Beramal saja, jika Allah sudah janjikan Surga untukmu nanti Allah mudahkan (bantu / tolong)  kamu dalam beramal.” Dalam setiap amal yang kita lakukan setan ini akan membuat 7 usaha atas amal kita :

Usaha menghalangi seseorang dari beramal, lalu disibukkan dalam perkara lain.

Jika beramal akan di buat tergesa-gesa biar tidak sempurna amalnya

di buat malas atau menunda-nunda dalam beramal agar tidak Istiqomah

Di tipu dari amal besar ke amal kecil

Beramal sembunyi-sembunyi tetapi dalam hatinya ingin diketahui orang banyak.

Di buat merasa bahwa dia telah berbuat amal ( ujub )

Di buat dia tidak yakin pada amal-amalnya.

Jadi usaha atas keihklasan ini bukanlah perkara yang mudah karena setan mengetahui bahwa amal yang Allah sukai adalah amal yang dilakukan dengan ikhlas hanya kepada Allah. Kalaupun kita lewat godaan syetan ini, maka amal kita akan di seleksi di 7 langit, sebelum amal itu sampai kepada Allah :

Amal tertolak di langit pertama asbab adanya Ghibbah

Amal tertolak di langit ke dua asbab mengharapkan keduniaan

Amal tertolak di langit ke tiga asbab Ketakaburan ( sombong )

Amal tertolak di langit ke empat asbab adanya Ujub (rasa aman/mampu)

Amal tertolak di langit ke lima asbab adanya Hasad dan Dengki

Amal tertolak di langit ke enam asbab tidak ada rasa Mahabbah pada manusia

Amal tertolak di langit ke tujuh asbab ada Sum’ah dan Riya’

Lalu ada satu amal yang lolos sampai ke Arasy Allah dan hanya Allah mengetahui isi atau niat dari amal itu. Jika ada ketidak ikhlasan maka Allah akan buang amal itu walaupun amal itu sudah lolos sampai ke langit ke 7 tidak diketahui oleh para malaikat. Niat dalam hati dari si Hamba ketika beramal ini hanya Allah yang tau. Ikhlasnya seseorang dalam beramal ini hanya Allah yang tau. Dari Jin, Malaikat, dan manusia tidak ada yang bisa tahu niat atau keikhlasan dari amal-amal itu. Ada sebuah kisah percakapan seorang wali Allah, bernama Juneid Al Baghdadi, dengan Allah di dalam mimpinya. Allah berkata kepadanya, wahai Juneid :

Ketika Aku berikan kesenangan di dunia maka 90 % dari manusia lari dariku. Sehingga yang tinggal hanya 10 % dari jumlah manusia.

Ketika Aku berikan kesusahan di dunia maka 90 % dari yang tersisa tadi lari dariku. Sehingga tinggal 10 % dari jumlahnya.

Ketika Aku nampakkan Surga maka 90 % nya lagi dari manusia yang tersisa  tadi lari dariku. Sehingga tinggal 10 % dari jumlahnya

Ketika Aku nampakkan neraka maka 90 % nya lagi lari dariku hingga yang tersisa hanya tinggal 10 % darinya.

Sisanya Aku uji lagi mereka dengan cobaan-cobaan, maka larilah dari mereka 90 % dari sisanya. Hingga hanya tertinggal 10% daripadanya.

Maka sisa dari yang lari dariku inilah, yang sebenar-benarnya hambaku yang Ikhlas dan hanya mengharapkan RidhoKu. Mereka diberi kesenangan dunia tidak lari dariKu, diberi kesusahan dunia tidak lari dariKu, diberi surga tidak lari dariKu, diperlihatkan neraka tidak lari dariKu, Aku uji mereka dengan cobaan-cobaan tidak lari dariKu. Mereka inilah yang sebenar-benarnya hambaku.

Imam Ali RA berkata Ikhlas itu ada 3 tingkatan :

1.             Karena Mengharapkan Surga à Ikhlasnya para pedagang

2.             Karena Takut pada Neraka à Ikhlasnya seorang hamba

3.             Karena Malu dan Syukur pada Allah à Sebenar-benarnya Ikhlas

Ciri-ciri orang yang sudah sampai pada tingkatan Malu dan Syukur kepada Allah, ketika ditanya mau minta apa, maka dia akan bingung memintanya, karena dia merasa apa yang dia butuhkan semuanya sudah ada. Sehingga dia malu untuk meminta yang namanya dunia dan hanya bersyukur atas segala pemberiaan Allah. Jadi hidupnya hanya bersyukur saja dan malu kepada Allah karena amalnya tidak bisa melebihi pemberian Allah kepadanya sehingga dia malu untuk meminta yang lain. Jangan kita hanya meminta keduniaan pada Allah karena dunia ini hina dan tidak ada nilainya, bahkan Allah benci kepada dunia ini. Barangsiapa yang meminta dunia kepada Allah ini seperti meminta kotoran pada Raja, maka raja akan tersinggung. Mintalah kepada Allah sesuai dengan kebutuhan kita dan mohonlah kepada Allah karena pertolongan Allah untuk keluar dari masalah.

Nabi SAW bersabda mahfum kepada Muadz bin Jabal RA :

“ Wahai Muadz jagalah keikhlasan karena keikhlasan ini dapat membuat amal yang kecil menjadi besar.”

Ikhlas ini dapat membuat amal besar menjadi kecil, dan amal kecil menjadi besar disisi Allah. Amal-amal ini semuanya akan Allah hisab kebenarannya. Jadi dalam beramal ini penuh dengan perjuangan, dan kalau bukan karena pertolongan Allah, tidak mungkin kita bisa melewati rintangan-rintangan dalam beramal.

IV.             Mahabbah ( Cinta / Kasih Sayang )

Amal yang dilakukan atas dasar kasih sayang inilah yang bisa menyebabkan cinta Allah pada hambanya. Islam ini adalah agama yang kasih sayang. Di dalam Al Qur’anpun banyak ayat yang memerintahkan kita untuk berbuat baik dan menyayangi fakir miskin, anak yatim, musafir, janda, dan manusia yang lainnya.

Nabi SAW bersabda mahfum :

“Tidak akan masuk surga kalian sebelum kalian beriman. Tidak akan sempurna iman kalian sebelum kalian menyayangi orang lain sebagaimana kalian menyayangi diri sendiri.”

Kisah Sahabat :

Sahabat menjamu Tamu Nabi SAW padahal dirumahnya hanya ada makanan tinggal buat anak-anaknya. Lalu Sahabat memerintahkan isterinya untuk menidurkan anaknya dan menyediakan makanan untuk tamu Nabi SAW. Lalu dia perintah isterinya untuk mematikan lilin dan dia berpura-pura membetulkan lilin. Sementara dia pura-pura mengunyah makanan sehingga dikira tamunya ia ikut makan. Asbab perbuatan sahabat ini turun ayat dari Allah untuk mengenang perbuatan Sahabat yang Iqrom kepada tamu Nabi SAW. Perbauatan Sahabat ini Allah abadikan dalam Qur’an untuk diambil pelajaran dan di tauladani sampai hari kiamat. Sehingga ke esokan harinya Nabi SAW memanggil sahabat tersebut karena Allah ridho pada pelayanannya kepada tamu.

Kisah-kisah :

Di jaman Musa AS ada seseorang yang merindukan saudaranya yang tinggal di tempat lain. Sangking rindunya dia maka dia berniat untuk mengunjungi saudaranya itu. Ketika dia pergi dari rumahnya untuk mengunjungi saudaranya Allah memerintahkan malaikat untuk mencegatnya dan menanyakan niat orang itu mengunjungi saudaranya ( kunjungan banyak sebabnya : karena bisnis, karena jabatan, karena hutang, dll. ). Setelah dicegat oleh Malaikat yang menyamar sebagai manusia, Malaikat itu bertanya, “Hendak kemana engkau pergi wahai pemuda ?” si pemuda tadi menjawab, “Aku rindu ingin bertemu dengan saudaraku karena Allah.” Lalu Malaikat itu bertanya lagi, “Betulkah kamu merindukan saudaramu itu karena Allah ?” pemuda itu menjawab, “Iya betul.” Maka malaikat itu berkata, “Wahai pemuda sesungguhnya aku ini adalah malaikat yang diutus Allah untuk menanyakan perkara ini kepadamu, jadi dengarkanlah bahwa sesunguhnya Allah merindukanmu sebagaimana kamu merindukan saudaramu.”

Bekal Akherat cuman hanya ada 2 saja :

1.             Cinta pada Allah

2.             Menyayangi Mahluk

Dalam suatu riwayat dikatakan :

“Barangsiapa yang menyayangi yang ada di bumi maka yang di langit akan sayang kepadanya”

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi :

“Haqqat Mahabatti ( Wajib Aku mencintai ) “ :

1.             Lil Mutahabbina Fiya : “Orang yang saling mencintai karena Aku”

Hadits Nabi SAW Mahfum :

“Barangsiapa yang mencintai seseorang karena Allah Ta’ala, menghormati RabbNya, maka dia akan mampu memperoleh keagungan dan RahmatNya.” ( HR. Ahmad )

2.             Lil Mutawassilina Fiya : “yang menyambung sillaturahmi karena Aku”

Hadits Nabi SAW Mahfum :

“Ya Uqbah, maukah kamu aku beritahukan tentang akhlaq penghuni dunia dan akherat yang paling utama ?” Yaitu : “Menghubungi orang yang memutuskan hubungan denganmu…” ( HR Al Hakim )

3.             Lil Muttanashihiina Fiya : “yang saling menasehati pada jalanKu”

Hadits Nabi SAW Mahfum :

“Sesungguhnya agama itu adalah nasehat.” Sahabat bertanya,”Bagi siapa ya Rasullullah SAW ?” Nabi SAW menjawab, “Bagi Allah, bagi kitabNya, bagi RasulNya dan bagi ummat muslim.” ( HR Nasai )

4.             Lil Mutazawirina Fiya : “yang saling menziarahi karena Aku”

Hadits Nabi SAW Mahfum :

“Mereka akan duduk dalam mimbar-mimbar bercahaya disaat orang-orang ketika itu sedang mengalami kesusahan yang hebat padahal mereka bukan dari golongan para Nabi ataupun syuhada.” Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu ya Rasullullah SAW ?” Nabi SAW menjawab, “Mereka yang bertemu dan berpisah semata-mata karena Allah Ta’ala.” ( HR Ahmad )

5.             Lil Mutabaazilina Fiya : “yang saling memberi pada jalanKu”

Hadits Nabi SAW :

“Adakah kamu mencintai Surga ?” sahabat menjawab,”Ya Rasullullah SAW.” Nabi SAW bersabda, “Senangkanlah saudaramu dengan apa yang engkau sukai bagi dirimu.” ( HR Ahmad )

6.             Al Mutahabuna Fiyya : “yang saling berkasih sayang pada JalanKu”

Hadits Nabi SAW :

“Orang-orang yang saling berkasih-sayang karena Ku, akan berada di dalam naungan bayangan ArasyKu pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naunganKu.” ( HR. Ahmad & Thabrani )

  • · Note :   Semua perkara-perkara ini yang menyebabkan Allah cinta pada hambanya terdapat dalam amalan Dakwah. Apa itu Dakwah ? yaitu mengajak manusia cinta pada Allah dan Allah cinta pada manusia.

Kisah Nabi Daud AS :

Nabi Daud AS pernah bertanya kepada Allah : “ Ya Allah bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan cintamu ?” Lalu Allah SWT menjawab : “Ajaklah orang-orang untuk mencintaiku, maka aku akan cinta kepadamu.”

Do’a Nabi Daud AS :

“Ya Allah sesungguhnya kau memohon agar dapat mencintaiMu, mencintai orang yang mencintaiMu, beramal dengan amal yang dapat menyampaikanku untuk cinta kepadaMu. Ya Allah jadikanlah kecintaanku kepadaMu melebihi kecintaanKu pada diriku, pada keluargaku, dan bahkan melebihi kecintaanku kepada air yang dingin di waktu panas terik di padang pasir.”

Do’a para Tabi’in :

“Ya Allah Engkaulah tujuanku, RidhoMu lah yang aku cari, Cinta Kasihmu dan Makrifat kepadaMu lah yang aku minta “

4 akhlaq yang paling dicintai Allah :

1.             Menyambung sillaturrahmi dengan yang memutuskan

2.             Memberi kepada yang tidak mau memberi ( bakhil pada kita )

3.             Berbuat baik kepada yang mendzolimi kita

4.             Memaafkan dan mendokan kepada orang yang bersalah pada kita

Rumus Agama        : Dakwah = Kasih Sayang = Kesempurnaan Iman = Surga

Kasih Sayang pada Ummat yang paling utama :

Memikirkan bagaimana Nasib mereka di akherat nanti bukan memikirkan keselamatan yang sekejap saja yaitu di dunia ini. Tidak mau masuk neraka maka ajak orang untuk menjauhi Neraka, dan kalau mau masuk surga maka ajak orang untuk masuk surga. Kuncinya adalah sholat. Kunci surga ini mempunyai 5 gigi yaitu sholat wajib 5 waktu.

Menurut Ulama Amalan yang paling Allah cintai dari para Nabi hanya 2 saja :

Mengajak seluruh manusia cinta pada Allah

Memikirkan cara bagaimana Allah bisa cinta pada manusia

(Amalan Dakwah Illallah)

Contoh Kasih Sayang Nabi dalam Dakwah :

1.             Sayangnya Nabi pada Abu Jahal pamannya yang sering menyakitinya tetapi Nabi SAW tetap mengunjunginya untuk mengajaknya kepada islam sebanyak 72 kali. Hingga turun perintah untuk menghentikan kunjungannya kepada Abu Jahal dari Allah ta’ala.

2.             Iqromnya Musa AS kepada Firaun sampai dia mendo’akan Firaun setiap mendapatkan musibah agar selamat. Dan perbuatan ini selalu dilakukan Nabi Musa AS hingga 9 kali musibah agar Firaun selamat. Walaupun Firaun berulang-ulang menipunya dengan janji mau masuk islam. Hingga Allah membuat keputusan untuk menghancurkan Firaun.

Allah berfirman dalam surat Al Ashr.

1.             Demi Masa / waktu Ashr

Maksudnya :

Allah bersumpah berarti bukan perkara kecil, dan kepastiannya adalah mutlak. Sumpahnya demi waktu ashr yang menunjukkan waktu dunia sudah menjelang senja mau habis waktunya.

2.             “Sesungguhnya seluruh manusia ini dalam kerugian”

Maksudnya :

Ini adalah keterangan mengenai keadaan manusia yang sesungguhnya.

3.             Kecuali 3 jenis manusia saja yang tidak merugi :

Orang beriman

Orang beramal sholeh ( bukan hanya dimulut saja )

Orang yang saling menasehati :

Dalam kebenaran / perkara yang Haq

→            La illaha Illallah

Dalam kesabaran

→            Bukti cinta yang Hakiki

Maksudnya adalah :

Ini adalah tingkatan manusia setelah beriman, maka untuk membuktikan Imannya dia akan beramal sholeh. Bukan iman dimulut saja tetapi pembuktiannya adalah dengan pengamalan. Setelah beramal selanjutnya diapun berdakwah. Dakwah yang seperti apa ? saling menasehati dalam perkara yang Haq yaitu mengajak orang kepada Allah ( La Illaha Illallah ). Dan saling menasehati dalam kesabaran. Kesabaran ini adalah bukti daripada cinta yang hakiki. Imam Hasan Al Basri mengatakan tidak ada kemuliaan yang lebih utama yang Allah berikan kepada seseorang melebihi sifat sabar. Apa itu sifat sabar ? contohnya adalah seorang ibu sedang menimang anaknya, lalu anaknya mengencingi dan memberaki ibunya. Si anak membalas kebaikan ibunya dangan keburukan, tetapi ibunya tetap sabar dan sayang kepada anaknya. Sedangkan sayangnya Allah ini, Nabi SAW bersabda mahfum :

“Kasih sayang Allah pada hambanya ini 70 kali melebihi kasih sayang ibu kepada anaknya”

V.             Pengorbanan

Sudah menjadi kelebihan sahabat bahwa mereka mempunyai kekuatan untuk berkorban diluar batas kemampuan manusia biasa. Ini dikarenakan sahabat sudah menjadi manusia super dalam hal keimanan, ketawakkalan, dan pengorbanan. Bagaimana sahabat semua dididik agar bisa menghilangkan semua gantungan yang ada dan hanya bergantung pada Allah. sahabat diperintahkan untuk berhijrah agar mereka bisa merasakan keadaan dimana tidak ada tempat lagi untuk bergantung selain Allah Ta’ala saja. Yaitu dengan meninggalkan semua yang mereka cintai ketika hijrah. Allah telah buat keadaan untuk mereka agar berkorban habis-habisan sampai tidak ada lagi yang mereka bisa korbankan di jalan Allah. Sehingga pengorbanan mereka ini sampai pada level kesiapan menyerahkan segala yang mereka punya untuk membela agama Allah. Bagaimana Abu Bakar RA ketika berlomba dengan Umar RA dalam memberikan harta untuk di infakkan di jalan Allah, Abu Bakar RA telah berikan semua hartanya sampai tidak ada lagi yang tersisa dirumahnya bahkan untuk keluarganya sekalipun. Ada seorang sahabat karena ia tidak punya uang untuk di infakkan di jalan Allah akhirnya dia bekerja dan menerima upah 3 kurma : 1 kurma untuk keluarga, 1 kurma untuk dia, 1 kurma lagi diletakkan diatas hasil infak yang terkumpul untuk orang yang pergi di jalan Allah. Inilah pengorbanan sahabat RA demi ikut serta dalam pengorbanan untuk agama. Ada seorang sahabat karena miskin tidak ada yang bisa dikorbankan di jalan Allah akhirnya dia berdo’a pada Allah dengan menyedekahkan harga dirinya untuk agama Allah. Asbab do’anya ini maka Nabi SAW memanggil sahabat ini bahwa do’anya telah diterima oleh Allah Ta’ala. Inilah semangat sahabat dalam berkorban di jalan Allah. Dari 114.000 sahabat hanya sekitar ±14.000 sahabat yang meninggal di antara mekkah dan madinah, selebihnya meninggal di luar negeri di jalan Allah.

Abu Ayub Al Anshori adalah orang yang menerima Nabi SAW untuk tinggal di rumahnya ketika Beliau SAW hijrah ke madinah. Suatu ketika beliau hendak memenuhi takaza fissabillillah ke Turki, namun keadaan beliau ketika itu tidak memungkinkan. Ini dikarenakan beliau sudah berumur 92 tahun dan memiliki udzur untuk tidak pergi di jalan Allah. Anaknya ketika itu menginginkan agar ayahnya, Abu Ayub Al Anshari RA, untuk tidak ikut dan agar istirahat saja di rumah. Tapi apa kata Abu Ayub Al Anshori, “Mau saya juga begitu, tetapi kemauan Allah atas diri kita lain. Allah ingin kita keluar Fissabillillah di waktu senang dan susah, di waktu tua dan muda, kapan saja di butuhkan.” Lalu di tengah perjalanan ke turki dia menderita sakit keras. Dia berwasiat kepada anaknya agar menguburkan mayatnya di benteng turkey. Ketika ditanya kenapa, Beliau RA menjawab, “Saya ingin berjuang di jalan Allah baik dalam keadaan hidup maupun mati. Saya ingin tempat saya dikuburkan menjadi saksi saya di hadapan Allah bahwa saya mati dalam Fissabillillah.” Ketika beliau di kuburkan di Turki, terlihat ada selendang bercahaya keluar dari dalam kuburnya memancar hingga ke langit. Orang-orang kafir di turkey yang melihat hal itu terkesan hingga mereka masuk ke dalam Islam. Inilah sahabat cita-citanya adalah untuk mati di jalan Allah, bagaimana dengan kita ? Sehingga kematiannya pun masih bermanfaat bagi orang lain yaitu Allah jadikan dia sebagai asbab hidayah bagi manusia. Jangan mau ikut yang lain, ikut saja Nabi dan para sahabat yang jelas-jelas jaminan kesuksesannya dari Allah. Kita niatkan dalam diri kita bahwa kita ingin di bangkitkan bersama mereka.

Nabi SAW mendidik sahabat ini agar mereka menjadi manusia yang super pengorbanannya hingga hilang dari mereka sifat memiliki atau rasa memiliki sesuatu, bahwa segala sesuatu itu termasuk hidup saya ini adalah milik Allah. Demi agama saya Ikhlaskan Harta, Keluarga, dan diri saya, inilah pengorbanan sahabat. Pernah suatu ketika Abu Bakar RA sudah tidak memiliki apa-apa lagi, bahkan pakaian yang menutupi aurat sekalipun, asbab telah di sedekahkan dijalan Allah. Saat itu Nabi SAW pun risau atas kondisi Abu Bakar RA, lalu Nabi SAW mencari sahabat lainnya agar dapat memberikan baju kepada Abu Bakar RA. Ternyata sahabat RA yang lainnyapun juga dalam keadaan kondisi yang sama miskinnya seperti Abu Bakar, hanya mempunyai satu baju. Akhirnya Nabi SAW mendapatkan pakaian untuk abu bakar yang terbuat dari karung yang dijahit dengan kancing yang terbuat dari duri. Asbab ini Malaikat Jibril datang menghadap Nabi SAW untuk  menyampaikan salam Allah Ta’ala kepada Abu Bakar RA. Lalu Nabi SAW bertanya kepada Jibril mengapa Jibril AS datang dengan berpakaian dari karung seperti pakaian yang dikenakan Abu Bakar RA.  Jibril AS menjawab bahwa  pada saat ini Allah telah perintahkan kepada seluruh penduduk langit untuk berpakaian seperti Abu Bakar RA. Sahabat sudah mampu menghilangkan rasa memiliki bahkan terhadap nyawanya sendiri sekalipun, bahwa semuanya ini milik Allah, tidak bisa dimiliki atau disimpan buat diri mereka.

Surga – Ridho Allah – Amal Agama – Iman – Hidayah – Pengorbanan :

à Surga ini dikelilingi oleh Ridho Allah. Sedangkan Ridho Allah ada pada Amal Agama. Sedangkan untuk bisa membuat Amal Agama dibutuhkan Iman agar kita bisa  mengamalkannya. Iman ini akan datang jika ada Hidayah dari Allah Ta’ala. Syarat Hidayah turun jika ada pengorbanan. Pengorbanan seperti apa ? yaitu pengorbanan untuk membuat usaha atas hidayah Allah. Kefahaman terhadap agama akan meningkat seiring dengan bertambahnya pengorbanan. Kefahaman ini datangnya dari Allah, Allah yang memberikan kefahaman kepada kita, tergantung pada pengorbanan kita. Nabi SAW tidak punya madrasah atau pesantren, mau faham Agama keluar dijalan Allah. Ini resep dari Nabi yaitu dengan mengajak sahabat untuk berkorban dengan jiwa dan harta di jalan Allah. Penyakit yang datang jika manusia tidak mau berkorban adalah Penyakit Wahan yaitu Hubbud ( Cinta ) Dunia dan Takut Mati.

Hadits Nabi SAW mengenai fadhilah berkorban di jalan Allah, mahfum :

Mahluk-mahluk di laut, di darat, dan dilangit akan mendoakan ampunan serta rahmat untuk kita ketika kita keluar dijalan Allah.

Seluruh amal yang kita kerjakan akan dikalikan 700.000 kali pahalanya, lalu dikali lagi 70 bagi yang sudah menikah sehingga totalnya 49.000.000 kali. Sedangkan 1 dzikir La Illaha Illallahu wah dahu La syarikala Ahadan Somadan Lam Yalid Walam Yulad Walam Yakullahu Kuffuan Ahad di ucapkan di pasar bernilai 2.000.000 pahala, bagaimana jika diucapkan ketika kita keluar dijalan Allah. 1 pahala saja Allah kasih 10 kali lipat lebih luas dari pada langit dan bumi tempatnya.

Allah akan mengirimkan ribuan malaikat untuk menjaga kita dan keluarga kita selama kita keluar di jalan Allah.

Suatu ketika Aisyah R.ha merasa beuntung karena Nabinya Allah ada bersama dia R.ha. Tetapi apa kata Nabi SAW kepada Aisyah R.aha, “Sesungguhnya lebih beruntung lagi istri yang ditinggalkan suaminya keluar dijalan Allah, karena Allahnya Nabi bersama mereka.”

Lebih tinggi nilainya dibanding sholat dibelakang Imamul Anbiya yaitu Nabi SAW, di hari syahidul ayyam atau Imamnya hari yaitu hari Jum’at, di tempat yang paling mulia yaitu mesjid Nabawi Madinah. Inilah yang dilakukan Abdullah bin rawahah R.A ketika diperintahkan oleh Nabi untuk keluar dia menundanya karena ingin sholat dibelakang Nabi SAW pada hari Jum’at. Lalu apa kata Nabi kepadanya, “Kamu sudah tertinggal 500 tahun perjalanan dengan rombongan yang keluar dijalan Allah.”

Doa orang keluar di jalan Allah lebih ijabah dibanding do’a orang yang berdoa di masjidil Haram didepan Hajar Aswat pada malam Laitul Qadar.

Sahabat bertanya “Adakah pahala yang leibih tinggi dari pahala orang yang keluar di jalan Allah.” Nabi SAW menjawab, “Tidak ada” kalaupun ada kalian tidak akan dapat melakukannya. “Mampukah kalian sholat sepanjang malam tiap hari, baca quran sepanjang malam tiap hari, berdziki sepanjang malamr tiap hari tidak berhenti tanpa tidur sampai orang tersebut kembali dari keluar dijalan Allah. Itupun kalau kamu mampu melakukannya masih lebih  tinggi nilainya orang yang keluar dijalan Allah.”

Kisah Nabi :

Nabi Musa AS Allah perintahkan keluar di jalan Allah untuk menyampaikan Agama kepada Fir’aun Laknatullah Alaih.

Nabi Muhammad SAW pergi di jalan Allah ke Thoif untuk menyampaikan Agama Allah

Kisah Sahabat :

Ada seorang Sahabat tidak dapat tidur sebelum melihat Nabi SAW karena sangking cintanya dia kepada Nabi SAW. Sahabat rela mengorbankan anak, istri, harta, dan keluarga jika itu menjauhkan mereka dari Nabi SAW. Tetapi Demi Agama Allah para Sahabat rela meninggalkan Nabi yang mereka cintai demi tegaknya Agama dan pergi dijalan Allah. Seperti Muadz Bin Jabal RA ketika diperintahkan Nabi untuk berdakwah di Yaman dan Nabi berkata kepadanya ini yang terakhir kali engkau akan bertemu denganku. Walaupun Muadz sedih luar biasa mendengarkan kabar tersebut dari Nabi SAW. Namun Muadz tetap pergi meninggalkan orang yang paling dicintainya yaitu Nabi SAW. Untuk menunjukkan derajat orang yang pergi di jalan Allah, Nabi rela memegang Kuda Muadz RA sementara Muadz dikudanya berjalan sampai keluar kota madinah. Muadz berkata, “Ya Nabiullah engkau adalah Nabinya Allah sungguh tidak pantas engkau berjalan mengantarkan Aku sementara aku duduk di kudaku.” Lalu apa kata Nabi SAW, “Aku ingin orang-orang melihat bagaimana nilainya orang yang keluar dijalan Allah.” Bahkan nabipun rela berjalan dibawah orang yang menunggang kuda untuk keluar dijalan Allah.

Para Sahabat RA sangat faham atas nilai orang yang pergi dijalan Allah sehingga ada sahabat yang baru menikah belum sempat mandi junub langsung pergi di jalan Allah setelah mendengar panggilan takaza keluar di jalan Allah lalu syahid.

Ada sahabat yang seharusnya menikah karena diperintahkan oleh Nabi SAW, akhirnya membatalkan pernikahannya karena mendengar panggilan pergi Jihad dijalan Allah. Dia sengaja mendaftar untuk juhad dengan cara menyamar, karena takut dilarang oleh nabi untuk tidak keluar di jalan Allah. Allah berikan kepada sahabat RA ini syahid dijalan Allah.

Ada seorang anak Sahabat mencari ayahnya yang baru saja syahid karena pergi jihad di jalan Allah, dan Ibunyapun juga sudah meninggal di jalan Allah. Sehingga Nabi SAW bertanya kepadanya, “Maukah kamu menjadikan Aku sebagai Ayahmu, dan Aisyah sebagai Ibumu dan Fatimah sebagai Kakakmu.” Inilah nilai pengorbanan dimata Nabi SAW sampai-sampai beliau menawarkan keluarganya menjadi keluarga anak itu. Inilah pengorbanan Sahabat agar kita semua dapat memeluk Islam dan masuk kedalam Surganya Allah. Tetapi lihat kondisi kita kini, bagaimana kita akan memberikan alasan kita kepada mereka nanti di akherat ketika kita akan bertemu mereka.

Ayat Qur’an :

“ Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong agama Allah niscaya Allah akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (47 :7)

“ Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari Adzab yang pedih ? yaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihadlah dijalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu kedalam Surga…”(61:10-12)

“Apakah Kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad diantaramu, dan belum nyata orang-orang yang sabar.” ( 3:142)

“Katakanlah : “Jika Bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiaannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalh lebih kamu cintai dari pada Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalanNya, maka tunggu sampai Allah mendatangkan keputusanNya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.”( 9 : 24 )

VI.             Sabar

Ulama dari generasi Tabi’in, Hasan Basri Rah.A berkata bahwa :

“Tidak ada kemuliaan yang lebih besar yang Allah berikan kepada seseorang, melebihi sifat Shabar.”

Menurut Hujatul Islam, Imam Al Ghazali :

“Shabar adalah tetap tegaknya dorongan agama ketika berhadapan dengan dorongan nafsu.”

Jadi barangsiapa yang tetap tegak bertahan dalam mempertahankan agama atau perintah-perintah Allah sehingga dia bisa menundukkan hawa nafsunya secara terus menerus, maka orang tersebut termasuk orang yang sabar. Sahabat bertanya siapa itu orang sabar, lalu Nabi SAW menjawab mahfum :

“Orang yang tidak suka mengeluh dan mengadu kepada yang lain.”

Sabar itu ada 5 :

Asshobru fil ibadat : Sabar dalam beribadat

Asshobru indal mushibah : Sabar dari musibah

Asshobru anid Dunya : Sabar terhadap keduniaan dan tipu dayanya

Asshobru anil Maksiat : Sabar dari keinginan melakukan maksiat

Asshobru fil Jihad : Sabar dalam perjuangan

Untuk bisa meningkatkan derajat disisi Allah menjadi yang lebih tinggi lagi diperlukan ketahanan dan kesabaran. Ini karena tanda sayangnya Allah pada seorang hamba maka Allah akan datangkan banyak cobaan-cobaan kepadanya. Siapa yang Allah paling cintai dari hambanya ? yaitu Nabi Muhammad SAW. Siapa manusia yang paling banyak cobaan dan kesusahannya ? tidak ada satu mahlukpun yang cobaannya dan kesusahannya melebihi Nabi Muhammad SAW. Padahal Nabi SAW adalah orang yang paling Allah cintai, tetapi paling banyak susah dan paling banyak di uji oleh Allah. Ini karena derajat Nabi SAW ini naik disisi Allah asbab pengorbanannya dan ujiannya.

Maksud daripada ujian ini adalah bukannya untuk menyusahkan kita tetapi untuk menaikkan derajat kita. Sebagaimana dikantor kalau ingin menaikkan jabatan seseorang diberikan ujian tujuannya bukan untuk menyusahkan tetapi untuk menaikkan derajat atau pangkat dia. Diberikan ujian kepadanya, kalau dia lulus baru dinaikkan derajatnya atau statusnya. Jadi tujuan daripada ujian tersebut bukan maksudnya untuk menyusahkan. Begitu juga jika datang kepada kita kesusahan-kesusahan dan kesulitan-kesulitan, maksud Allah bukan untuk menyusahkan kita tetapi Allah ingin mengangkat atau menaikkan derajat atau maqom kita. Kepada orang-orang yang menjalankan usaha agama ini akan datang berbagai macam ujian dan berbagai macam kesusahan kepada kita. Tetapi maksud utamanya adalah bukan untuk menyusahkan kita, melainkan untuk menaikkan derajat kita. Dengan kesusahan dan kesulitan, Allah inginkan kita menjadi orang yang sabar dan tahammul, bukan orang yang mudah putus asa.

Dengan kesulitan dan kesusahan, seseorang dapat menjadi manusia yang lebih baik asal dia punya kesabaran. Namun jika dia menyerah, berputus asa dari rahmat Allah,  ketika diberi ujian atau cobaan maka dia akan kehilangan segalanya. Ini disebabkan ketika dia menyerah maka berhentilah apa yang diusahakannya, tidak ada usaha, yang ada hanya kemunduran atau kehancuran. Seperti seorang ilmuwan yang sedang berusaha menemukan alat atau mesin. Ketika dia gagal dan putus asa, maka seluruh usaha yang dia curahkan selama ini akan sia-sia saja dan mesin itu akan hancur jika tidak diusahakan. Namun jika dia sabar dan tahan uji, maka dia akan berfikir terus untuk memperbaiki keadaan, memperbaiki kesalahannya, dan terus berusaha atas penemuan mesinnya itu, hingga sukses. Inilah yang namanya peningkatan kualitas, yaitu ketika seseorang belajar dari pengalaman untuk menjadi yang lebih baik. Dengan kesusahan dan kesulitan, manusia ini akan berfikir dan akan meningkatkan kemampuannya menjadi manusia yang lebih baik agar dia tidak melakukan kesalahan yang sama. Tetapi jika manusia ini senang melulu dia akan lalai, lengah, tidak waspada, dan tidak akan mampu untuk berpikir karena tidak pernah susah. Jadi kesulitan dan kesusahan ini dengan kesabaran dapat meningkatkan qualitas dan mutu daripada manusia itu sendiri. Kesabaran menghadapi kesulitan dan kesusahan karena agama Allah inilah yang dinamakan Pengalaman Iman. Inilah maksudnya yang dikatakan dalam suatu riwayat bahwa Allah menyukai orang beriman yang kuat bukan yang lemah. Dia kuat dalam arti sabar dan tahan uji, bukan orang beriman yang lemah dan mudah putus asa dari rahmat Allah.

Sabar ini adalah salah satu daripada sifat Allah, As Shabur. Jadi Allahpun menghendaki kita agar mempunyai sifat sabar, sehingga datanglah kepada kita bermacam-macam ujian. Allah ingin melihat kalau kita tetap istiqomah dalam taat kepada Allah. Jika orang itu mampu istiqomah taat kepada Allah dalam keadaan apapun baru orang itu dapat dikatakan sabar. Yang dikatakan sabar itu bukanlah orang yang tenang tidak dalam keadaan tidak ada apa-apa, maksudnya tidak ada kesulitan dan tidak ada ujian atas nafsu. Seorang suami berkelakar, “Istri saya ini sabar sekali, kalau bulan muda (baru gajian), tetapi kalau sudah bulan tua ( belum gajian ) sudah tidak sabar lagi.“ Istri ini kalau bulan muda masih ada gaji atau uang yang cukup untuk keperluan dan kebutuhan, dia bisa tenang saja menunggu, tetapi ini bukanlah yang namanya sabar. Sabar itu bila ada kesusahan tidak berubah taatnya kepada Allah, tidak berubah daripada sifatnya, tetap mampu menjaga daripada sifat-sifat yang baik.

Namun pertanyaannya bagaimana mendapatkan sifat sabar ini ? Sifat-sifat tinggi atau yang mulia ini akan datang melalui keadaan yang bertentangan dengan nafsu atau dalam keadaan yang mujahaddah. Bagaimana kita mengetahui diri kita Sabar sebelum kita bertemu dengan orang pemarah ? Bagaimana kita bisa dapat sifat Tawakkal kepada Allah sebelum kita mendapatkan keadaan dimana kita tidak bisa lari kepada siapapun selain kepada Allah ? Begitu juga sifat-sifat mulia  yang lain ini akan datang atau wujud dalam diri kita melalui cobaan-cobaan dalam keadaan-keadaan yang bertentangan dengan nafsu kita atau mujahaddah atas nafsu.

Jadi datangnya kesusahan-kesusahan kepada kita bukanlah maksudnya untuk menyusahkan kita, tetapi untuk menaikkan derajat kita supaya sifat kita menjadi sifat khalifah dan tetap menjaga ketaatan kepada Allah Ta’ala. Kadang-kadang Allah datangkan keadaan kepada kita dimana ada orang datang menyalahkan, menuduh, dan memarahi kita, padahal kita tidak berbuat salah, bahkan telah berbuat kebaikan kepada orang yang marah tersebut. Inipun jangan lantas kita salahkan orang itu, tetapi yang harus kita ingat adalah apa maksud Allah dibalik keadaan yang telah Allah berikan ini kepada saya. Apa maksud Allah merubah sikap orang itu berbuat buruk kepada kita ? inilah yang justru harus kita fikirkan, karena kita harus cari tahu apa kehendak-kehendak Allah atas diri kita saat itu. Kata ulama kalau ada orang berbuat salah kepada kita, maksud Allah bukan untuk menyusahkan kita tetapi ingin datangkan kepada kita sifat Pemaaf. Ini karena sifat pemaaf ini adalah datang daripada sifatNya Allah. Ini sifat tidak akan datang kepada kita jika tidak ada orang berbuat salah kepada kita. Kalau orang selalu berbuat baik kepada kita, tidak pernah berbuat salah kepada kita, maka tidak akan datang atau tidak akan ada sifat pemaaf pada kita. Sifat Pemaaf ini adalah salah satu sifat yang disukai Allah Ta’ala. Demikianlah juga para Nabi, walaupun mereka-mereka ini adalah orang-orang yang tidak berbuat salah, tetapi kaumnya berbuat berbagai macam keburukan dan kedzoliman kepada para Nabi mereka. Namun para Nabi ini memiliki sifat pemaaf, memaafkan daripada kesalahan kaumnya, bukan meminta dihancurkan. Bahkan para Nabi ini memohon kepada Allah agar sikap-sikap mereka itu dimaafkan, walaupun mereka telah dizolimi oleh kaumnya.

Seorang Arab bertanya kepada Ulama yang memberikan ceramah di mekkah, buat apa mereka itu dijadikan orang-orang yang menentang kepada agama seperti Firaun, Qorun, Hamman, Namrud, dan lain-lain. Kata dia lebih baik orang yang macam itu tidak usah diciptakan oleh Allah, suapaya para Nabi ini lancar, dan usaha agama ini lancar. Buat apa diciptakan orang macam mereka itu. Lalu ulama ini menjawab dengan bijak, “Wahai saudara, adakah saudara mengetahui telur ayam ?” lalu jawab si arab tersebut, “Ya, saya mengetahui telur ayam.” Lalu si ulama ini bertanya lagi, “Kalau telur ayam itu dipecah terdiri daripada apa ? Telur ayam itu terdiri daripada kulit telur, putih telur, dan kuning telur. Kalau telur ayam itu menetas yang menjadi anak ayam itu adalah dari kuning telur dan putih telur. Kulit telor itu tidak akan bisa berubah menjadi anak ayam jika dipecah. Kalau telor tadi dimakan, digoreng maksudnya, itupun yang dimakan oleh manusia itu hanya kuning telur dan putih telur, tetapi kulit telor ini tidak dimakan. Jadi Kulit telor ini tidak bisa jadi anak ayam dan tidak bisa pula untuk dimakan. Kalau kita bertanya kepada Allah buat apa kulit telur itu diciptakan, tidak bisa dimakan dan tidak pula bisa jadi anak ayam. Tentu jawabannya telor tidak akan jadi anak ayam kalau tidak ada kulitnya. Dan telor tidak akan bisa dimakan kalau keluar daripada pantat ayam tanpa kulitnya, tidak ada yang mau memakannya. Ini karena isi telor tadi keluar tanpa kulit telur, sehingga menjadi najis. Jadi putih telur dan kuning telur ini akan bermanfaat jika ada kulit telur.”  Begitu pula orang-orang yang berbuat salah kepada kita, yang menguji, atau para penentang agama, ini seperti kulit telur atas telor. Untuk menetaskan orang menjadi penyabar, menjadi pemaaf, menjadi beriman, adalah karena adanya orang-orang yang menentang kepada usaha agama ini. Jadi sebetulnya yang menaikkan derajat Nabi Musa AS, sampai kepada derajat Nabi yang Ulul Azmi ( 5 Nabi yang paling Mulia ), ini dikarenakan adanya tantangan daripada Firaun. Naiknya derajat Rasullullah SAW sampai kepada derajat Ulul Azmi dan derajat Sayyidul Anbiya karena penentangan daripada Abu Jahal, Abu Lahab, dan lain-lain.

Orang yang tahu akan hakekat Sabar dalam Mujahaddah ini, diceritakan dalam sebuah kitab, seorang syekh dipukuli sampai babak belur oleh seorang muridnya, padahal dia tidak bersalah. Tetapi Si syekh itu malah berdo’a, “Ya Allah ampuni muridku itu dan masukkan dia kedalam surgaMu.” Orangpun heran mengapa si syekh ini masih mau mendo’akan kebaikan untuk orang macam itu. Lalu si Syekh ini berkata bahwa dialah yang telah menaikkan derajatku menjadi sabar, supaya menjadi pemaaf, makanya aku berterima kasih kepada dia dengan mendo’akannya. Orang-orang yang faham akan hal ini, ketika mendapatkan kesulitan dalam menjalankan usaha agama ini, merupakan suatu anugrah, karunia, suatu nikmat yang besar dari Allah Ta’ala. Namun kita tidak boleh meminta didatangkan kesusahan karena setiap orang pasti diuji oleh Allah dengan kesusahan dan kesulitan. Nanti Allahlah yang menentukan waktu dan kadar daripada cobaan tersebut.

VII.             Yakin yang Betul pada Allah

Iman itu adalah :  Putus Hubungan dengan Mahluk hanya bergantung pada Allah Ta’ala. Jangan sampai tertipu dan jangan sampai salah bergantung. Hanya Allah yang bisa selain Allah tidak bisa apa-apa.

Allah berfirman :

“ Allah pencipta langit dan bumi, dan bila dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu, maka cukuplah Dia hanya mengatakan kepadanya : “Kun / Jadilah”. Maka terjadilah. ” ( 2 : 117 )

“Hai Manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak akan dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemahlah yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”( 22 : 73-74)

Hadits Nabi SAW :

Nabi SAW memberi nasehat kepada Ibnu Abbas RA, beliau SAW bersabda, “Wahai pamanku, jika seluruh manusia berkumpul dan hendak memberi manfaat kepadamu selain dari apa yang Allah telah tetapkan niscaya mereka tidak akan dapat melakukannya. Begitu juga jika seluruh manusia berkumpul dan hendak memberikan Mudharat kepadamu selain dari apa yang Allah telah tetapkan, niscaya mereka tidak akan dapat melakukannya. Tinta telah kering dan Pena telah diangkat.”

Nabi bersabda, bahwasanya Allah berfirman, “Wahai hamba-hambaku sesungguhnya kalian ini lapar kecuali yang aku beri makan, maka mintalah makan kepadaKu niscaya Aku akan memberikanmu makan, Wahai hamba-hambaKu sesungguhnya kalian ini telanjang kecuali yang aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepadaKu niscaya akan Aku berikan kepadamu pakain, wahai hamba-hambaKu sesungguhnya kalian ini buta kecuali yang aku beri petunjuk maka mintalah petunjuk kepadaKu niscaya akan memberimu petunjuk. Wahai hamba-hambaku sesungguhnya kalian ini banyak berbuat dosa siang dan malam tetapi Aku Maha Pengampun maka mintalah ampunan kepadaKu niscaya akan Aku ampuni dosamu walaupun dosamu seluas langit dan bumi. Wahai hamba-hambaKu sesungguhnya apapun yang kamu lakukan tidak akan ada gunanya untukKu. Jika kamu bertaqwa kepadaku setaqwa-taqwanya mahluk niscaya itu tidak akan menambah kekayaan dan kekuasaanku. Jika kamu durhaka sedurhaka-durhakanya mahluk niscaya itu tidak akan mengurangi kekayaan dan kekuasaanKu. Jika seluruh mahluk dikumpulkan dari jin, manusia, hingga malaikat di suatu tempat dari zaman nabi adam AS hingga Akhir kiamat lalu mereka meminta permohonan yang berbeda-beda dan Aku mengabulkannya, maka itu tidak akan mengurangi Khazanah KekayaanKu melainkan hanya bagaikan satu tetes air dilautan.”

Kisah Tabi’in :

Uwais Al Qarni adalah seorang Tabi’in yang terbaik diantara tabi’in menurut para tabi’in. Ketika dia pergi naik kapal ditengah perjalanan kapalnya akan tenggelam, tetapi dia tenang-tenang saja. Ketika itu ia keluar dari kapal dan berjalan diatas air. Orang-orang bertanya bagaimana dia bisa melakukan itu. Dia menjawab kalian bergantung pada kapal sehingga kalian ikut tenggelam dengan kapal. Lalu Uwais Al Qarni berkata, “sekarang keluarlah kalian dan ucapkan ‘Bismillah’ !” Lalu keluarlah orang-orang itu dan berjalan di atas air. Makna dari Bismillah disini adalah memutuskan hubungan dengan mahluk dan hanya bergantung pada Allah.

Kisah Waliullah :

Seseorang murid Syekh Abdul Qadir Jaelani, bertanya kepada beliau tentang “Apa itu Iman ?” mendengar ini syekh mengajak muridnya untuk pergi berlayar. Ditengah lautan tiba-tiba syekh mendorong muridnya hingga tercebur ke laut lalu meninggalkannya. Muridnya teriak-teriak memanggil gurunya minta tolong hingga gurunya hilang dalam kabut. Lalu si Murid, berdo’a, “Ya Allah kini saya tidak punya siapa-siapa kepadamulah saat ini aku bergantung dan memohon pertolongan.” Maka ketika itu tiba-tiba gurunya muncul dari kabut dan berkata, “Sekarang kamu sudah mengerti arti dari hakekat Iman.”

Kisah Tabi’in :

Seorang tabi’in ketika seseorang datang kepadanya, “Wahai Syekh, saya dapat kabar bahwa kapal dagangmu tenggelam.” Lalu si Syekh itu diam saja dan memandang ke arah hatinya, lalu mengucapkan “Alhamdulillah”. Setelah berapa lama kemudian orang yang sama itu datang lagi dan berkata, “Wahai Syekh ternyata yang tenggelam bukan kapalmu.” Si syekh kembali memandang ke arah hatinya, lalu berkata, “Alhamdullillah”. Maka si orang itu bertanya kenapa dia mengucapkan Alhamdullillah ketika kapalnya dinyatakan tenggelam dan mengucapkan hal yang sama ketika bukan kapalnya yang tenggelam. Si Syekh itu berkata, “Itu karena ketika saya mendengar berita tersebut saya lihat hatiku apakah Imanku terkesan terhadap keadaan yang Allah kasih. Ternyata Imanku tidak terganggu ketika aku mendengar Kapalku tenggelam dan ketika mendengar Kapalku baik-baik saja.” Maksudnya Imannya sudah tidak terkesan pada kebendaan, putus hubungan dengan mahluk hanya bergantung pada Allah.

Kisah Sahabat :

Suatu ketika Khalid bin Walid RA ditantang oleh seorang Yahudi untuk meminum racun jika ia memang Yakin pada Tuhannya, bahwa mati itu Allah yang menentukan. Lalu seketika itu juga tanpa berpikir dua kali Khalid RA meminum Racun itu. Ketika itu Khalid RA tetap hidup bahkan penyakit yang dideritanya hilang asbab racun tersebut. Inilah keyakinan para Sahabat.

Kisah Nabi SAW :

Ketika Nabi SAW beristirahat dibawah pohon datanglah seseorang hendak membunuh Nabi SAW dengan meletakkan pedangnya dileher Nabi SAW. Lalu orang itu berkata, “Siapa yang akan menolongmu ?” lalu Nabi SAW berkata, “Allah” seketika itu juga pedang orang tersebut terjatuh lalu diambil oleh Nabi SAW dan diletakkan dileher orang itu dan berkata, “Sekarang siapa yang akan menolongmu ?” seteleh orang tersebut memohon belas kasihan kepada Nabi SAW akhirnya orang tersebut dibebaskan oleh Nabi SAW

Kisah Musa AS di bukit Thursina :

Ketika Musa AS ditanya oleh Allah apakah kegunaan tongkatmu itu. Lalu Musa menjawab manfaat yang dia dapatkan dari tongkatnya seperti untuk mengembala kambing, mengambil buah-buahan, dan mengusir binatang buas. Lalu Allah Ta’ala berfirman, “Wahai Musa sekarang lemparlah tongkatmu.” Setelah Musa AS melempar tongkatnya tiba-tiba tongkat yang dapat memberikan manfaat kepada Musa menjadi Ular besar. Musa AS lari ketakutan karena kini tongkat yang bermanfaat telah menjadi Ular yang membawa Mudharat buat Musa AS. Tapi ketika itu Allah Ta’ala memerintahkan Musa untuk mengambil ular itu dari mulutnya. Karena ini perintah Allah, maka Musa AS dengan rasa takut diambillah ular itu dari mulutnya. Dengan Kekuasaan Allah tiba-tiba Ular besar yang dapat memberi Mudharat kepada Musa AS berubah menjadi tongkat kembali. Tarbiyah yang hendak Allah berikan kepada Musa AS adalah bahwa Manfaat dan Mudharat itu datangnya dari Allah. Allah dapat mengubah sesuatu yang dapat mendatangkan manfaat bagi manusia menjadi mendatangkan mudharat. Begitu juga Allah dapat mengubah sesuatu yang dapat mendatangkan mudharat bagi manusia menjadi bermanfaat. Manfaat dan Mudharat berubah-ubah atas kehendak Allah, dan Allah yang mengatur.

Kisah Nabi Ibrahim AS :

Ketika Ibrahim AS hendak dilemparkan kedalam Bara Api yang besar oleh Raja Namrud Laknatullah Alaih. Para Malaikat datang setelah meminta izin kepada Allah untuk membantu Ibrahim AS. Tetapi Ibrahim AS menolak bantuan dari Malaikat, dan hanya mengharapkan bantuan dari Allah. Mahluk tak bisa buat apa-apa tanpa seizin Allah.  Maka ketika Ibrahim AS dilempar ke dalam Api, Allah perintahkan Api jadi adem menyelamatkan bagi Ibrahim AS, padahal talinya yang mengikat Ibrahim AS sempat terbakar namun Ibrahim AS tidak apa-apa. Allah ciptakan Api dan sifat panas pada Api ini adalah Allah yang berikan. Oleh karena itu Sifat panas pada Api tidaklah Mutlak, Allah dapat mengambil sifat panas pada Api dan merubahnya tergantung KehendakNya. Jangan sampai salah bergantung, hanya Allah yang bisa selain Allah tidak bisa apa-apa.

Kisah Nabi Nuh AS :

Ketika Allah Ta’ala beritakan kepada Nuh AS bahwa akan datang banjir besar yang akan keluar dari pembakaran roti milikmu. Nuh AS percaya saja, dia langsung taat pada perintah Allah dan lalu membuat kapal besar diatas bukit. Beda dengan anaknya yang Nuh AS telah beritakan kepadanya tentang banjir, anaknya berkata, “Jika Banjir itu datang saya akan lari ke atas gunung.” Anak Nuh AS bergantung pada gunung untuk selamat dari banjir. Tetapi apa yang terjadi ketika Banjir itu datang, gunungpun ditelan oleh banjir tersebut. Sedangkan Nuh AS selamat karena ikut perintah Allah Ta’ala. Jangan sampai salah bergantung, hanya Allah yang bisa selain Allah tidak bisa apa-apa.

Kisah Nabi Yusuf AS :

Ketika Yusuf AS diceburkan oleh abang-abangnya kedalam sumur, Yusuf AS berdoa kepada Allah memohon pertolongan, maka ketika itu datanglah pertolongan Allah melalui musafir yang menolong Yusuf AS dari sumur. Tetapi ketika Yusuf AS dipenjara, dia meminta tolong kepada kepada orang yang akan keluar dari penjara untuk memberi tahu kepada Raja bahwa dia, Yusuf AS, tidak bersalah. Karena Nabi Yusuf AS salah bergantung ketika itu, dia bergantung pada orang lain, maka Allah buat orang yang keluar dari penjara itu lupa atas pesan Yusuf AS. Lalu Allah biarkan Yusuf AS berada dalam penjara selama 8 tahun lamanya tanpa pertolongan. Jangan sampai tertipu dan jangan sampai Salah bergantung, hanya Allah yang bisa selain Allah tidak bisa apa-apa.

Kisah Nabi Musa AS :

Ketika Musa AS membawa Bani Israil keluar dari Mesir dibelakang tentara Firaun mengejar siap menghancurkan Musa AS dan Bani Israil, sedangkan didepannya ada laut. Musa AS dan Bani Israil tidak bisa kemana-mana. Lalu Bani Israil berkata kepada Musa AS, “Wahai Musa kita tidak bisa kemana-mana, hancurlah kita sekarang.”  Tapi apa kata Musa AS, “Tenang, Allah bersamaku.” Lalu Allah perintahkan Musa untuk memukul tongkat ke laut, Musa langsung percaya dan lakukan perintah Allah tanpa pikir-pikir lagi. Padahal menurut logika buat apa tongkat dipukul ke laut padahal kalau dipukul ke kepala Firaun lebih berguna. Inilah perintah Allah yang kadang-kadang tidak masuk diakal dan tidak bisa dilogikakan. Hari ini banyak perintah Allah kita akal-akalin makanya kita susah. Sedangkan Musa AS setelah memukul tongkatnya Laut terbelah menjadi 12 jalan buat Musa AS. Masalah selesai sedangkan Firaun tenggelam dalam lautan yang sama yang menyelamatkan Musa AS. Jangan sampai Tertipu dan jangan sampai Salah bergantung, Hanya Allah yang bisa selain Allah tidak bisa apa-apa.

Usaha atas Nafi Itsbat ( Meniadakan yang lain dan hanya membenarkan Allah ) :

Meyakini Kekusaan Allah ada yang :

1.             Dengan Asbab (Sunnatullah) :

menciptakan manusia hasil dari perkawinan manusia

2.             Tanpa Asbab           :

menciptakan manusia tanpa ibu dan bapak seperti Adam AS

3.             Berlawanan Asbab :

menciptakan manusia bertentangan dengan asbab, Isa AS lahir dari ibu yang suci, onta nabi sholeh yang lahir dari batu, tongkat nabi Musa AS menjadi ular.

Meyakini bahwa :

1.             Allah Khaliq             :               Allah yang menciptakan

2.             Allah Malik              :               Allah yang memelihara ciptaannya

3.             Allah Razieq            :               Allah pula yang menjamin Rizki CiptaanNya

Meyakini bahwa :

1.             Mahluk itu adalah ciptaan Allah

2.             Sifat pada mahluk ini Allah yang memberikan

3.             Allah kuasa merubah sifat pada mahluk

4.             Sifat pada mahluk hanya setetes sifat di dalam khazanah Allah

Contoh :

Api itu adalah mahluk Allah. Sifat panas pada Api adalah Allah yang memberikan. Allah kuasa merubah sifat panas pada Api seperti Apinya Nabi Ibrahim AS yang menjadi sejuk. Sifat yang ada pada Api ini dibanding dengan sifat-sifat yang masih ada dalam khazanah Allah hanya seperti satu tetes air di lautan.

Meyakini bahwa :

1.             Allah mampu memberikan manfaat dengan mahluk

2.             Mahluk tidak bisa berikan manfaat dan mudharat tanpa seizin Allah

3.             Allah tidak berhajat pada mahluk, tetapi mahluk berhajat pada Allah

4.             Allah mampu memberikan manfaat dengan mahluk / tanpa mahluk

contoh     :

“ Allah dapat menyembuhkan penyakit dengan obat. Obat tidak bisa menyembuhkan penyakit tanpa izin dari Allah. Obat adalah mahluk, dan mahluk tetap mahluk. Allah tidak berhajat pada mahluk tetapi mahluk berhajat pada Allah. Mahluk tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat tanpa izin dari Allah. Obat dapat menyembuhkan penyakit karena ada izin dari Allah. Tetapi Allah tidak memerlukan obat dalam menyembuhkan penyakit. Allah berkuasa menyembuhkan penyakit tanpa obat.”

“ Allah dapat menghilangkan haus dengan air. Namun Air tidak bisa menghilangkan haus tanpa izin dari Allah. Air adalah mahluk, dan mahluk tetap mahluk. Allah tidak berhajat pada mahluk tetapi mahluk yang berhajat pada Allah. Mahluk tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat tanpa izin dari Allah. Air dapat menghilangkan haus karena ada izin dari Allah. Allah mampu menghilangkan haus tanpa air.”

“ Allah mampu menggunakan Api untuk membakar. Tetapi Api tidak bisa membakar tanpa izin dari Allah. Api adalah mahluk, dan mahluk tetap mahluk. Allah tidak berhajat pada mahluk tetapi mahluk berhajat pada Allah. Mahluk tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat tanpa izin dari Allah. Api dapat membakar karena ada izin dari Allah. Allah berkuasa membakar tanpa api.”

Meyakini bahwa :

1.             Mahluk tidak bisa, Allahlah yang melakukannya

2.             Mahluk berhajat pada Allah, Allah SWT tidak berhajat pada mahluk

3.             Allah berkehendak dengan mahluk & tanpa mahluk sama saja

4.             La illaha Illallah

Contoh :

“Api tidak bisa membakar, Allah yang membakar. Api untuk membakar berhajat pada Allah. Allah membakar tidak berhajat pada api. Jika Allah berkehendak Allah bisa membakar dengan api, jika Allah berkehendak Allah bisa membakar tanpa Api. La Illaha Illallah.”

“Pesawat tidak bisa mengantar manusia, Allahlah yang mengantar manusia. Pesawat untuk bisa mengantar manusia berhajat pada Allah. Allah untuk mengantar manusia tidak berhajat pada pesawat. Jika Allah berkehendak Allah bisa mengantar manusia dengan pesawat, jika Allah berkehendak Allah bisa mengantar manusia tanpa pesawat. La Illaha Illallah”

“Air tidak bisa menghilangkan haus, Allah yang menghilangkan haus. Air menghilangkan haus berhajat pada Allah. Allah menghilangkan haus tidak berhajat pada air. Jika Allah bekehendak Allah bisa menghilangkan haus dengan air, jika Allah berkehendak Allah bisa menghilangkan haus tanpa air.”

Menemukan Cinta Allah Azza wa Jalla :

Orang yang bisa menemukan ketenangan di dunia ini adalah orang yang bisa menemukan cinta Allah kepadanya. Seperti cinta orang tua kepada anaknya, menyebabkan apapun yang diminta oleh anaknya akan diberikan oleh orang tuanya. Jika si anak mendapatkan masalah maka orang tuanya akan menolongnya. Begitu juga jika Allah sudah mencintai hambanya maka Allah akan memberikan apa yang hambanya minta dan Allah akan memberikannya jalan keluar dari segala masalah. Tanpa cinta Allah kepada hambanya maka kita tidak akan bisa menemukan kebahagiaan di dunia, dan di akheratpun kita akan sengsara selama-lamanya. Masuknya seseorang kedalam surgapun bukanlah dari pada amal-amalnya tetapi asbab kecintaan Allah pada hambanya.

Nabi SAW bersabda :

“Barang siapa yang menyatakan perang kepada kekasihKu, Aku akan menyatakan perang kepadanya. Tidak ada jalan yang lebih Aku sukai dari hamba-hambaku yang ingin mendekatkan dirinya kepadaKu selain dari mengerjakan perkara-perkara yang Aku Wajibkan. Namun hamba-hambaKu senantiasa juga  melaksanakan yang Aku Sunnatkan, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya maka Aku akan menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku akan menjadi mulutnya yang dengannya ia berbicara, aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah, dan aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memukul. Jika ia berdoa kepadaku niscaya pasti akan aku kabulkan.”

3 Amal yang Allah paling sukai :

1.             Sholat berjamaah pada waktunya à Ibadah

2.             Berbakti pada orang tua à Akhlaq

3.             Berjihad di jalan Allah à Pengorbanan

Abu Bakar RA berkata orang yang menyembah Allah ada 3 bentuk :

1.             Menyembah karena Rasa Takut kepada Allah Ta’ala

Ciri-cirinya : Tawadhu, selalu merasa kurang dalam beramal, selalu merasa banyak dosa

2.             Menyembah karena mengharapkan RahmatNya

Ciri-cirinya : Dermawan, selalu Husnudzon, selalu menjaga Adab

3.             Menyembah karena Cinta kepadaNya.

Ciri-cirinya : Pengorbanan, Taqarrub, Dzikir, Mujahaddah atas Nafsu, Syukur dan Malu

Kisah seorang Waliullah bernama Rabi’ah Ad Dahlawi Rah. A :

Rabi’ah pernah berkata yang menunjukkan cintanya kepada Allah bahwa dia sudah mengambil keputusan untuk melipat semua waktu saya hanya untuk beribadah kepada Allah. Rabi’ah Ad Dahlawiyah sudah menyatakan bahwa dia sudah menentukan jalan hidupnya hanya untuk mengabdi pada perintah-perintah Allah saja, tidak untuk patuh atau berkhidmat kepada selain Allah. Inilah bukti cinta Rabi’ah pada Allah Ta’ala semata yaitu dengan menolak kehadiran yang lain. Dan cara untuk dapat mengamalkan itu semua yaitu dengan membuat keputusan atas maksud hidup. Lalu melewati hidup dengan cara  mujahaddah atas nafsu. Inilah ciri-ciri orang yang telah menemukan cintanya kepada Allah.

Rabi’ah pernah berkata :

“Sekiranya nanti di surga aku berjauhan dengan wajah Allah walaupun hanya satu tarikan nafas maka aku akan menangis hingga orang lain menaruh kasihan kepadaku dan memberiku jalan untuk lebih berdekatan kepada Allah Ta’ala.”

Munajatnya Rabi’ah Rah.A  ketika malam Hari :

“Ya Allah seluruh bintang masih bercahaya, seluruh mata sedang terlelap tertidur panjang, para penguasa telah mengunci pintu pagar istananya, yang bersuami tengah bermesraan dengan istrinya, sedangkan aku disini berdiri tegak dihadapanmu.”

Maksudnya :

Seluruh bintang bercahaya : Tanda-tanda Malam

Seluruh Mata sedang terlelap tertidur panjang : Mereka yang sedang melewati malam dengan kelalaian

Para penguasa telah mengunci pagar istananya : Tidak ada pintu tempat memohon lagi

Yang bersuami lagi bermesraan dengan istrinya :Lebih memilih melewati malam dengan istri

Intinya :

Pernyataan ini adalah tanda harapan Rabi’ah agar Allah mau memperhatikannya yang merelakan malamnya dengan berserah diri kepada Allah :

Dia lebih memilih terjaga malam hari dibanding tertidur lalai dari Allah

Dia tidak tertarik meminta kepada penguasa selain dari Allah SWT penguasa sebenarnya

Dia tidak tertarik bermesraan dengan mahluk, hanya mau bermesraan dengan Allah.

Menjelang Subuh :

“Ya Allah kini malam telah pergi, berganti siang yang semakin mengembang. Adakah engkau terima munajatku tadi malam ? Jika engkau menerimanya maka aku akan sangat berbahagia. Jika engkau menolaknya maka aku akan terus bersabar dan aku akan terus menghadapkan diriku kepadamu selama engkau masih memberiku hidup. Maka aku akan terus mendatangimu dan selalu berusaha agar aku sampai di depan pintuMu. Kalaupun Engkau mengusirku dan menghalauku, aku akan tetap tidak akan meninggalkanmu karena aku sangat mencintaimu, ya Allah.”

Intinya :

Inilah kecintaan Rabi’ah pada Allah bukan karena mengharapkan imbalan tetapi inilah bukti kecintaan yang sebenarnya. Walaupun diusir dan dicampakkan dia akan tetap mencintai dan berusaha mendapatkan cintaNya. Karena yang namanya cinta ini tidak perlu alasan dan tidak peduli akan balasan. Selama dia tenggelam dalam kenikmatan cintanya, tidak peduli apakah cintanya terbalas atau tidak, dia sudah cukup bahagia tenggelam dalam perasaan cintanya.

Do’a-do’a Rabi’ah Rah. A :

“Ya Allah aku berlindung kepadamu dari perkara yang menyibukkanku selain dari menyembah kepadamu. Dan dari segala penghalang yang dapat merenggangkan hubunganku denganmu.”

Sebaik-baiknya cinta pada Allah adalah :

1.             Mencintai yang Allah cintai, membenci yang Allah benci

2.             Mencintai orang yang Allah cintai dan membenci orang yang Allah benci.

3.             Cinta karena Allah dan Benci karena Allah.

4.             Beramal dan tidak beramal karena Allah.

Menemukan Cinta pada Rasullullah SAW

3 Macam Akhlaq :

1.             Akhlaqul Hasanah : Tidak membalas perbuatan jahat orang lain

2.             Akhlaqul Karimah : Membalas perbuatan jahat dengan kebaikan

3.             Akhlaqul Azimah : berbuat baik dan usaha membuat musuh jadi baik

Akhlaq Nabi :

1.             Shiddiq à Jujur / Benar

2.             Amanah à Bisa dipercaya

3.             Tabligh à Menyampaikan

4.             Fathonah à Cerdas dan Bijaksana

Yakin sahabat kepada seluruh perbuatan Nabi SAW dapat dilihat dari persamaan kehidupan dan perbuatan Nabi SAW dengan kehidupan sahabat sehari-hari. Rasullullah SAW itu adalah Al Qur’an berjalan, begitu juga para Sahabat RA. Ini dikarenakan kehidupan mereka yang serupa.  Tidak ada dari perbuatan dan kehidupan Nabi SAW yang tidak di ikuti sahabat RA. Apa yang Nabi SAW cintai itu yang mereka cintai walaupun tadinya mereka membencinya. Dan apa yang dibenci oleh Nabi SAW itupun yang mereka benci walaupun awalnya mereka menyukainya. Sahabat Anas RA ketika mendengar kabar bahwa Nabi SAW telah dibunuh di perang Uhud, langsung merasa hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi sehingga dia bertempur mati-matian sampai mendapatkan syahid. Seorang Sahabiah tidak sedih mendengar kabar bahwa suami, ayah, dan anaknya telah syahid, tetapi sahabiah ini sangat khawatir ketika mendengar keadaan yang mengancam jiwa Nabi SAW di medan Uhud. Inilah kecintaan sahabat kepada Nabi SAW yang melebihi kecintaan mereka kepada keluarga mereka sendiri bahkan melebihi diri mereka sendiri. Sahabat ketika itu fikirnya adalah bagaimana melindungi Nabi SAW dalam keadaan apapun dari musuh manapun di dalam peperangan separah apapun. Mereka semua merelakan nyawanya asal Nabi SAW selamat. Tetapi hari ini Nabi SAW sudah tidak ada lagi, lalu apa yang kita lindungi dan kita pertahankan saat ini ? Dahulu yang dipertahankan mereka adalah Nabi SAW karena Nabi SAW ini adalah sumber agama dan tempat turunnya wahyu. Walaupun Nabi SAW sudah tidak ada lagi, namun Sunnah-sunnahnya masih ada sampai saat ini sebagai peninggalan dan warisan Beliau SAW. Jadi yang perlu kita lindungi dan kita pertahankan saat ini adalah sunnah daripada Nabi SAW itu sendiri. Ini yang harus kita lindungi dan kita jaga mati-matian sebagaimana sahabat menjaga dan melindungi Nabi SAW mati-matian. Mahfum hadits dikatakan ,”Barangsiapa mengamalkan sunnahku di jaman Fahsyad dan Mungkar maka Allah akan memberinya pahala 100 orang mati syahid.” Untuk dapat melakukan ini perlu kita jadikan fikir Sahabat RA menjadi fikir kita. Hanya dengan fikir dan kecintaan seperti sahabat RA kepada Nabi SAW, kita dapat menjaga dan memelihara sunnah Nabi SAW. Kalau mau selamat, sukses, berhasil, dan bahagia ikut aja Nabi SAW dan para Sahabat RA yang jelas-jelas sudah  dijamin kesuksesannya oleh Allah Ta’ala, gak ada jalan lain, yang mau coba-coba cari jalan lain dijamin gagal.

Hadits Nabi SAW Mahfum :

Barangsiapa yang menjalankan Sunnahku berarti dia mencintaiku, barangsiapa mencintaiku maka dia akan di Surga bersamaku.

Barangsiapa yang mengerjakan Sunnahku di jaman Fahsya dan Munkar (Jaman yang Rusak) maka Allah akan memberinya pahala 100 orang mati syahid.

Rasullullah SAW berkata kepada para Sahabatnya bahwa ada nanti orang-orang yang tidak mau masuk surga. Para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasullullah”, Nabi SAW menjawab, “Mereka yang tidak mau mengerjakan Sunnahku”

Rasullullah SAW bersabda, bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa yang menyatakan perang kepada kekasihKu, Aku akan menyatakan perang kepadanya. Tidak ada jalan yang lebih Aku sukai dari hamba-hambaku yang ingin mendekatkan dirinya kepadaKu selain dari mengerjakan perkara-perkara yang Aku Wajibkan. Namun hamba-hambaKu senantiasa juga  melaksanakan yang Aku Sunnatkan, sehingga Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya maka Aku akan menjadi penglihatannya yang dengannya ia melihat, aku akan menjadi pendengarannya yang dengannya ia mendengar, Aku akan menjadi mulutnya yang dengannya ia berbicara, aku akan menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah, dan aku akan menjadi tangannya yang dengannya ia memukul. Jika ia berdoa kepadaku niscaya pasti akan aku kabulkan.”

Kisah Nabi :

Suatu ketika datang seorang dokter kepada Nabi SAW dan berkata bahwa ia hendak melakukan inspeksi di kota madinah untuk melihat kondisi kesehatan orang-orang madinah, kalau-kalau ada yang sakit. Setelah berkeliling kota madinah dokter tersebut melaporkan bahwa tidaka da satu orangpun yang sakit atau tidak sehat di madinah. Lalu Nabi SAW menjawab itu karena mereka semua menjalankan Sunnahku. Mereka makan ketika lapar berhenti sebelum kenyang (salah satu sunnah nabi).

Kisah Sahabat :

Ada seorang Sahabat yang tidak suka memakan buah labuh, namun suatu ketika dia melihat Nabi SAW memakan buah Labuh itu dengan Lahapnya. Maka semenjak itu dia jadikan Buah Labuh menjadi buah kesukaannya. Kesukaan Nabi menjadi kesukaannya. Ada sahabat menghancurkan rumah tingkat yang dibangunnya karena Nabi SAW tidak suka melihatnya. Apa yang dibenci Nabi menjadi apa yang dia benci.

Suatu ketika Nabi SAW melewati pohon yang rantingnya agak rendah sehingga Nabi SAW harus membungkuk. Karena Sahabat meyakini dibalik Sunnah Nabi SAW ada kejayaan maka sahabat yang mengikuti Nabi SAW dari belakang juga ikut membungkukkan badannya padahal jika dia berjalan normalpun ranting itu tidak akan mengenai kepalanya.

Suatu ketika ada sahabat yang tertangkap oleh orang kafir Quraish dan akan dihukum mati oleh mereka. Lalu salah seorang dari kafir Quraish bertanya apakah dia mau menukarkan dirinya demi keluarganya dengan Jiwa Rasullullah SAW. Tetapi apa kata sahabat tersebut, “Aku dan Keluargaku tidak akan rela melihat Nabi SAW disakiti walaupun itu hanya sebiji duri yang mengenai kakinya.” Sahabat lebih memilih melihat dirinya dan keluarganya mati dibanding harus melihat Nabi SAW tersakiti walaupun hanya dengan sebiji duri.

Ada kisah mengenai Abu Bakar RA, suatu ketika anak laki-laki Abu Bakar RA datang kepadanya lalu berkata, “Wahai Ayahku sesungguhnya ketika perang Badr aku mendapatkan tiga kali kesempatan untuk membunuhmu, namun karena rasa cintaku kepadamu aku tidak jadi membunuhmu.” Lalu apa jawab Abu Bakar RA, “Wahai anakku jika ketika itu aku melihatmu maka aku langsung memenggalmu karena Aku lebih mencintai Allah dan Rasulnya.” Inilah kecintaan Sahabat kepada Nabi SAW melebihi cinta mereka kepada keluarganya.

Allah berfirman dalam Al Qur’an :

“ Sesungguhnya telah ada pada diri Rasullullah SAW itu suri tauladan (program/contoh) yang baik bagimu yaitu bagi orang-orang yang mengharap Rahmat (Pahala / Kebaikan) dari Allah…”

( 33 : 21 )

“ Katakanlah : “ Jika kamu mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampunkan dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” ( 3 : 31 )

Jenis-jenis manusia yang tidak akan pernah bahagia dunia dan akherat :

Tidak Pernah Bersyukur :

Hari ini banyak orang Allah telah beri nikmat berupa kesehatan, kekayaan, dan lain-lain, tetapi tidak pernah disyukuri. Dikasih nikmat kesehatan bukannya digunakan buat beramal sebelum datang sakit tetapi malah digunakan buat berleha-leha, santai-santai.

Dikasih harta bukan buat tambah korban atau sedekah atau ibadah tetapi malah buat dosa, malah buat ngelawan Allah. Qorun telah Allah kasih nikmat harta tetapi dia ingkar kepada Allah tidak mau bayar Zakat dan malah berkata “Ini adalah hasil dari jerih payah saya.” Inilah yang kebanyakan orang-orang bilang hari ini tentang harta mereka. Akhirnya Qorunpun Allah hancurkan, harta yang dia punyai tidak bisa membeli Azab Allah, tidak bisa menyelamatkan dia juga. Inilah tanda-tanda orang yang tidak bersyukur, ingkar terhadap pemberian Allah kepadanya. Kitapun nasibnya bisa sama seperti Qorun jika kita tidak mau menyukuri nikmat Allah. Maulana Ibrahim berkata tanda-tanda kebathilan dalam diri adalah jika kita menyangka harta, rumah, dan kebendaan yang kita miliki adalah milik kita. Ini perlu kita sadari bahwa seluruh harta yang kita miliki bahkan diri kita adalah milik Allah. Untuk membenarkan kesalah fahaman ini makanya kita perlu keluar dijalan Allah.

Bagaimana Allah tidak murka pada kita. Allah berikan kenikmatan-kenikmatan dan kebaikan-kebaikan pada diri kita tetapi malah kita gunakan untuk bermaksiat pada Allah. Kalau ini terjadi antara kita dan teman kita maka kita sudah bilang teman kita penghianat atau penohok (tukang tusuk dari belakang). Udah kita baikin tetapi malah menjerumuskan kita. Bagaimana Allah memandang kita terhadap nikmat-nikmatnya yang kita gunakan untuk bermaksiat kepada Allah.

Dikasih keamanan berupa udara, matahari, air, dan lain-lain tidak pernah kita ingat-ingat yang kita ingat justru masa susah melulu, gak ada duit, gak ada makan, dan lain-lain. Padahal kalau Allah umumkan mulai besok persediaan udara habis, matahari mo dimatikan, stock air ditutup, bagaimana jadinya ? bisa gak kita merasa aman. 1 tabung gas oksigen saja di rumah sakit sudah berapa harganya, bagaimana sinar matahar, air, dll, kalau pake tagihan juga. Nah ini perlu kita syukuri. Tetapi sudah demikian baiknya Allah pada kita, tetapi buat beribadah kita masih bisa bilang gak ada waktu, ada saja alasannya. Bani Israil pernah diperingatkan oleh Nabi Musa bahwa Allah telah hilangkan rasa takut mereka kepada Firaun dan diberi rasa aman. Jika kalian ingkar terhadap Allah dan NikmatNya maka nanti Allah akan hancurkan kalian sebagaimana Allah telah hancurkan Firaun. Begitu juga kita kini, Allah telah berikan kita banyak kenikmatan, jika kita tidak bersyukur dan ingkar terhadap nikmat Allah, maka nasib kita bisa sama seperti Bani Israil. Bani Israil adalah contoh kaum yang ingkar terhadap nikmat Allah, bagaimana kesudahannya dengan mereka.

Lihat Nabi Ayub AS, walaupun dia diberi ujian berupa penyakit selama bertahun-tahun sampai dikucilkan oleh orang kampung dan ditinggalkan isteri-isterinya, tetapi masih tetap bisa melihat nikmat yang ada dan menyukurinya. Tidak pernah Nabi Ayub AS mengeluh atas keadaannya. Ayub AS berkata, “Ya Allah seluruh badanku sudah hancur, tetapi janganlah engkau ambil hati dan lidahku ini, karena aku khawatir aku tidak dapat memujimu lagi.” Sudah sakit tetapi ia masih bisa bersyukur makanya Ayub AS, Allah katakan sebagai hambanya yang terbaik.  Allah abadikan kisah ini dalam Al Qur’an agar kita bisa mengikutinya.

Kita perlu dapat melihat nikmat-nikmat Allah dalam segala keadaan, baik senang ataupun susah. Dan kita tambah lagi pengorbanan dan amal kita agar kita termasuk orang-orang yang bersyukur. Jika kita bersyukur maka nanti Allah akan tambah nikmat kita. Bagaimana kita bersyukur dalam segala keadaan. Orang miskin bersabar ini sudah seharusnya dia bersabar tetapi orang miskin bersyukur ini baru tanda-tanda ketakwaan. Alhamdulillah, Allah masih beri kita makan hari ini walaupun hanya nasi dan tempe. Orang kaya bersyukur sudah seharusnya tetapi orang kaya bersabar atas kekayaannya, ini baru takwa. Sabar dari menghambur-hamburkan uang. Dari pada beli baju mendingan di sedekahkan atau dipakai untuk keluar dijalan Allah ini baru namanya mujahaddah atas nafsu. Bagaimana kita belajar melihat kebaikan Allah dalam segala keadaan baik dan buruk. Umar RA pernah bertanya kepada seorang sahabat tentang nikmat yang dipunya seorang fakir tertidur dijalan dalam keadaan yang sangat susah sakit-sakitan. Sahabat bilang tidak ada kenikmatan yang terlihat dari orang itu. Tetapi Umar malah bilang, “bukankah ia masih dapat buang air dan buang angin.” Inilah tanda-tanda orang yang takwa yaitu selalu dapat melihat kebaikan yang Allah kasih dalam segala keadaan. Tanda orang bersyukur ini tidak cukup dengan mengucapkan Alhamdullillah saja tetapi dengan amal juga. Bagaimana kisah tentang Nabi Daud AS, Allah telah beri dia kerajaan, tetapi ia mensyukurinya dengan menambah amalnya, sehari puasa dan sehari tidak. Padahal ia seorang raja. Ini baru contoh orang yang tau mensyukuri nikmat Allah.

Ada suatu kisah dijaman Nabi SAW seseorang datang kepada Nabi SAW minta didoakan agar dijadikan kaya, tetapi setelah kaya orang ini malah ingkar atas nikmat berupa harta yang Allah telah kasih pada dia. Sebelum ia kaya dia rajin ke mesjid tetapi setelah kaya ia malah jauh dari agama dan malah menjadi bakhil ( pelit ). Inilah manusia, tidak pernah bersyukur udah dikasih malah dilupain, dulu nangis-nangis minta-minta. Tetapi setelah kenikmatan datang, Allahnya kita lupakan. Maka ketika itu seluruh nikmat kekayaannya Allah ambil kembali, bahkan ada yang Allah jadikan semakin bertambah hartanya maka semakin menderitalah dia.

Dan inipun banyak terjadi pada kehidupan kita sekarang. Pernah ada jemaah datang kesatu daerah, ketika itu kunjungan sillaturrahmi dibuat oleh jemaah kepada seseorang yang miskin dan pengangguran, si fulan namanya. Ketika diajak untuk ke mesjid dia menjawab tidak bisa karena paginya dia harus mengantar anaknya sekolah, siangnya dia harus cari ke kerja, malam jaga anak giliran ama isteri. Dia bilang kalau saya ikut kalian anak dan isteri saya mau dikasih makan apa. Tidak ada waktu sama sekali, tetapi dia minta dido’akan agar kondisinya berubah sehingga dia ada waktu buat ke Mesjid. Maka dido’akanlah dia oleh jema’ah agar kondisinya Allah ubah menjadi lebih baik agar bisa ada waktu ke mesjid. Tidak lama setelah jema’ah pulang, beberapa bulan kemudian ternyata daerah itu akan dibuka pabrik. Akhirnya bekerjalah si fulan di pabrik itu. Lalu datanglah jemaah berikutnya, pergi dengan penunjuk jalan yang sama kepada si fulan. Tetapi walaupun keadaan sudah berbeda, ia sudah dapat kerja sekarang, uang sudah ada, namun tetap saja dia tidak bisa datang ke mesjid. Dia bilang saya sibuk kerja dari pagi hingga malam, waktu libur digunakan buat sama keluarga karena jarang bertemu hari biasa katanya. Lalu kata jema’ah, kalau begitu kami do’akan agar bapak punya banyak waktu, tetapi dia malah mengatakan : “jangan nanti pabriknya tutup setelah didoakan” katanya. Inilah manusia kini waktu sempit, waktu lapang tetap tidak ada waktu buat Allah. Inilah kondisi kita saat ini selalu tidak ada waktu buat Allah, kalaupun ada Allah kita kasih waktu sisa, sisa kerja, sisa meeting, sisa tidur, dan lain-lain.

Nanti kalau sudah datang musibah atau masalah, baru lari-lari menangis kepada Allah. Barangsiapa yang dapat mengingat Allah diwaktu senang maka Allah akan mengingatnya diwaktu susah. Kalau kita tidak mau ingat pada Allah diwaktu senang bagaimana Allah mau ingat kita diwaktu susah. Allah tidak pernah meninggalkan kita tetapi kita yang selalu meninggalkan Allah apalagi kalau kesenangan itu datang.

Tidak pernah Puas

Hari ini manusia sibuk mengumpulkan kebendaan seakan-akan kalau tidak ada kebendaan dia akan menderita dan tidak akan bahagia. Tetapi setelah diberikan kebendaan malah tidak pernah puas, selalu hidup dalam ketakutan, padahal kebendaan yang dipunya telah menumpuk. Inilah dunia indahnya cuman diangan-angan, tetapi kalau udah terjadi maunya malah biasa-biasa saja. Udah punya satu mobil maunya dua, udah ada baju perlu baju buat kantor, buat pesta, buat shopping, buat ini dan itu, selalu mau nambah tidak pernah puas.

Dunia itu sepertinya bagus, tetapi sebenarnya mencekik dan mengekang. Ada seorang artis dia menceritakan kisahnya dari kecil betapa dia ingin menjadi orang terkenal tetapi kini setelah terkenal hidupnya malah susah bahkan telah mencoba bunuh diri. Inilah manusia tidak pernah puas, udah diberikan taunya malah nyesel malah minta biasa-biasa saja.

Hari ini kita karena tidak ada rasa takut pada Allah maka Allah buat hati kita takut pada segala sesuatu, takut miskin, takut sakit, takut isteri, dan lain-lain. Sehingga kita jadi susah beramal, yang ada malah mengejar-ngejar dunia, tidak ada kebebasan, terikat biaya, waktu, dan kerjaan yang menumpuk. Tetapi kalau ada takwa dalam diri kita maka Allah akan masukkan hawa penghuni surga dalam kehidupan kita yaitu diberikan rasa Ghany ( kaya ) dan Qani’ ( Cukup ). Penghuni Surga ketika ditanya Allah mau apa lagi, mereka bingung karena semuanya sudah ada dan merasa cukup atas keadaan yang ada. Tetapi setelah melihat wajah Allah semua kenikmatan disurga langung hilang. Begitu juga kita kalau kita takut pada Allah maka Allah akan timbulkan kenikmatan kenikmatan dari keadaan-keadaan yang ada pada kita.

Kini orang hidup kaya tetapi tidak bisa menemukan kepuasan, selalu tidak penah puas dan selalu dalam ketakutan akan kekurangan. Lihat bagaimana Rasullullah SAW, rumahnya kecil tetapi setiap pulang dia selalu berkata, “Bayyiti Jannati, Rumahku Surgaku.” Bagaimana Sahabat tidak kesan pada kebendaan sehingga hidupnya Allah datangkan kecukupan dalam hati dan keberkahan. Sahabat setiap dapat harta langsung dibagi bagikan. Umar bin Khatab RA pernah memerintahkan khaddamnya memberikan harta ghanimahnya kepada para sahabat yang miskin. Tetapi apa yang dilihat oleh pembantunya Umar RA. Dia bercerita pada Umar RA bahwa harta yang dibagikan kepada para Sahabat yang disebutkan oleh umar ternyata dibagi-bagikan lagi oleh mereka kepada orang lain sampai habis. Inilah rasa cukup yang dipunyai Sahabat RA, sekarang lihat keadaan kita.

Rasa tidak puas ini menyebabkan sesorang tidak bisa bersyukur atas nikmat yang Allah kasih. Ada cerita seorang raja sedang pergi jalan-jalan bersama ratunya. Ditengah jalan si Ratu melihat orang miskin makan dan minum dengan bahagianya padahal makanan dan minuman mereka sangatlah tidak layak tetapi mereka terlihat bahagia. Si Ratu bertanya, “Bagaimana mereka bisa menemukan kebahagiaan dari keadaan seperti itu?” atas pertanyaan ini Si Raja memerintahkan kurir untuk memberikan 1 perak kepada seorang fakir, maka fakir itu terlihat bahagia sekali dan sangat bersyukur kepada Raja. Melihat keadaan ini tambah bingung si Ratu, “Kenapa dia bahagia sekali hanya dengan uang 1 perak saja, apa yang bisa dibeli dengan 1 perak itu ?” melihat hal ini maka Raja memberikan Ratu uang sebanyak 99 perak. Lalu Ratu bertanya, “Yah kenapa hanya 99 perak, kurang nih ?” si Ratu mengeluh. Lalu si Raja menjawab, “Itulah perbedaan antara kamu dengan mereka, mereka ada rasa puas dalam diri mereka sehingga kebahagiaan mudah masuk kedalam diri mereka.”

Panjang angan-angan

Orang yang paling menyesal nanti adalah orang yang panjang angan-angan karena mereka mati membawa angan-angan untuk mengerjakan amal. Hari ini umat suka merencanakan perkara-perkara yang jauh kedepan yang belum tentu terjadi. Seakan akan hidup ada jaminan keesokan harinya. Padahal yang namanya mati tidak ada yang tahu, karena  ini rahasia Allah. Ada suatu kisah seseorang membangun rumah karena dalam angan-angannya jika rumah yang dibangunnya jadi maka ia akan bahagi. Maka dia membuat rencana akan beli perlengkapan rumah ini itu, perabotan ini dan itu semua masuk dalam rencana jangka panjangnya jika rumahnya jadi. Tetapi setelah rumah itu jadi dalam perjalanan memindahkan barang ke rumah yang baru ternyata orang tersebut jatuh lalu meninggal. Akhirnya rumah bagus yang baru tersebut tidak sempat ditinggali. Rasullullah SAW pernah melukiskan kotak pada pasir kepada sahabat. Lalu didalam kota itu Nabis SAW menarik garis dari dalam keluar kotak sebanyak tiga garis. Lalu Nabi SAW bersabda mahfum, bahwa kotak tersebut adalah kehidupan manusia, garis panjang keluar adalah angan-angan manusia, garis kotang yang memotong dengan garis angan-angan itu adalah umur manusia atau kematian. Hari ini manusia suka buat rencana banyak-banyak dan panjang-panjang. Ternyata sebelum terwujud rencana tersebut, mati datang menjemput. Inilah yang namanya kesia-siaan. Maka orang seperti ini akan dibangkitkan dengan rasa penuh penyesalan.

Hazrat Ibnu Umar RA, memberi nasehat :

“Ketika kamu dipagi hari janganlah menunggu waktu malam, ketika kamu dimalam hari janganlah kamu menunggu waktu pagi. Persiapkan dirimu untuk masa sakitmu ketika masih sehat dan persiapkan bekalmu untuk mati ketika kamu masih hidup.”

Jadi jangan menunggu-nunggu lagi dalam beramal kapan ada waktunya kerjakan, karena waktu ke depan tidak ada jaminannya. Sahabat Saad bin Abi Waqqash RA ditanya Nabi bagaimana dia sholat ? Saad RA menjawab saya sholat Ashar seakan-akan saya tidak akan dapat hidup sampai Maghrib. Saya sholat maghrib seakan-akan saya tidak akan hidup sampai waktu Isya, dst. Bahkan ada Sahabat yang berkata saya salam kekanan seakan-akan saya tidak bisa salam ke kiri. Itupun masih dibilang panjang angan-angan oleh Rasullullah SAW.

Hari ini dibagi  3 :

Hari Kemarin à Tidak akan kembali lagi sampai kapanpun

Hari Esok à Tidak ada jaminan masih hidup

Saat Ini à Waktu terbaik untuk beramal

Ali RA berkata :

Jika hari ini sama dengan hari yang kemarin, rugi namanya.

Jika hari ini lebih buruk daripada hari kemarin bangkrut namanya

Jika hari ini lebih baik dari hari kemarin, ini baru beruntung

“Demi Masa, Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian kecuali orang yang beriman, beramal sholeh, dan yang saling nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.” ( Al Ashr : 1-3 )

Menurut Allah semua manusia dalam keadaan merugi karena mereka tidak bisa memanfaatkan waktu dalam beramal. Amal dalam waktu yang telah lewat tidak akan bisa dapat ditebus, kita hanya dapat beramal untuk waktu yang sekarang. Waktu yang akan datang tidak ada jaminan. Di Akherat nanti adalah tempat orang menyesal, walaupun orang beriman dan beramal sholeh mereka juga akan menyesal. Karena jika mereka menyadari nilai Iman dan Amal maka semua tidak akan pernah punya waktu untuk keduniaan lagi. Ada kisah tentang tiga orang murid yang diperintahkan oleh gurunya untuk pergi ke gunung lalu masuk kedalam goa yang ditunjuk oleh gurunya. Namun sebelum masuk kedalam goa gurunya sudah mengingatkan apapun yang kalian ambil tidak akan ada manfaatnya, tetapi ambil sebanyak-banyaknya apa yang kalian bisa ambil didalam. Lalu ketiga murid itu masuk ke dalam goa yang gelap itu dengan meraba-raba:

Murid pertama tanpa banyak pikir sami’na wa atho’na, saya dengar saya taat aja, maka dia masukin kedalam seluruh kantong bajunya batu-batuan dari dalam goa sebanyak-banyaknya.

Murid yang kedua berpikir, “Untuk apa saya bawa sesuatu yang tidak berguna, tapi biarlah saya ambil satu batu ini saja biar dia senang.”

Murid yang ketiga berpikir, “Untuk apa saya bawa sesuatu yang tidak ada gunanya didalam goa ini.” Akhirnya ia memutuskan untuk tidak membawa apa-apa.

Setelah mereka keluar mereka melapor kepada gurunya dan goa itu di tutup oleh batu yang didorong dari atas bukit hingga tertutup:

Murid pertama ketika ditanya membawa apa, lalu dia keluar dan melihat ternyata batu-batuan yang dia bawa adalah Emas batuan dan Intan permata. Melihat ini dia menyesal tidak ambil lebih banyak lagi.

Murid kedua melihat ini dia langsung menangis dan lari ke pintu goa untuk membukanya ternyata tidak bisa, dia menjerit menyesal hanya membawa satu bongkah batu.

Murid yang ketiga melihat kejadian ini langsung pingsan.

Inilah dunia gelap sehingga kita tidak tahu nilai Amal. Nanti setelah di kubur baru kita menyesal tentang amalan kita. Apa saja yang mereka sesalkan :

1.             Kenapa tidak beramal ketika itu juga ( hanya dapat niat ) ?

2.             Kenapa tidak lebih berat lagi ujiannya ?

3.             Kenapa tidak lebih baik lagi pemberiannya ?

Kenapa tidak lebih jauh lagi ( hijrah / jihadnya ) ?

Untuk perkara ini kita jangan buang-buang waktu lagi, jangan kita tunda-tunda dalam beramal. Jangan hanya minta Rejeki saja agar dipercepat, tetapi giliran diperintahkan untuk beramal kita malah tunda-tunda. Yang namanya mati kita tidak tau kapan menjemput, tiba-tiba kita sudah berada di dalam kubur tanpa membawa amal. Kini umat bisanya cuman do’a minta Iman tetapi tidak ada usaha atas Iman. Ini seperti seseorang yang sholat didepan hajar aswat pada malam Laitul Qadar minta untuk diberikan anak tetapi tidak mau kawin, maka ini tidak mungkin terjadi. Kasihan Sahabat buang darah, tinggalkan keluarga, korban harta dan diri demi Iman ada dalam diri mereka dan dalam diri setiap orang. Jika hanya dengan duduk-duduk saja Iman dapat datang, mendingan para sahabat berdo’a saja toh do’a mereka lebih di dengar atau lebih ijabah dari kita. Iman ini akan datang jika kita ada usaha atas Iman, dan ada do’a kepada Allah. Bukan hanya dengan do’a saja, tapi kita harus buat target bagaimana kita mau dipanggil Allah nanti ketika mati. Ini karena Allah akan bangkitkan kita sebagaimana kita nanti akan dimatikan. Orang yang mati dalam keadaan bermaksiat maka dia akan dibangitkan sebagai orang yang bermaksiat kepada Allah. Orang yang mati dalam keadaan menjalankan perintah Allah maka ia akan dibangkitkan bersama-sama dengan orang yang taat kepada Allah dan Rasulnya. Kita tinggal pilih, jalan ini hanya ada dua yaitu jalan menuju Surga atau jalan ke Neraka, Jalan Nabi atau Jalan Setan. Hanya dengan cara Nabi SAW kita dapat berjalan menuju Surga. Jika tidak mau ikut maka pasti dan pasti kita akan tersesat dan berakhir di neraka. Untuk perkara ini kita perlu pergi di jalan Allah, jangan kita tunda-tunda lagi dan jangan sampai kita menyesal, tiba-tiba bangun sudah dikubur.

Sources : http://buyaathaillah.wordpress.com/sifat-dalam-amal/

MARHABAN YA RAMADHAN DISAMPAIKAN OLEH MENTERI AGAMA RI

puasa

 

MARHABAN YA RAMADHAN
DISAMPAIKAN OLEH MENTERI AGAMA RI
PADA ACARA CERAMAH MENJELANG SHALAT TARAWIH
Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu`alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
Pertama-tama marilah kita memanj atkan puji syukur alhamdulillah ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat dan rahmatNya kita semua pada malam hari ini dapat bersama-sama hadir untuk menunaikan ibadah Shalat Tarawih Berjama’ah di malam pertama bulan suci Ramadhan, bulan yang mulia, bulan yang penuh berkah dan ampunan dari Allah SWT, di Masjid Istiqlal yang megah dan kita banggakan ini. Shalawat dan salam senantiasa kita curahkan keharibaan Baginda Nabi Besar Muhammad SAW sebagai nabi akhir zaman dan rahmat bagi seluruh alam, yang dengan risalahnya telah membawa kehidupan umat manusia dari alam kegelapan menuju alam pencerahan dan kebahagiaan.
Para hadirin yang berbahagia.

Pada hakekatnya makna puasa adalah menahan jiwa dari gejolak syahwat, menyapihnya dari hal-hal yang disenangi dan menundukkan kekuatan nafsu, agar jiwa siap menjemput dan menerima tujuan kebahagiaan dan kenikmatan yang hakiki dari Allah SWT, dan jiwa bisa menerima kesucian kehidupan yang abadi.
Setiap orang yang berpuasa pasti menanggung rasa lapar dan dahaga. Keadaan yang demikian itu dapat mengingatkan kita semua akan kesusahan fakir miskin yang senantiasa kelaparan dan kekurangan. Puasa juga dimaksudkan untuk menyempitkan jalan setan pada diri hamba-Nya yang shaleh, yaitu dengan menyempitkan jalan makanan dan minuman, menghambat kekuatan tubuh yang bergelora agar tidak bebas menuruti tabiat hayawaniyahnya yang bisa merusak kehidupan dunia dan akheratnya. Puasa adalah tali kendali bagi orang yang taqwa, tameng baju besi di badan mujahidin dan sebagai latihan bagi orang orang yang ingin mendekatkan diri kepada Allah. Puasa adalah bagi Allah SWT bukan bagi hamba-Nya.

Abu Hurairah ra berkata, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
Artinya: ” Allah SWT berfirman, setiap amal anak adam adalah untuk dirinya sendiri, kecuali amal puasa, Karena sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya. Dan puasa itu bagaikan perisai. Apabila kalian sedang berpuasa, maka jangan berkata kotor dan kasar “(Hadits Riwayat Bukhari).

Orang yang berpuasa akan pantang melakukan sesuatu yang terlarang dan meninggalkan kenikmatan syahwat demi Dzat yang disembahnya bukan demi dirinya sendiri. Orang yang berpuasa akan meninggalkan hal hal yang disenangi jiwa dan kenikmatan raga karena semata-mata mementingkan cinta kepada Allah dan mengharapkan keridhaan-Nya.
Puasa juga merupakan hubungan rahasia antara hamba dengan Rabnya, yang tidak dapat diketahui orang lain kecuali oleh hamba itu sendiri dan Rabbil ‘Izzati. Orang lain hanya bisa mengamati secara lahiriah bahwa is meninggalkan makan dan minum. Tetapi niat makan dan minum karena mengharap ridha-Nya merupakan perkara yang tidak dapat diketahui oleh orang lain. Puasa mempunyai rahasia yang menakjubkan dalam memelihara anggota tubuh yang tampak dan pemeliharaan kekuatan batinnya, menj aganya dari pencampuradukan unsur yang merusak puasa, yang andaikan unsur ini lebih dominan, maka bisa merusak puasanya yang sekaligus juga menjaga unsur kotor yang bisa menghambat kesehatannya.

Dengan demikian, puasa dapat menjaga kesehatan hati dan badan, mengembalikan apa yang telah direnggut hawa nafsu, kemudian dikembalikan untuk kemaslahatan jasmani dan rohani.
Para hadirin yang berbahagia.

Indonesia sebagai negara dan bangsa yang besar tentu mempunyai tanggung jawab yang besar pula dalam tatanan kehidupan berbangsa di tingkat nasional maupun internasional. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar didunia, mata dunia senantiasa di arahkan ke Indonesia untuk menunggu kiprah Indonesia dalam memperbaiki tata kehidupan dunia baru yang penuh kedamaian dan ketenteraman.

Untuk dapat mewujudkan perbuatan baik dalam skala besar dan memiliki jangkauan luas itu, tidak mungkin hanya dilakukan oleh beberapa orang saja, tetapi memerlukan pembaharuan tekad dan niat serta kerja keras kita semua. Dengan kesatuan dan persatuan yang utuh dan bulat, tidak ada suatu upaya yang tidak dapat dilaksanakan, tidak ada cita-cita yang tidak tercapai. Kuatnya suatu bangsa harus ditopang dengan kesatuan dan persatuan rakyatnya.
Untuk menumbuhkan gairah masyarakat dalam membangun negara ini, maka semangat untuk melanggengkan dan membiasakan berbuat baik untuk kepentingan bersama perlu terus kita berikan dorongan. Oleh karena itu, peningkatan pelaksanaan ibadah dan aural shaleh di bulan Ramadhan dalam bentuk shalat tarawih berjamaah, membayar zakat, infaq, shadaqah, bersilaturahmi, dan saling memaafkan menjadi sangat relevan untuk terciptanya masyarakat Indonesia yang aman, tentram dan damai.

Rasulullah SAW telah memberikan kunci kepada kita bagaimana menata dunia yang kuat, sebagaimana sabdanya:
Artinya: “Kuatnya suatu negara karena adanya kesatuan empat unsur; yang pertama, dengan ilmuanya para ulama (cerdik pandai), kedua, dengan keadilan pemerintah, ketiga dengan dermawannya para hartawan, dan keempat dengan do’anya orangfakir”.

Apabila keempat unsur tersebut bersatu padu insya Allah Indonesia dalam waktu yang tidak lama akan pulih dan berjaya kembali sebagai negara yang aman, makmur, sejahtera, adil dan merata, lahir maupun batin.
Para hadirin yang berbahagia,
Demikianlah uraian singkat saya dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan tahun 1427 H. Sekali lagi kami mengajak kepada seluruh anggota masyarakat dan komponen Bangsa Indonesia untuk memanfaatkan bulan suci Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya.

Marilah kita isi bulan Ramadhan ini dengan berbagai amal shaleh serta niat yang ikhlas dan kerja keras membangun negara kita untuk mencapai ridha Allah SWT.
Selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan, semoga puasa kita diterima oleh Allah SWT. Amin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Menteri Agama RI
ttd
Muhammad M. Basyuni

Sources : www.kemenag.go.id/file/dokumen/Sep061.pdf

 
 

 

Mencintai Nabi Muhammad Saw Melalui Sunnahnya

sunnah2

Sunnah menurut bahasa berarti metode, jalan dan tingkah laku; baik atau pun buruk. Al-Hafidz Ibnu Rajab berkata,” Sunnah adalah jalan atau cara yang dijadikan mata rantai tingkah laku, yang mencakup konsistensi dengan apa yang dikerjakan oleh Rasulullah saw sendiri dan juga para pewarisnya dari khulafaur-Rasyidin baik dalam hal berakidah, berbuat dan berkata. Itulah yang disebut dengan sunnah yang sempurna”.

Akhir-akhir ini di kalangan umat Islam terutama kawula mudanya mulai muncul gejala positif untuk menghidupkan kembali sunnah Nabi yang cukup lama dilupakan. Mereka seolah tidak terpuaskan secara bathiniyyah oleh amalan-amalan Islam yang dirasakan mulai mengering dari nilai-nilai ruhiyyahnya. Mereka dengan penuh semangat mengkaji jejak perilaku yang pernah diperagakan oleh Rasulullah saw tanpa dibatasi oleh sekat wajib, sunnah dan makruh. Asalkan pernah dijalankan dalam kehidupan Rasulullah saw, mereka segera berusaha merealisasikan dalam kehidupannya sehari-hari. Mereka misalnya, mulai gemar mengenakan gamis, memelihara jenggot dan mencukur kumis. Dalam adab bergaul, berkomunikasi dan makan pun mereka betul-betul berusaha melakukannya seperti cara Nabi.

Kelihatannya agak aneh memang dan tidak lazim tapi biasanya mereka sudah siap mental untuk menjadi perhatian khalayak. Namun, tidak jarang pula, mereka dipandang sebelah mata oleh tokoh-tokoh yang menganggap dirinya moderat. Mereka dianggap tidak mampu menerjemahkan esensi ajaran Islam. Terjebak pada dimensi formal dalam pemahaman dan praktek Islam zaman Rasulullah.

Sebenarnya, kita tidak perlu memberi komentar-komentar yang tidak berguna, apalagi jika komentar itu bernada miring dan menyindir. Biarkan saudara-saudara kita menghidupkan sunnah Rasulnya sesuai dengan persepsi yang diyakininya. Bukankah perilaku mereka tidak sampai mengganggu ketertiban umum? Malah bisa menimbulkan rasa cinta yang mendalam kepada Rasulullah saw, sehingga untuk selanjutnya diharapkan mereka mampu melaksanakan ajaran Islam secara kaffah.

Di zaman para sahabat, kejadian meniru perilaku Nabi hanya karena rasa cinta, begitu banyak. Salah satunya malah cukup unik, salah seorang sahabat Nabi setiap kali hendak menaiki kendaraannya, baik ada orang atau tidak ada, selalu tersenyum. Ketika sahabat yang lain bertanya tentang kelakuan yang dianggap aneh itu, ia menjawab, “Aku sering melihat Rasulullah setiap akan naik kendaraannya, selalu tersenyum, aku hanya ingin menirunya”. Beberapa waktu sebelumnya, sahabat ini memang kehilangan mutiara yang sangat dicintainya, yakni wafatnya Rasulullah saw.

Walaupun tersenyum setiap akan naik kendaraan bukan merupakan perintah, tetapi sahabat melakukannya juga demi cintanya kepada Rasulullah. Ia ternyata berusaha tidak meremehkan hal-hal kecil yang pernah dilakukan oleh Rasulullah semasa hidupnya. Bukankah Allah sendiri tidak pernah menganggap sepele keberadaan seekor nyamuk sekalipun. “Sesungguhnya Allah tiada merasa malu membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu sekalipun”.(QS,2:26)

Amalan-amalan sunnah memang terkesan biasa dan sepele tapi ternyata sangat sulit membiasakan diri dengan amalan tersebut. Tidak sesederhana yang dibayangkan. Rasulullah pernah mengatakan bahwa suatu saat orang yang berpegang teguh dengan sunnahku ia bagaikan orang yang memegang bara api. Benar. Pada zaman seperti sekarang ini amalan sunnah sangat mudah ditinggalkan begitu saja oleh sebagian umat Islam. Alasannya, bukankah menurut definisi, sunnah itu ialah amalan yang bila dikerjakan akan mendapat pahala dan bila ditinggalkan tidak berdosa?, bisikan itu bertambah lengkap bila hati seolah berkata bahwa sekalipun tidak menjalankan amalan sunnah yang penting amalan wajib tidak ditinggalkan.

Keyakinan seperti itu kelihatannya ‘no problem’ namun dampaknya luar biasa berbahaya. Apalagi bila terhadap amalan makruh, kita pun ikut-ikutan meremehkannya. Sehingga di saat ada seseorang yang menegur, misalnya; mengapa anda merokok?. Maka seketika akan keluar berbagai macam alasan dan dalih pembenaran; lho memang kenapa, merokok kan tidak haram! hanya makruh saja. Lagi pula, banyak koq kyai atau ulama yang merokok?
Atau alasan lainnya: waduh kalau saya tidak merokok saya tidak bisa berpikir dengan baik..! Wal’iyadzu Billah.

Bahaya yang bisa timbul dari asumsi seperti di atas ialah pelecehan terhadap amal-amal shaleh yang pernah dilakukan oleh Rasulullah secara istiqamah selama bertahun-tahun. Pelecehan itu berakibat kesombongan dan ketakabburan dari yang bersangkutan. Sementara Nabi Muhammad Saw yang jelas-jelas berkualitas surgawi saja tidak pernah menganggap bahwa amalan wajib saja yang perlu dikerjakan, sedangkan yang sunnah tidak apa-apa ditinggalkan.

Bila seseorang meninggalkan amalan sunnah dan mengerjakan amalan makruh tanpa diikuti suatu komentar bernada melecehkan, maka barangkali Allah masih bisa memaafkannya, tetapi lain jika sudah menganggap enteng, dalam hal ini Allah bisa murka, bukan karena meninggalkan dan menjalankan yang makruh, tetapi karena sikap sombong dan pelecehannya itu.

Padahal bila kita telusuri, kerugian besar akan menimpa bila amalan-amalan sunnah kita tinggalkan dan amalan makruh dilakukan. Bahkan taruhannya iman kita sendiri. Memang meninggalkan amalan sunnah tidak berdosa hukumnya, tetapi bisa saja Rasulullah tidak simpati dengan perilaku kita itu, karena amalan sunnah disebut pula amalan mustahabbah, artinya amal yang dicintai Allah. Seolah-olah bila amal sunnah yang kita kerjakan terbayang Allah tersenyum kepada kita karena dia cinta dan ridha melihatnya. Semakin sering mengerjakan amalan sunnah, semakin sering pula Allah tersenyum cinta kepada kita. Padahal senyum cinta Allah amat kita butuhkan dalam kehidupan kita di dunia ini, dari sanalah limpahan sakinah dan kebahagiaan akan kita dapatkan. Sedangkan murka Allah akibat menganggap enteng amalan-amalan sunnah akan menimbulkan limpahan keresahan jiwa dan kekeringan hati nurani.

Karenanya, amat bijaksana bila kita lebih dahulu mengajak diri sendiri menebarkan sunnah-sunnah Nabi. Sebab dengan begitu peluang kita untuk memperoleh cinta Allah sangat terbuka lebar. “Katakanlah jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku (Muhammad) niscaya Allah akan pula mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.(Q.S ; 3 : 31).
Wallahu a’lam.

 

 

Sources : http://penulis165.esq-news.com/2013/artikel/08/01/mencintai-nabi-melalui-sunnahnya.html